Loading...
EKONOMI
Penulis: Putu Ayu Bertyna Lova 15:21 WIB | Selasa, 06 Agustus 2013

Azas Cabotage Beri Dampak Positif Bagi Sektor Maritim

Azas Cabotage (dok: Indo Maritim Institute)

JAKARTA, SATUHARAPAN.COM - Penerapan azas cabotage yang telah dibentuk selama tujuh tahun, hingga tahun 2012, oleh Kementerian Perindustrian telah membawa dampak positif bagi sektor maritim. Azas ini dinilai dapat meningkatkan kontribusi sektor pengangkutan laut terhadap pembangunan nasional, baik terhadap peningkatan jumlah armada, penguasaan atas pangsa muatan domestik hingga fasilitas pembiayaan.

Azas cabotage adalah kewajiban seluruh kapal-kapal niaga yang beroperasi di lingkungan perairan Indonesia, agar wajib menggunakan bendera Indonesia, guna memperkuat armada perdagangan nasional.

“Semenjak diberlakukannya azas tersebut, jumlah armada kapal mengalami perkembangan yang cukup signifikan,” kata Dirjen Industri Unggulan Berbasis Teknologi Tinggi (IUBTT), Budi Darmadi.

Berdasarkan data Kemenperin, pada tahun 2005, jumlah armada kapal nasional sebanyak 6.041 unit. Jumlah ini mengalami peningkatan pada tahun 2012, menjadi 11.547 unit. Perkembangan jumlah armada kapal tersebut mengindikasikan bahwa sektor angkutan laut masih mempunyai prospek yang cukup bagus.

“Dalam rangka kerjasama perdagangan internasional, keberadaan armada kapal merupakan tulang punggung kegiatan ekspor-impor, sehingga harus dapat diberdayakan agar kesempatan yang ada dapat dimanfaatkan dengan optimal,” lanjut Budi.

Terkait dengan azas cabotage ini, kedepan tugas berat yg akan dihadapi adalah meningkatkan kemampuan angkut armada tersebut mengingat sebagian besar telah berusia tua. Untuk itu harus diprogramkan penggantiannya dengan program yang mengarah kekemandirian yg seoptimal mungkin memanfaatkan industri galangan kapal nasional untuk membangunnya.

Industri domestik merupakan peluang bagi industri perkapalan nasional untuk menjadi mandiri. Pembelian kapal bekas hanya menguntungkan negara lain. Dalam hal ini dituntut rasa nasionalisme dari seluruh pemangku kepentingan. Baik pengguna kapal, perbankan, instansi pemerintah dan industri pembangun kapal  nasional, semuanya harus saling bersinergi lanjut Budi.

Editor : Yan Chrisna


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home