Loading...
RELIGI
Penulis: Melki Pangaribuan 05:57 WIB | Minggu, 07 Maret 2021

Bimas Kristen Akhiri Polemik dengan Cabut Buku Siswa Sejarah Gereja SMPTK

Potongan surat Bimas Kristen dan Buku Sejarah Gereja yang menjadi polemik. (Foto: Ist)

JAKARTA, SATUHARAPAN.COM – Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Kristen memutuskan menarik Buku Siswa Mata Pelajaran Sejarah Gereja Kelas VII Sekolah Menengah Pertama Teologi Kristen (SMPTK) yang sebelumnya menjadi polemik di tengah umat kristiani dan warganet.

Penarikan buku itu sehubungan surat terbuka yang disampaikan Pastor Yohanes Kopong MSF dari Keuskupan Keuskupan Novaliches-Quezon City-Metro Manila Pilipina yang ditujukan kepada Dirjen Bimas Kristen tanggal 2 Maret 2021.

Dalam surat itu Pastor Kopong MSF meminta agar menarik Buku Siswa Mapel Sejarah Gereja Kelas VII Sekolah Menengah Pertama Teologi Kristen (SMPTK) terbitan Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Kristen, karena di halaman 24 paragraf 3 terdapat tulisan yang tidak sesuai.

“Setelah dipelajari dengan seksama oleh penulis, editor, riviewer dan Ditjen Bimas Kristen pada rapat virtual terbatas tanggal 3 Maret 2021, maka diputuskan menarik Buku Siswa Mapel Sejarah Gereja Kelas VII SMPTK dimaksud dari website Ditjen Bimas Kristen, dan untuk sementara waktu dihentikan penggunaannya hingga selesai dilakukan perbaikan sebagaimana mestinya,” tulis Direktur Jenderal Bimas Kristen Direktur Pendidikan Kristen u.b Kasubdit Pendidikan Dasar, Melius Lahagu melaui surat bernomor B-103/Dj. IV/Dt.IV.II/PP.01.1/03/2021, hari Kamis (4/3/2021).

Surat Direktur Jenderal Bimas Kristen Direktur Pendidikan Kristen u.b Kasubdit Pendidikan Dasar, Melius Lahagu melaui surat bernomor B-103/Dj. IV/Dt.IV.II/PP.01.1/03/2021, yang diterima Melki Pangaribuan, hari Kamis (4/3/2021).

Sesat dan Salah Besar

Sebelumnya dalam beberapa hari terakhir ini, media sosial diramaikan oleh banyaknya postingan terkait isi dari Buku Siswa Sejarah Gereja Kelas VII untuk Sekolah Menengah Pertama Teologi Kristen yang diterbitkan oleh Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Kristen, Dikrektorat Pendidikan Kristen, Kementerian Agama Republik Indonesia.

Pada halaman 24 buku tersebut dituliskan bahwa Gereja Katolik Roma merupakan bagian dari Gereja Nestorian.

RP Yohanes Kopong Tuan MSF menilai buku yang menjadi polemik dan viral tersebut adalah sesat dan salah besar sebagai sebuah buku pegangan bagi para siswa dan juga buku pengajaran bahkan sebagai buku sejarah Gereja.

“Jelas bahwa isi dari tulisan sebagaimana tercantum dalam halaman 24 terkait Gereja Katolik Roma adalah sesat dan salah besar,” tulis Pater Kopong MSF dalam surat terbukanya, hari Selasa (2/3/2021) melalui akun facebooknya seperti dikutip satuharapan.com, hari Kamis (4/3/2021).

Menurut Misionaris yang telah bertugas di Pilipina sejak 2016 itu, isi dari buku Sejarah Gereja itu adalah sesat dan salah besar karena Gereja Katolik Roma tidak berafiliasi atau tidak merupakan bagian dari gereja lain manapun.

