Loading...
LAYANAN PUBLIK
Penulis: Kartika Virgianti 08:30 WIB | Selasa, 11 November 2014

Basuki Minta Swasta Transfer Pengetahuan ke Dinas UMKM

Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama meninjau lokasi pembangunan kios untuk tempat relokasi ratusan PKL penjual makanan di IRTI Monas, Jakarta Pusat, Senin (10/11). (Foto: Kartika VIrgianti)

JAKARTA, SATUHARAPAN.COM – Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama akan meminta pihak swasta yang membangun tempat relokasi pedagang kaki lima (PKL) untuk melatih PKL, sehingga ke depannya akan terjadi transfer pengetahuan ke Dinas Koperasi Usaha Mikro Kecil Menengah (KUMKM). Selanjutnya KUMKM sendiri diharapkan mampu membina PKL.

Saat meninjau lokasi pembangunan kios untuk tempat relokasi ratusan PKL penjual makanan di IRTI Monas, Jakarta Pusat, Senin (10/11) Basuki menegaskan mewajibkan pihak swasta selama lima tahun melatih para PKL dan juga hal lain terkait operasionalnya. Apabila masa tanggung jawab swasta telah selesai, di mana mental teratur sudah dimiliki para PKL, pengelolaan tersebut nantinya bisa dilanjutkan Dinas KUMKM DKI Jakarta. 

“Jadi ini bentuk CSR dari Rekso Group, di mana pihak swasta ini bukan cuma membangun, Pemprov DKI juga mewajibkan mereka selama lima tahun terus-menerus transfer knowledge  untuk teknologi baru ini kepada para PKL, supaya setelah itu bisa dilakukan oleh Dinas KUMKM kita,” kata Basuki saat meninjau lokasi kios yang masih setengah jadi itu.

Teknologi baru yang dimaksud Basuki bukan hanya cara memasak dan pemahaman akan higienitas saja, melainkan juga cara membayar menggunakan e-money yang mewajibkan PKL memiliki rekening Bank DKI.

Sedangkan untuk pengawasannya juga akan dibantu oleh Pemprov DKI melalui jajaran dinas terkait seperti Dinas KUMKM, Satpol PP dan dinas lainnya.

“Kita tidak mau CSR bangun lalu menyerahkan begitu saja kepada Pemprov DKI, pasti akan berantakan lagi. Apabila ada pihak swasta yang ingin memberikan CSR-nya dengan membangun fasilitas semacam ini, maka akan diwajibkan sekaligus melatih PKL,” kata dia.

Basuki menilai kalau tidak diwajibkan seperti itu, bisa-bisa terjadi lagi seperti kejadian yang lalu, ketika banyak oknum PKL yang malah menjual kios kepada PKL baru dengan harga yang lebih tinggi.

“Nanti yang jualan di sini akan dilatih tidak boleh pakai bahan kimia berbahaya dan menjaga kebersihannya. Yang paling penting mencegah jangan sampai ada oknum PKL melakukan jual beli kios. Jadi nanti kalau PKL sudah kaya, tidak mau dagang di sini lagi, akan disewakan lagi untuk PKL yang baru memulai usahanya,” tegas Basuki.

Dia juga mengatakan bahwa model seperti ini akan dibangun di banyak tempat fasilitas umum di Jakarta, seperti di waduk dan taman kota. Dengan demikian PKL bisa benar-benar terlatih mulai dari cara memasak sampai packaging (pengemasan), dan keterampilan lainnya.

Basuki memastikan pelatih PKL akan diberikan oleh chef (juru masak) berpengalaman, dan peralatan yang terdapat di kios semuanya terbuat dari aluminium misalnya wastafel, meja penyajian, wadah makanan. Serta terdapat fasilitas penting lainnya seperti kompor, listrik, air dan saluran pembuangan limbah selayaknya.

Sementara semua biaya pembangunannya berasal dari pihak swasta yang diperkirakan Basuki menghabiskan Rp 20 miliar. Dia berharap pembangunan kios tersebut bisa rampung pada akhir November atau Desember 2014 sesuai rencana.

Editor : Yan Chrisna Dwi Atmaja


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home