Loading...
HAM
Penulis: Diah Anggraeni Retnaningrum 11:11 WIB | Senin, 28 Juli 2014

Gaza Kini Tinggal Puing-puing

Masa 12 jam gencatan senjata digunakan sebaik-baiknya oleh warga Shujayea untuk kembali ke rumah mereka dan mencari barang-barang mereka yang masih bisa diselamatkan. (Foto: aljazeera.com)

GAZA, SATUHARAPAN.COM – Umm Ahmed Abu Sahwish memegang batu di tangannya. Rumah mereka kini tinggal reruntuhan. “Rumah saya sudah lenyap dan hanya reruntuhan batu-batu,” kata wanita yang berusia 65 tahun itu.

Ratusan rumah di sini telah hancur dan sisa rudal Israel yang telah meledak mengotori tanah di pintu masuk kota di ujung utara Gaza dekat perbatasan Israel. Rumah sakit lokal yang menjadi tempat menyimpan peralatan penyelamatan darurat dan beberapa infrastruktur juga mengalami kerusakan berat dari serangan Israel.

Seorang wanita lainnya, dari sebuah keluarga yang berjumlah 20 orang, menangis ketika dia mencoba untuk menggali di antara puing-puing rumahnya. “Seluruh harta kami dalam sekejap hilang dengan hanya satu dari rudal Israel. Mana bisa kami pergi? Kami tidak punya makanan, air, tempat tidur atau pakaian ekstra,” katanya.

Sepanjang mata memandang melalui jalan yang kecil ini, tanah yang ditinggali oleh 1,8 juta warga Palestina yang tingal di Gaza sepanjang 1,8 km terlihat kehancurannya di mana-mana. Perjalanan dari selatan ke utara Gaza kemungkinan hanya 12 jam selama gencatan senjata yang telah disepakati oleh Israel dan Hamas pada Sabtu (26/7) lalu.

Pada Minggu (27/7), Israel kembali melakukan operasi militernya di Gaza seperti yang telah dikatakan oleh kantor perdana menteri: “Jika warga secara tidak sengaja masuk, maka yang harus bertanggung jawab adalah Hamas mengingat bahwa mereka memiliki waktu untuk gencatan senjata yang telah disetujui Israel.”

Hamas dan faksi-faksi Palestina lainnya dilaporkan telah setuju untuk melakukan gencatan senjata kemanusiaan selama 24 jam di Jalur Gaza, mulai pukul 14.00 waktu setempat pada Minggu (27/7).

Setidaknya 1.052 warga Palestina tewas dan lebih dari 6000 orang telah terluka sejak serangan militer Israel yang dimulai pada 8 Juli lalu. Sebanyak 43 tentara Israel juga tewas bersama dengan dua warga sipil Israel dan satu orang pekerja asal Thailand.

Di Kota Gaza ada sedikit tempat untuk menyelamatkan diri.

Lingkungan timur Shujayea adalah sebuah kota hantu. Beberapa ada kabel listrik yang teriris dan telah mencuat dari puing-puing rumah. Mobil yang terbakar dan mayat-mayat yang tersebar di sepanjang jalan dan udara dengan bau busuk menyengat. “Saya berusia 45 tahun dan saya belum pernah melihat kehancuran seperti ini,” kata seorang penduduk yang tidak ingin disebutkan namanya kepada Aljazeera.

Setidaknya 120 warga Palestina tewas dan ratusan lainnya luka-luka ketika Israel membombardir Shujayea semalaman pada 21 Juli lalu. Gencatan senjata yang ada merupakan kesempatan bagi mereka untuk kembali pulang ke rumah untuk melihat keadaan dan menyelamatkan barang-barang mereka.

Sirene ambulans berbunyi, mengumumkan bahwa mereka menemukan mayat lagi yang diambil dari bawah reruntuhan. Setidaknya ada 90 mayat yang ditarik keluar dari reruntuhan di Shujayea selama gencatan senjata pada Sabtu (26/7) lalu.