Pater Kopong menjelaskan, istilah Gereja “Katolik” sudah ada sejak abad awal, walau pertama kali diresmikan pada tahun 107 ketika Santo Ignatius dari Antiokhia menjelaskan dalam suratnya kepada jemaat di Syrma 8, untuk menyatakan Gereja Katolik sebagai Gereja satu-satunya yang didirikan Yesus, untuk membedakan umat Kristen dari para heretik pada saat itu yang menolak bahwa Yesus adalah Allah yang sungguh-sungguh menjelma menjadi manusia, yaitu heresi/ bidaah Docetism dan Gnosticism.

Nah Gereja Katolik yang dimaksud di sini, kata Pater Kopong, adalah Gereja Katolik yang mengakui otoritas uskup Roma, sebagai penerus Rasul Petrus. (Bdk. katolisitas.org).

“Dengan demikian ketika menjelaskan bahwa gereja Nestorian meliputi yang salah satunya adalah Gereja Katolik Roma, itu adalah sebuah kesalahan besar dan sesat karena Gereja Nestorian yang pengikutnya adalah para pengikut ajaran Nestorius,” kata Pastor Paroki Kristus Raja, Keuskupan Novaliches-Quezon City-Metro Manila itu.

Pater Kopong menjelaskan, Nestorius sendiri merupakan seorang Uskup dari Konstantinopel dinyatakan sesat dan bidaah oleh Gereja Katolik Roma dalam Konsili Efesus (431) dan Konsili Kalsedon (451).

Santo Sirilius dari Alexanderia (370) sangat berperan besar dalam melawan pengajaran sesat Nestorius terkait Yesus Kristus yang memiliki dua (2) kodrat dan dua (2) pribadi yaitu Allah dan manusia.

Pengajaran Nestorius juga memandang Maria sebagai Bunda Kristus (Christotokos) dan bukan sebagai Bunda Allah (Theotokos) karena Yesus dilahirkan Bunda Maria adalah sebagai manusia biasa (bdk. hidupkatolik.com, katolikindonesia.com dan mirifica.net)

Pastor asal Adonara-Flores Timur itu mengatakan dari fakta sejarah ini menunjukkan dengan jelas bahwa Gereja Katolik Roma adalah satu-satunya Gereja yang berdiri sendiri tanpa pernah menjadi bagian dari gereja Nestorian.

“Bagaimana mungkin Gereja Katolik Roma yang mengutuk dan menyatakan sesat serta bidaah ajaran Nestorius berbalik arah menjadi bagian dari gereja Nestorian?” tanyanya.

Tangkapan layar sebagian isi dari Buku Siswa Sejarah Gereja Kelas VII untuk Sekolah Menengah Pertama Teologi Kristen yang diterbitkan oleh Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Kristen, Dikrektorat Pendidikan Kristen, Kementerian Agama Republik Indonesia, halaman 24. (Foto: Dok. hatiyangbertelinga.com)

Dalam surat terbukanya yang tidak mewakili lembaga resmi Gereja Katolik Indonesia (Konferensi Wali Gereja Indonesia/KWI), Pater Kopong meminta kepada pihak terkait agar menarik dan merevisi kembali buku pengajaran tersebut bahwa Gereja Katolik Roma tidak pernah menjadi bagian dari gereja Nestorian.

Pater Kopong yang mengaku tidak mengatasnamakan seluruh umat Katolik Indonesia meminta kepada penulis, editor dan penerbit agar mengedepankan kebenaran fakta sejarah dalam menuliskan sejarah agama dan gereja lain.

“Jika hal-hal yang berhubungan dengan gereja atau agama lain sebaiknya menggunakan sumber yang jelas dan benar atau minimal bertanya kepada pihak atau otoritas agama tersebut. Karena di dalam buku itu ditulis Gereja Katolik Roma, maka pihak yang bisa menjadi sumber yang tepat dan benar adalah KWI,” kata Pater Kopong.

Pater Kopong berharap segala hal yang diajarkan dan dipelajari adalah untuk mencapai sebuah kebenaran berdasarkan fakta sejarah serta demi kebaikan bersama dan tidak menjadi jalan penyesatan bagi para siswa.

