Loading...
EKONOMI
Penulis: Melki Pangaribuan 20:29 WIB | Jumat, 13 Januari 2017

BI: Penguatan Rupiah Ditopang Dana Asing Rp 9 Triliun

Ilustrasi. Seorang pedagang memegangi sapinya yang dijual di Pasar Hewan Ambarawa, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, Jumat (13/1). Kalangan pedagang setempat mengaku permintaan sapi oleh pembeli menurun antara 30-50 persen selama tiga bulan terakhir karena dipicu menurunnya daya beli masyarakat seiring meningkatnya harga sejumlah komoditas, seperti listrik, cabai, dan BBM. (Foto: Antara/Aditya Pradana Putra)

JAKARTA, SATUHARAPAN.COM - Bank Indonesia menyatakan dana asing yang masuk (capital inflow) selama tanggal 1-9 Januari 2017 yang mencapai 700 juta dolar AS atau sekitar Rp 9 triliun, menjadi salah satu penopang stabilitas kurs rupiah awal Januari ini.

"Selain itu suplai valuta asing dan permintaan dalam negeri juga masih dalam perkembangan yang baik," kata Deputi Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo di Kantor Pusat BI, Jakarta, hari Jumat (13/1).

Perry menuturkan, pasokan dana asing lebih banyak dipengaruhi perbaikan kondisi perekonomian domestik, termasuk kinerja swasta. Kinerja dunia usaha diyakini membaik karena perbaikan harga hampir seluruh komoditas.

Berdasarkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR), nilai tukar rupiah pada 3 Januari 2017 berada di level Rp 13.485 per dollar AS. Sementara, hari ini rupiah berada di level Rp 13.308 per dollar AS.

"Selain ekspor komoditas, ekspor manufaktur juga akan naik, seperti kendaraan bermotor, termasuk tesktil. Kalau kinerja ekspor itu membaik menunjukkan kegiatan ekonomi membaik," ujar Perry.

Untuk ke depannya, Perry meyakini dana asing yang masuk akan lebih menggeliat. Selain kinerja ekspor, kata dia, indikator fundamen ekonomi domestik juga lebih kokoh. Hingga awal Januari 2017, indikator seperti neraca transaksi berjalan, stabilitas kurs, dan pertumbuhan ekonomi masih mampu menarik modal asing masuk.

Cadangan devisa per akhir Desember 2016 tercatat sebesar 116,4 miliar dolar AS atau naik 4,9 miliar dolar AS dari November 2016. Sementara, defisit transaksi berjalan 2016 diperkirakan mengecil mejadi 1,8 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) dari 2,06 persen PDB pada 2015.

Untuk tekanan eksternal, sikap Bank Sentral AS Federal Reserve yang diperkiakan akan menaikkan suku bunganya sebanyak dua kali pada tahun ini sudah diantisipasi pelaku pasar, sehingga tidak menimbulkan gejolak di pasar keuangan global.

"Sikap The Fed (di notulen rapat dan pertemuan terakhir) dari hawkish jadi dovish tidak banyak direspon pasar maka itu menunjukkan apa yang dilakukan AS sudah diantisipasi pasar," kata Perry. (Ant)

Editor : Eben E. Siadari


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home