Loading...
EKONOMI
Penulis: Melki Pangaribuan 14:05 WIB | Jumat, 15 Juli 2016

G20 TMM Sepakat Tingkatkan Perdagangan Global

Pertemuan Menteri-Menteri Perdagangan G-20 (G-20 Trade Ministers Meeting/TMM) di Shanghai, Tiongkok, pada 9-10 Juli 2016. (Foto: dailysabah.com)

JAKARTA, SATUHARAPAN.COM - Pertemuan Menteri-Menteri Perdagangan G20 (G20 Trade Ministers Meeting/TMM) di Shanghai, Tiongkok, pada 9-10 Juli 2016 lalu, menyepakati untuk meningkatkan perdagangan global meski tengah menghadapi kendala lambatnya pemulihan ekonomi global.

Dalam salah satu pernyataan, negara-negara G20 akan memberikan stimulus berupa tujuh langkah aksi konkret yang tertuang dalam G20 Strategy for Global Trade Growth (SGTG).

“Para menteri yang membidangi perdagangan di negara-negara anggota G20 setuju untuk bekerja lebih keras lagi agar dapat mencapai pertumbuhan yang berkelanjutan,” kata Menteri Perdagagan RI Thomas Trikasih Lembong dalam keterangan tertulis, hari Kamis (14/7).

Tom Lembong yang memimpin delegasi Indonesia pada G20 TMM menjelaskan, ketujuh langkah tersebut yakni mengurangi biaya perdagangan, memanfaatkan koherensi kebijakan perdagangan dan investasi, mendorong perdagangan jasa, meningkatkan pembiayaan perdagangan, mengembangkan trade outlook index, mendukung pengembangan e-commerce, serta menangani perdagangan dan pembangunan.

“Para menteri menyampaikan harapan agar ke depan tidak ada lagi langkah pembatasan perdagangan setidaknya hingga 2018. Selain itu, menargetkan seluruh negara anggota G20 untuk mengurangi biaya perdagangan yang salah satunya melalui komitmen penyelesaian proses ratifikasi Trade Facilitation Agreement (TFA) WTO pada akhir 2016,” kata Tom.

Tom memberikan contoh bahwa langkah yang telah dilakukan Indonesia sudah tepat bagi peningkatan pertumbuhan perdagangan dan investasi, yakni melalui paket reformasi kebijakan ekonomi yang telah berangsung 12 kali dan mulai berdampak positif terhadap pertumbuhan ekonomi.

G20 juga akan serius meningkatkan sinergi kebijakan perdagangan dan investasi global dengan menyepakati G20 Guiding Principles for Global Investment Policy Making sebagai sumbangan historis panduan non-binding tata aturan investasi yang pertama kali disepakati di tingkat internasional.

Hal ini, lanjut Tom, diharapkan dapat memberikan kenyamanan kepada investor maupun regulator, serta dapat mendorong koherensi kebijakan perdagangan dan investasi di tingkat nasional, regional, maupun internasional.

“Wakil-wakil negara berkembang juga mengedepankan seruan untuk meningkatkan partisipasi UKM dan negara berkembang pada Global Value Chains (GVCs) dengan didukung wakil-wakil organisasi internasional yang juga memandang penting isu tersebut dalam rangka inclusive growth,” kata Tom.

Menurut Tom, G20 disarankan melakukan langkah terkait regulasi, standardisasi, pengurangan biaya perdagangan, dan kemudahan berbisnis. Mengingat partisipasi negara berkembang dalam GVCs masih pada tingkat low end, beberapa saran juga disampaikan terkait infrastruktur, SDM, dan akses finansial.

Dengan dipimpin Menteri Perdagangan (Mendag) Tiongkok Gao Hucheng, para Mendag G20 menyepakati perlunya capacity building untuk mendorong GVCs yang terkoordinasi dan inklusif mencakup negara berkembang, serta yang meningkatkan kemampuan UKM dalam mengikuti standar internasional dan menjangkau teknologi.

“GVCs merupakan kesempatan bagi kita untuk membongkar proteksionisme dengan memanfaatkan proses impor dan ekspor guna mendapatkan nilai tambah. Sebagai contoh, ekspor minyak sawit Indonesia yang memanfaatkan jaringan GVCs terbukti memberikan manfaat besar bagi pengentasan kemiskinan, serta menyumbang pada pelestarian lingkungan melalui efisiensi pemanfaatan lahan,” kata Tom Lembong.

Pernyataan Mendag G-20 tersebut akan diangkat ke pertemuan tingkat G20 Leaders yang akan berlangsung di Hangzhou, Tiongkok, pada 4-5 September 2016 mendatang.

Pertemuan Bilateral

Tom juga melaksanakan beberapa pertemuan bilateral dengan beberapa negara mitra disela- sela G20 TMM hari ke-2, antara lain dengan Belanda, Turki, Arab Saudi, Uni Eropa, dan Tiongkok.

Pada pertemuan dengan Menteri Belanda Lilianne Ploumen, Tom membahas bagaimana menyikapi dampak British Exit pada relasi perdagangan Indonesia ke kawasan Eropa. Tom juga menyampaikan komitmen antara pemerintah dan swasta untuk produksi minyak sawit yang berkelanjutan.

Sementara itu, Menteri Ekonomi Turki Nihat Zeybekci juga menjajaki kerja sama perdagangan dengan Indonesia.

“Turki memiliki jaringan dagang yang kuat di daerah Afrika Utara, Timur Tengah, dan Semenanjung Balkan sehingga diharapkan dapat membuka akses pasar Indonesia yang lebih luas,” kata Tom.

Sedangkan, pada pertemuan dengan Komisioner Perdagangan Uni Eropa (UE) Cecilia Malmstrom, Tom berharap anggota UE dapat mendukung pembahasan digital economy dan e-commerce pada pertemuan G20 tahun depan di bawah Presidensi Jerman; serta mengajak UE terkait kerja sama pengelolaan sampah dan daur ulang plastik di Indonesia.

“Setelah mendapat clearance dari London, Komisioner Malmstrom menyampaikan kepada saya bahwa negoisasi formal IE-CEPA dapat dimulai secepatnya,” jelas Tom.

Sementara itu, Tom dan Menteri Perdagangan dan Investasi Arab Saudi Majid Abdullah O. Alkasabi juga saling bertukar pandangan mengenai proses reformasi yang sedang berjalan. Arab Saudi memperkenalkan Saudi Vision 2030 terkait peluang kerja sama perdagangan dan investasi. Sedangkan Indonesia menawarkan peluang bisnis dan investasi timbal balik, misalnya wisata halal dan ekonomi kreatif.

Adapun pada pertemuan dengan Menteri Perdagangan Tiongkok Gao Hucheng, Tom mengangkat tiga isu untuk ditindaklanjuti, yaitu internasionalisasi Renminbi, integrasi UKM pada e- commerce, dan kerja sama sektor perikanan.

Editor : Yan Chrisna Dwi Atmaja


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home