Loading...
OLAHRAGA
Penulis: Melki Pangaribuan 18:43 WIB | Jumat, 11 Desember 2020

Dapatkah Seseorang Alami Alergi Olahraga?

Ilustrasi (Pixabay)

JAKARTA, SATUHARAPAN.COM - Seorang pengguna TikTok bernama Kira mengaku mengalami reaksi gatal hingga sulit bernapas gara-gara berolahraga. Dokter yang pernah memeriksanya mengatakan mungkin dia alergi terhadap olahraga.

Benarkah ada yang namanya alergi olahraga?

Laporan pada tahun 1979 dalam Journal of Allergy and Clinical Immunology menggambarkan kondisi langka ini disebut anafilaksis akibat olahraga (EIA), yakni ketika seseorang bereaksi terhadap alergen dalam hubungannya dengan olahraga. Dalam laporan itu disebut EIA diperkirakan mempengaruhi sekitar 50 dari setiap 100.000 orang.

"Anafilaksis yang diinduksi olahraga adalah kejadian langka yang terjadi ketika orang mengalami reaksi alergi parah yang mengancam jiwa seperti mengi, ruam, masalah pernapasan, dan syok," kata ahli alergi dan imunologi di NYU Langone Health, Purvi Parikh seperti dilansir Health, Jumat (11/12).

Dokter spesialis kedokteran olahraga di Hoag Orthopedic Institute di Orange County, California, Brian Jin Choi mengatakan seseorang yang terkena EIA juga bisa mengalami angioedema atau bengkak, gejala gastrointestinal misalnya mual dan diare, sakit kepala dan kehilangan kesadaran.

Menurut dia, kematian akibat kondisi ini sangat jarang, namun tetap dianggap berpotensi mengancam jiwa.

Penyebab hingga penanganan

Penyebab EIA belum diketahui jelas. Namun, menurut Parikh, ada hubungan antara makanan yang dikonsumsi tiga jam setelah olahraga berat yang memicu reaksi ini.

Makanan apa pun bisa menjadi pemicunya, tetapi umumnya kerang, gandum, makanan laut, kacang-kacangan, sereal, produk susu, dan seledri. Selain itu, asupan alkohol, atau konsumsi aspirin atau obat antiinflamasi non steroid (NSAID) disebut bisa memperparah kondisi.

EIA biasanya dipicu latihan intensitas sedang dan paling sering jogging, tetapi sebenarnya bisa terjadi saat penderita melakukan latihan dengan level intensitas apapun.

"Beberapa faktor eksternal mungkin juga berperan, seperti kelembapan dan cuaca hangat atau dingin," tutur Choi.

Ada berbagai teori mengenai hal ini, salah satunya peningkatan aliran darah dalam tubuh selama olahraga menggantikan sel kekebalan yang sensitif.

Teori lainnya, beberapa protein dalam usus berperilaku dengan cara tertentu selama aktivitas fisik dan berinteraksi dengan makanan atau obat-obatan dengan cara yang menyebabkan reaksi alergi.

Dari sisi faktor risiko, EIA bisa terjadi pada semua kelompok usia, tetapi tampaknya paling umum terjadi pada remaja dan usia 20 tahun-an.

"Tidak ada kecenderungan ras yang diketahui dan tidak ada kecenderungan jenis kelamin yang jelas, meskipun dua penelitian besar telah melaporkan bahwa perempuan dua kali lebih mungkin mengalaminya daripada laki-laki," kata Choi.

Dia mengatakan, tidak ada hubungan antara tingkat kebugaran dan kecenderungan terhadap seseorang mengalami EIA karena kondisi ini biasanya muncul sporadis, tetapi beberapa kasus dilaporkan turun-temurun.

Untuk pengobatannya, mirip seperti saat mengobati anafilaksis biasa yakni menggunakan epinefrin intramuskular, antihistamin, steroid sistemik, resusitasi cairan dan perawatan suportif.

Namun, sebelum terjadi, seseorang bisa melakukan tindakan pencegahan yakni menghindari makanan atau obat yang dapat memicu gejala menjelang waktu berolahraga.

Choi merekomendasikan penderita untuk menghindari olahraga dalam cuaca panas, dingin atau lembap. Sementara itu, Parikh menyarankan untuk minum antihistamin (seperti Zyrtec) 30 menit sebelum berolahraga.

 

Kampus Maranatha
BPK Penabur
Zuri Hotel
Back to Home