Loading...
DUNIA
Penulis: Eben Ezer Siadari 17:42 WIB | Selasa, 24 Maret 2015

Cara Lee Kuan Yew Mendidik Anak-anaknya Digali Kembali

Perdana Menteri Singapura, Lee Hsien Loong (kiri) berjalan bersama mantan PM Singapura, Lee Kuan Yew, dan menteri senior emeritus, Goh Chok Tong berjalan di belakang perdana menteri. (Foto: Straits Times)

SINGAPURA, SATUHARAPAN.COM – Berbeda dengan kesan umum yang menggambarkan Lee Kuan Yew sebagai sosok yang keras dan penuntut, tidak demikian halnya Bapak Bangsa Singapura itu dalam mendidik anak-anaknya.  Walau mantan Perdana Menteri pertama Singapura itu tetap menekankan perlunya disiplin, Kuan Yew tidak mengharuskan anak-anaknya juara di sekolah, sebagaimana kesan yang umum yang disematkan kepada para orang tua Singapura umumnya. Ia hanya meminta anak-anaknya melakukan yang terbaik yang mereka bisa dan tidak menjadi beban bagi orang lain.

Hal ini diungkapkan sendiri oleh putra sulung Kuan Yew, yaitu Perdana Menteri Singapura, Lee Hsien Loong. “Saya bukan juara di kelas maupun di sekolah. Tetapi selama Anda melakukan yang terbaik dan Anda dapat mengelolanya, dengan baik, mereka (ayah dan ibu) okey,” kata Hsien Loong, menceritakan bagaimana ia dan dua adiknya, dididik oleh ayah mereka.

Hsien Loong menceritakan itu pada bulan Juni tahun 2013 dalam sebuah wawancara menjelang ulang tahun Kuan Yew ke-90 ketika kesehatannya mulai menurun. Wawancara tersebut kini diungkap kembali oleh straitstime.com, untuk menggambarkan bagaimana Kuan Yew mendidik anak-anaknya.

Mengenang masa kecilnya, Hsien Loong menggambarkan ayahnya sebagai seseorang yang selalu tahu apa yang terjadi di dalam keluarganya kendati secara fisik ia tidak selalu hadir di rumah.

“Dia seorang yang sangat teliti, ayah yang baik. Ia banyak menyerahkan pengasuhan keluarga kepada ibu saya karena dia selalu sibuk dalam politik dan tanggung jawabnya,” tutur dia.

“Namun, Anda tahu bahwa dia selalu ada disana, Anda tahu apa yang dia pikirkan dan Anda tahu apa yang dia harapkan. Sangat teliti. Dan jika dia tidak menyetujui sesuatu, ia tidak terlalu banyak bicara, tetapi Anda tahu apa maksudnya,” kata Lee.

Hsien Loong, kelahiran tahun 1952,  menjadi duda pada 1982, dan menikah kembali dengan Ho Ching tahun 1985. Ia menjadi perdana menteri Singapura pada tahun 2004, sepuluh tahun sesudah ayahnya pensiun.  Di masa kecil, ia mengenang, salah satu atraksi yang tak pernah ia lupakan adalah melihat hilir-mudik kereta, termasuk ketika suatu kali ia bersama keluarga bermalam di hotel di stasiun kereta api di Kuala Lumpur.

Namun, bagi Hsien Loong, kesempatan berbicara lebih intens empat mata dengan Lee Kuan Yew adalah ketika belajar golf. Selama bertahun-tahun bermain bersamanya, menurut dia, merupakan kesempatan untuk bertukar pikiran dengan sang ayah.

Sebagaimana umumnya nilai-nilai dalam tradisi keluarga tradisional Asia, hirarki sangat dihormati dan formalitas juga dipentingkan dalam keluarga Lee Kuan Yew. “Dia tidak terlalu demonstratif. Ia orang yang sangat serius dan kami menempatkannya dalam respek yang tinggi. Saya kira bila dibandingkan dengan hubungan  orang tua sekarang dengan anak-anak, mereka akan menggambarkannya sebagai relasi yang lebih formal,” tutur Hsien Loong.

“Sekarang saya kira orang lebih longgar dalam memperlakukan orang tua, apa yang mereka katakan, yang mereka pikirkan dan bagaimana mereka berdebat dengan orang tua. Bagi kami,  tentu, kami adalah generasi yang berbeda.”

Ia melanjutkan, sebagai  anak-anak dari Perdana Menteri, mereka diharapkan untuk berperilaku baik dan tidak membebani orang-orang di sekitar. Menurut dia, Lee juga tidak menuntut anak-anaknya untuk mencapai sesuatu menurut keinginannya orang tuanya, melainkan mendorong anaknya menekuni apa yang disukai. Jika anak-anak memiliki minat pada sesuatu, orang tua akan membantu mereka mengejar itu.

Hsien Loong sendiri, misalnya, memutuskan untuk belajar musik setelah mengambil sebuah alat perekam yang dia beli untuk salah satu saudara-saudaranya. Dari belajar membaca musik, ia memutuskan untuk memainkan klarinet di band dan, kemudian, tuba. Tapi tidak ada tekanan dari kedua orang tuanya padanya untuk mengambil les tambahan demi meningkatkan ketrampilan di bidang itu.

"Dengan cara itu, kami adalah keluarga yang santai. Tapi mereka (Lee Kuan Yew dan istri) mengharapkan kami untuk berperilaku baik dan berbicara dengan baik, tidak sembarangan, menggunakan bahasa yang benar dan tidak ada bahasa yang buruk. Saya pikir untuk hal-hal itu mereka lebih ketat daripada banyak orang tua saat ini," katanya.

Kedua orang tua mereka juga berpegang teguh pada kebijakan untuk tidak mengganggu keluarga anak-anak mereka sendiri. Meskipun demikian, ketika kedua putranya menikah, Lee Kuan Yew menyempatkan diri  memberi nasihat.

"Nasihatnya adalah tentang bagaimana untuk memiliki pernikahan yang bahagia, berbicara dari pengalaman pribadinya sendiri," kata Hsien Loong.

Pada perjalanannya, Lee Kuan Yew sering merasa sulit untuk tetap dapat berhubungan dengan anak-anaknya yang sudah berkeluarga itu.

"Ketika kami pergi jauh, ia akan menulis surat kepada kami. Dan ibu akan menulis kepada kami setiap minggu. Dan saya akan membalas suratnya kembali, "kenang PM Lee.

Surat ibunya ditulis tangan sedangkan ayahnya menulis surat dengan mesin ketik. "Suratnya didiktekan, diketik, dengan spasi ganda atau tiga, dan kemudian ia akan memeriksa dan memperbaiki versi yang diketik itu. Lalu menambahkan hal-hal yang perlu atau menambahkan satu-dua paragraf lain pada bagian  akhir secara tertulis. Kemudian dia akan mengirimkannya kepada saya dalam bentuk itu."

Menurut Hsien Loong, surat-surat dari ayahnya bisa lima sampai enam halaman. Dan sampai sekarang ia masih menyimpannya.

"Dan, saya juga membalasnya, juga dengan surat yang panjang, setiap minggu."

Lee Kuan Yew meninggal pada usia 91 tahun setelah dirawat selama 47 hari di Rumah Sakit Umum Singapura akibat penyakit pneumonia, Senin, 23 Maret 2015.
 

Editor : Eben Ezer Siadari


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home