Loading...
INSPIRASI
Penulis: Hananto Kusumo 04:40 WIB | Minggu, 31 Juli 2016

Emang Gue Pikirin?

Dan di atas semuanya itu: kenakanlah kasih, sebagai pengikat yang mempersatukan dan menyempurnakan (Kol. 3:14)
Gara-gara harta warisan, hubungan bisa retak (foto: istimewa)

SATUHARAPAN.COM – Manusia tidak bisa hidup sendiri. Karena itu manusia disebut makhluk sosial (homo socius). Karena itu pula, kepekaan untuk memahami orang lain dan bekerja dalam tim merupakan nilai penting, tak kurang utama dibandingkan kebenaran menurut pandangan sendiri.

Tak heran jika Presiden Joko Widodo merombak kabinet dengan mengganti para menteri yang sekalipun hebat, namun lebih tepat untuk pekerjaan yang lebih mandiri. Demi sebuah cita-cita kemajuan bersama, kepekaan terhadap kebersamaan (tim) itu sering tak kalah penting dibandingkan pelbagai syariat atau aturan yang biasa berlaku.

Pada suatu waktu, seseorang datang kepada Yesus dan berkata kepada Yesus, ”Guru, katakanlah kepada saudaraku supaya ia berbagi warisan dengan aku.” (Luk. 12:13). Dalam budaya Yahudi dan umat manusia secara umumnya, wajarlah bila seseorang meminta hak waris. Namun, Yesus secara tak langsung menolak menjadi hakim atas perselisihan antar saudara itu, malah ia mengingatkan mereka agar jangan tamak, karena hidup tidak tergantung pada warisan itu.

Kenapa Yesus tidak membela hak waris orang tersebut? Kenapa Yesus tidak menegur orang yang mengambil hak waris saudaranya? Apakah memang orang tidak boleh menuntut hak waris?

Jika kita cermati perkataan Yesus, Yesus tidak meniadakan hak waris. Yesus sedang mengingatkan akan bahaya ketamakan, yakni: mengumpulkan harta buat dirinya sendiri, namun tidak kaya di hadapan Allah. Orang itu pun tidak membela diri, tidak berkata, ”Salah Guru, saya sering mengumpulkan kekayaan untuk menolong sesama!” 

Bisa jadi, orang yang mengadukan saudaranya adalah orang yang tamak. Mungkin ia sudah kaya, dan tidak pernah peduli pada sekelilingnya, juga tidak pernah mengasihi orang miskin. Mungkin juga saudaranya orang yang sangat miskin dan sebenarnya membutuhkan seluruh warisan itu. Seharusnya ia lebih mendahulukan rembug keluarga. Jika ia melandaskan tuntutan pada aturan hukum Yahudi tanpa memperhatikan dasar tujuannya, yakni kasih, maka ketaatan pada aturan yang biasa berlaku itu tidak ada artinya.

Sayangnya dunia makin menjauhkan orang dari orang-orang di sekitarnya. Orang sering bersikap ”E-ge-pe (Emang gue pikirin?)”, alias apatis terhadap sekelilingnya.  Ini yang kumau, yang kau mau e-ge-pe!  Dan situasi macam beginilah yang dikritik Sang Guru dari Nazaret.

 

Email: inspirasi@satuharapan.com

Editor : Yoel M Indrasmoro


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home