“Ini lebih menyedihkan daripada Sabra dan Shatila,” kata Umm Hesham, tentang pembunuhan sekitar 2000 pengungsi Palestina di kamp pengungsi di Beirut pada tahu 1982 lalu, ketika anaknya membantu dia untuk menghindari menginjak mayat.

Di luar Shujayea, jalan al-Wehda, lalu lintas sudah tertutup. Warga sibuk dengan mencari makanan, air dan obat-obatan selama gencatan senjata. Abu Haytam, ayah dari delapan orang anak berdiri di pasar mencari pasta dan kacang-kacangan. Dia mengatakan bahwa dia tidak tahu apa yang akan terjadi dalam beberapa hari mendatang. “Tanpa listrik, kita tidak bisa membeli daging atau ayam, itu akan cepat membusuk ketika disimpan di ruangan terbuka,” kata dia.

Di dekatnya, seorang pria menjual sayuran yang dikelilingi oleh pembeli dan setidaknya ada 300 orang menunggu untuk membeli roti di toko kue Tal al-Hawa. Bank sangat ramai dikunjungi banyak orang, sementara pusat uang telegram dipenuhi dengan orang yang berteriak-teriak untuk mendapatkan uang tunai.

Ada dua jalan yang menghubungkan daerah utara dan selatan kota Gaza yaitu Jalan Saladin dan Jalan Pantai. Namun, jalur keduanya rusak karena dilewati oleh bekas tank kerang Israel dan kapal perang Israel yang melintas di jalur pantai tersebut.

Sepanjang Jalan Saladin, perusahaan susu dan pabrik minuman lokal hancur, sementara beberapa tim teknis bekerja keras untuk mengembalikan daya instalasi listrik dan air di daerah tersebut. Rumah sakit al-Aqsa di Deir al-Balah rusak setelah Israel menghantam ruang operasi dan departemen radiologi yang menewaskan lima orand dan melukai lebih dari 70 orang lainya pada 21 Juli lalu.

Di Khan Younes, sebuah lubang terbakar meninggalkan bekas di sebuah jalanan utama setelah serangan rudal Israel F16. Penduduk yang tinggal di dekatnya, Khuzaa, yang telah dibom sangat parah oleh Israel harus tidur di jalanan. Akses terhadap air sangat sulit, seorang pria yang umumnya menjual tangki air seharga USD 4 (Rp. 46.000) sekarang meminta USD 100 (Rp. 1,1 juta).

Jalan menuju Rafah yang berada di selatan ujung Gaza, juga sama-sama berbahaya.

Dua hari menjelang Idul Fitri, perayaan yang menandai akhir bulan suci Ramadan, pasar Dahra di Khan Younes sibuk dengan aktivitasnya, tetapi tidak ada yang bisa merayakan Ramadan. Kebanyakan dari pembeli hanya untuk persediaan makanan mereka selama mengungsi.

Tapi di Rafah, sebuah salon pria penuh dengan para pria yang ingin memotong rambut mereka. Semangat Ramadan memang tinggi, tapi jika berbicara sembarangan dengan cepat akan berubah menjadi cerita kematian dan kehancuran. Para pemuda juga mengkritik Mesir karena tidak membuka perbatasan Rafah yang berjarak hanya beberapa ratus meter.

“Pengepungan Israel-Mesir telah memukul setiap aspek kehidupan, suku cadang untuk mesin cukur saya sekarang tidak tersedia,” kata Abuel Bara, tukang cukur yang berusia 29 tahun tersebut. “Sebelumnya, kami biasanya membeli dari pedagang yang berada di terowongan, tetapi terowongan sekarang ditutup.”

Mesin tersebut hanya untuk memberikan pendapatan bagi dua anak perempuan, istri, orang tua dan beberapa saudara kandung,” kata dia. “Tapi Israel tidak terlihat manusiawi dalam mengangkat pertempuran.” (aljazeera.com)

Editor : Bayu Probo


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home