“Surat saya ini merupakan surat pribadi yang mengatasnamakan pribadi saya sebagai seorang umat Katolik dan juga sebagai seorang imam dalam Gereja Katolik Roma,” kata Pater Kopong.

Surat terbuka Pater Kopong ditujukan kepada Menteri Agama Republik Indonesia, Menteri Pendidikan Republik Indonesia, Dirjen Bimas Kristen Republik Indonesia, Persekutuan Gereja Indonesia (PGI), Yayasan, Kepala Sekolah dan Seluruh Guru Agama Kristen Sekolah Menengah Pertama Teologi Kristen, serta penulis dan editor Buku Siswa Sejarah Gereja Kelas VII Untuk Sekolah Menengah Pertama Teologi Kristen.

"Tidak Semua Mengakui Konsili Ekumenis"

Pakar Sejarah Gereja, RP Prof Dr A. Eddy Kristiyanto, OFM angkat bicara terkait isi Buku Siswa Sejarah Gereja Kelas VII untuk Sekolah Menengah Pertama Teologi Kristen pada halaman 24 buku itu yang menuliskan Gereja Katolik Roma merupakan bagian dari gereja Nestorian.

Profesor Sejarah Gereja itu mengatakan Nestorianisme dan Nestorius (Batrik Konstantinopel) dikutuk dalam Konsili Ekumenis di Efesus tahun 431.

“Aliran ini (Nestorianisme) dicap sebagai bidat. Tidak mungkin Gereja Katolik Roma mengikuti pandangan dan ajaran yang dikutuk oleh salah satu dari tujuh Konsili Ekumenis,” kata Prof Eddy kepada Melki Pangaribuan, hari Rabu (3/3/2021).

Biasanya, kata Prof Eddy, baik Katolik Roma maupun Katolik Ortodoks, mengakui hasil tujuh Konsili Ekumenis itu.

Ketua Program Studi Ilmu Teologi STF Driyarkara itu mengaku aneh sekali dengan pandangan pendeta emeritus Protestan yang bukunya diterbitkan oleh Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Kristen, Dikrektorat Pendidikan Kristen, Kementerian Agama Republik Indonesia.

“Saya mencoba mengerti saja, tidak semua denominasi Kristen Protestan mengakui hasil atau keputusan tujuh Konsili Ekumenis. Kelompok-kelompok Pentalostal dan Reformed, evangelis dari Amerika Utara tak mengakui hasil Konsili tersebut dan mungkin karena tidak paham dan tidak tahu menahu,” kata Imam Fransiksan itu.

Guru Besar yang pernah menjabat sebagai Ketua STF Driyarkara itu menjelaskan lebih lanjut bahwa memang ada prasasti di China (dari studi Sam Hugh Moffett, A History of Christianity in Asia, 2 jilid, Maryknoll, 2005) yang menyatakan para misionaris nestorian sudah menerobos China pada abad ke-7.

Bahkan Al-Armini (penulis abad ke-12), kata Pater Eddy, memberi kesaksian bahwa ada gereja yang dibangun di Fansur/Barus (dekat Sibolga). Mazhab gereja itu adalah nestorian.

“Jadi, kendati nestorianisme itu dikutuk dan dibenamkan dalam Konsili Efesus, tetapi aliran ini berkembang di luar wilayah gereja universal, yakni di Persia, Indian Selatan, China, bahkan Fansur,” kata penulis buku “Gagasan yang Menjadi Peristiwa, Sketsa Sejarah Gereja Abad I-XV” itu.

Sermentara itu Dirjen Bimas Kristen yang dihubungi, Rabu pagi (3/3/2021) mengatakan sedang mempersiapkan rapat dengan para penulis buku yang menjadi polemik dan viral di kalangan warganet itu.

"Nanti sore baru dirapatkan dengan para penulis dan reviewer buku, mas Melki, salam sehat," kata Dirjen Bimas Kristen Prof Dr Thomas Pentury, MSi kepada Melki Pangaribuan melalui pesan singkat, Rabu pagi (3/3/2021).

 

Kampus Maranatha
BPK Penabur
Zuri Hotel
Back to Home