Loading...
INDONESIA
Penulis: Martahan Lumban Gaol 20:31 WIB | Jumat, 19 Februari 2016

Dosen STT Jakarta: Homofobia yang Perlu Disembuhkan

Ilustrasi. LGBT. (Foto: Getty Images)

JAKARTA, SATUHARAPAN.COM – Dosen Sekolah Tinggi Teologi (STT) Jakarta, Stephen Suleeman, mengatakan kaum heteroseksual yang homofobia (memiliki ketakutan atau kebencian pada homoseksual) perlu disembuhkan. Langkah tersebut, menurutnya, lebih tepat dibandingkan mencoba menyembuhkan kaum homoseskual, baik lesbian ataupun gay.

Sebab, menurutnya, berdasarakan hasil sejumlah studi internasional selama puluhan tahun, percobaan penyembuhan homoseksual hanya menghasilkan kemudaratan.

“Organisasi, Exodus International, di Amerika Serikat mencoba menyembuhkan kaum homoseksual selama kurang lebih 30 tahun. Hasilnya, pada tahun 2013, mereka bubar. Presidennya, Alan Manning Chambers, mengatakan langkah yang ditempuhnya lebih banyak menghasilkan kemudaratan daripada penyembuhan,” kata Stephen saat ditemui satuharapan.com, di Jakarta, hari Jumat (19/2).

Bahkan, aktivis lesbian, gay, biseksual, dan transgender (LGBT) di STT Jakarta itu menambahkan, Alan Manning Chambers yang awalnya mengaku telah sembuh dan tidak lagi menyukai sesama jenis kelaminnya–ketika mendirikan Exodus International–akhirnya mengaku bahwa dirinya tidak bisa menghilangkan ketertarikan pada laki-laki.

“Jadi yang perlu disembuhkan itu orang heteroseksual yang homofobia,” kata pendeta Gereja Kristen Indonesia (GKI) itu.

Ajari Anak

Lebih lanjut, Stephen menyarankan para orang tua mengajari anaknya soal LGBT. Anak, menurut dia, harus bisa menghargai temannya yang memiliki orientasi seksual berbeda.

Pengajaran pada anak itu bisa dimulai para orang tua dengan tidak menghina kaum LGBT. “Ketika anak melihat itu, mereka juga akan belajar untuk menghargai dan tidak menghina kaum LGBT,” katanya.

Ajari mereka, teman kamu berbeda tapi hargai mereka. ortu ajari dengan tidak menghina kaum lgbt, ketika anak lihat itu mereka juga akan belajar itu.

Langkah selanjutnya, para orang tua juga harus membiasakan diri bergaul dengan kaum LGBT. Sehingga, ketika suatu saat mengetahui orientasi seksual anaknya tidak sesuai yang diharaokan tidak kaget.

“Itu hal yang tidak bisa dihindari orang tua. Kalau ternyata anaknya LGBT lantas mau diapain, masa dibunuh?” tuturnya.

Editor : Bayu Probo


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home