Loading...
INSPIRASI
Penulis: Tjhia Yen Nie 00:00 WIB | Kamis, 23 Januari 2014

Banjir... banjir...!

Melintasi banjir (foto: Dedy Istanto)

SATUHARAPAN.COM – Menyadari  hujan turun tanpa henti seharian membuat saya bertanya, ”Ada apakah gerangan?” Kilat dan petir mengiringi bersahutan kadang diselingi badai angin seakan hendak mengatakan sesuatu dalam bahasa alam. Apakah ini hanya fenomena alam ataukah Yang Mahakuasa sedang mengatakan sesuatu kepada manusia?

Banjir melanda beberapa tempat di Indonesia, terutama Jakarta yang menjadi sorotan karena Jakarta adalah jantung pemerintahan Indonesia, diberitakan kerugian akibat banjir di Jakarta sudah mencapai ratusan milyar rupiah.  Selain menayangkan berita banjir, media massa pun menayangkan pendapat-pendapat ahli dan pejabat seputar banjir. Ketika seorang mengatakan banjir disebabkan curah hujan tinggi, seorang lain mengatakan bukan karena hujannya, tetapi karena tampungan airnya yang berkurang, lalu kritik dan ketidakpuasan saling bersahutan mendampingi suara petir dan gemuruh hujan yang terjadi.

Air adalah kebutuhan pokok manusia yang bersifat jujur.  Dia mengalir ke tempat yang lebih rendah. Dia dapat meresap ke pori-pori tanah. Dia tidak memandang miskin-kaya, tua-muda, sehat-sakit, berpangkat, berpendidikan atau tidak penduduk yang dilewatinya. Air hujan dihasilkan dari proses kondensasi awan, dan awan terbentuk dari evaporasi air.

Seorang teman dari Bogor menulis di facebooknya: ”Mengapa Jakarta banjir orang Bogor yang disalahkan?”  Dipikir-pikir memang apa salahnya penduduk Bogor atas banjir Jakarta. Penduduk Bogor ada yang membuang sampah sembarangan, penduduk Jakarta pun ada.  Jakarta hujan, Bogor pun hujan.

Seorang teman yang rumahnya kebanjiran mengatakan tiap Januari tamu tak diundang selalu datang ke rumahnya, yaitu air.  Saya jadi teringat ketika masa kecil saya, nenek buyut saya—yang  selalu menantikan datangnya imlek—mengatakan bahwa hujan turun sampai imlek datang.  Kalau rutinitas yang sama, hujan dan banjir selalu terjadi di bulan yang tidak berbeda jauh juga, mengapa manusia tidak belajar mengantisipasinya, tetapi malah saling menudingkan tangan siapa yang bersalah? Ataukah Yang Mahabesar sedang mengajar kita untuk lebih menghargai ekosistem kita?

Editor: ymindrasmoro

Email: inspirasi@satuharapan.com


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home