Loading...
INSPIRASI
Penulis: Hendy Hardjanto 01:00 WIB | Rabu, 06 Mei 2015

Belajar dari Mayweather dan Mourinho

Pentingnya disiplin dalam melaksanakan rencana demi rencana dengan konsisten.
Reuters (Steve Marcus)

SATUHARAPAN.COM – Minggu (05/05/15), sebagian besar pecinta tinju dunia menyaksikan duel akbar tahun ini: Floyd Mayweather Jr. melawan Manny Pacquiao. Duel termahal ini memberikan kemenangan untuk Floyd Mayweather Jr. Namun, banyak yang kecewa dengan keputusan tiga juri yang memberikan kemenangan mutlak untuk Mayweather. Publik menganggap bahwa Pacquaio lebih layak menang karena terlihat jauh lebih agresif, sedangkan Mayweather hanya ”lari-lari” saja sepanjang pertandingan.

Namun, berdasarkan liputan CNN Indonesia, opini publik berbeda dengan statistik. Berdasarkan statistik pertandingan, Mayweather melontarkan 6 pukulan lebih banyak dari Pacquaio, yang hanya melontarkan 429 pukulan.  Untuk pukulan jab, Mayweater berhasil melayangkan 267 pukulan; yang berarti 74 pukulan lebih banyak dari Pacquaio. Dan dari total pukulan yang berhasil masuk pun, Mayweather lebih unggul 148 pukulan dari Pacquaio, yang hanya sukses memasukkan 81 pukulan.

Banyak orang menganggap, apabila benar-benar bertarung, Mayweather akan kalah. Tetapi, di sinilah kita bisa belajar dari Mayweather. Dalam sesi jumpa media, Mayweather menyebutkan kemenangannya adalah berkat rencana pertandingannya. ”Saya cedera sebelum bertanding. Namun, saya menemukan cara untuk menang,” kata Mayweather. Kemenangannya disebabkan perencanaan yang matang, pengenalan yang baik terhadap lawan, fokus pada kemenangan, serta optimisme kuat.

Di sepakbola, kita pun mengenal sosok yang bertanding dengan perencanaan yang sangat matang, pengenalan pada lawan, optimis, dan fokus pada kemenangan. Sosok itu ada pada Si Kontroversial Jose Mourinho. Pelatih yang baru saja sukses membawa Chelsea meraih gelar ke-5 di liga primer Inggris tersebut  merupakan pribadi yang sangat fokus kepada kemenangan. Pelatih asal Portugal itu mampu memilih strategi tepat untuk setiap tim lawan dan demi mengamankan gelar juara. Tidak berbeda jauh dari Mayweather, terkadang strategi yang diterapkan sangatlah membosankan dan cenderung mendatangkan badai hujatan baik dari pendukung lawan maupun pendukung sendiri.  

Mayweather dan Mourinho mengajar kita mengenai fokus dan optimisme kuat untuk mencapai target dengan perencanaan matang. Seperti pepatah: ”Gagal merencanakan sama dengan merencanakan kegagalan.” Namun, terkadang rencana yang seharusnya dapat membawa kepada sasaran yang kita inginkan gagal hanya karena terusik oleh omongan orang lain—bisa jadi orang terdekat kita: sahabat, teman dekat, pasangan hidup, atau orang tua. Mayweather dan Mourinho mencontohkan suatu displin melaksanakan rencana demi rencana dengan konsisten—apa pun kata orang. Alhasil, gelar juara berhasil mereka rengkuh.

Maukah kita menang seperti Mayweather dan Mourinho?

 

Editor: ymindrasmoro

Email: inspirasi@satuharapan.com


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home