Loading...
Penulis: Eben E. Siadari 09:57 WIB | Jumat, 30 Oktober 2015

Emmy Hafild Mundur dari Greenpeace Terkait Masalah Asap

Emmy Hafild mengundurkan diri dari Greenpeace karena menganggap organisasi tersebut tidak bersikap tegas terhadap perusahaan pembakar hutan (Foto: tempo.co.id)

JAKARTA, SATUHARAPAN.COM - Mantan Direktur Eksekutif Greenpeace Asia Tenggara, Emmy Hafild, menulis sebuah surat panjang melalui akun Facebooknya yang mengumumkan pengunduran dirinya dari organisasi dunia yang bergerak adlam mengadvokasi lingkungan itu.

Alasan dirinya mundur adalah karena kecewa dengan sikap dan strategi Greenpeace dalam mengadvokasi perusahaan besar seperti Sinar Mas, APRIL, APP dan WILMAR yang terlibat dalam kebakaran lahan gambut.

"Lega sekali rasanya setelah saya memutuskan untuk berhenti menjadi supporter Greenpeace Indonesia karena saya kecewa dan marah dengan strategi constructive engagement Greenpeace dengan perusahaan besar (Sinar Mas, APRIL, APP dan WILMAR) yang terlibat dalam kebakaran lahan gambut," tulis dia dalam surat yang dilansir pada 28 Oktober 2015, dan sudah dibagikan 1.200 kali,mendapat 397 like dan komentar 123.

Menurut Emmy Hafild, tragedi asap ini merupakan persoalan besar. Telah menyebabkan 50 juta rakyat Indonesia terpapar asap, lebih dari 540 ribu orang menderita ISPA dan kerugian ekonomi ratusan triliun rupiah.

Dalam hemat dia, keterlibatan perusahaan-perusahaan besar yang bekerjasama dengan Greenpeace sudah terang benderang, menjadi fakta publik, dan menjadi isu publik yang panas selama tiga bulan terakhir.

"Tidak perlu lagi pembuktian khusus bagi Greenpeace untuk "repositioning" strategi tersebut. Opini publik sudah sangat jelas meminta agar perusahaan-perusahaan ini dihukum pidana, dicabut ijinnya dan diberi denda yang sangat besar. Greenpeace tidak perlu ragu untuk melakukan reposisi strategi ini," kata dia. Menurut dia, terbakarnya lahan-lahan perusahaan-perusahaan tersebut menunjukkan bahwa strategi "constructive engagement" yang diterapkan Greenpeace sejak tahun 2013 gagal total.

Namun, komunikasi saya dengan SMT tidak menunjukkan sensitivitas Greenpeace terhadap penderitaan rakyat Indonesia. Fakta juga menunjukkan bahwa posisi Greenpeace ini dipakai oleh perusahaan-perusahaan tersebut untuk "greenwashing image" mereka dan melemahkan posisi CSO Indonesia dalam menghadapi kekuatan kapital yang sangat besar di balik tragedi asap ini.

"Saya sudah berusaha dialog dengan representative SMT GPSEA di Indonesia, Longgena Ginting, Campaigner hutan GPI, Bustar Maitar dan Ketua GPSEA Board, ibu Suzy Hutomo. Mereka tidak bisa mengambil keputusan karena memutuskan untuk lepas dari constructive engagement ini memerlukan keputusan SMT International," kata Emmy Hafild.

"Alasan-alasan yang dikemukakan kepada saya tentang ini tidak dapat meyakinkan saya bahwa Greenpeace berada pada posisi bersama rakyat Indonesia."

Kenyataan bahwa Greenpeace sudah mendapatkan support dari rakyat Indonesia, dimana dalam beberapa tahun telah mendapatkan income lebih dari Rp 10 miliar per tahun, mengharuskan Greenpeace tidak ada pilihan lain kecuali bersama rakyat dan civil society Indonesia dalam menghadapi kekuatan kapital yang berusaha melepaskan diri dari tanggungjawab tragedi ini.

"Ibarat perang, "you are with the people or against the people". Tidak ada wilayah abu-abu, terang benderang hitam putih. Ini masalah hati nurani dan sebetulnya tidak memerlukan diskusi yang panjang untuk menentukan sikap. Tragedi asap sudah 3 bulan, sudah cukup waktu bagi Greenpeace untuk secara pro-aktif meninjau ulang strateginya dan menentukan sikap dan itu gagal dilakukan oleh Greenpeace."

"Saya juga menyerukan kepada seluruh supporter Greenpeace Indonesia untuk berhenti menjadi supporter dan meminta Greenpeace repositioning strategy constructive engagement dan bersama rakyat Indonesia dalam menghadapi tragedi. Lebih baik dana yang kita sumbangkan untuk Greenpeace secara setia setiap bulan kita sumbangkan untuk upaya mengatasi dan mencegah kebakaran lahan gambut," kata dia.

 

Editor : Eben E. Siadari


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home