Loading...
RELIGI
Penulis: Sabar Subekti 17:09 WIB | Senin, 18 Maret 2024

Hampir 500 Korban Pelecehan Seksual di Gereja di Prancis Terima Kompensasi Finansial

Para uskup berlutut di halaman depan basilika Notre-Dame-du-Rosaire di tempat suci Lourdes, barat daya Prancis, Sabtu, 6 November 2021. Lebih dari 500 korban pelecehan seksual terhadap anak yang dilakukan oleh pendeta atau perwakilan gereja lainnya telah menerima kompensasi finansial dari Gereja Katolik Prancis di bawah program reparasi besar-besaran, kata badan independen yang bertanggung jawab atas proses tersebut pada hari Kamis 14 Maret 2024. (Foto: dok. AP/Bob Edme)

NICE-PRANCIS, SATUHARAPAN.COM-Ratusan korban pelecehan seksual terhadap anak-anak yang dilakukan oleh pastor atau perwakilan gereja sejauh ini telah menerima kompensasi finansial dari Gereja Katolik Prancis melalui program reparasi besar-besaran, sebuah badan independen yang bertanggung jawab atas proses tersebut mengatakan pada Kamis (14/3).

Laporan tahunan yang dikeluarkan oleh Otoritas Nasional Independen untuk Pengakuan dan Reparasi menyebutkan 1.351 korban mengajukan klaim kompensasi dan mencari dukungan psikologis dalam upaya pulih dari trauma masa kecil.

Usia rata-rata korban yang melapor adalah 61 tahun, kata Marie Derain de Vaucresson, kepala badan tersebut dalam konferensi pers hari Kamis.

Dari mereka, 66% adalah laki-laki dan 34% adalah perempuan, katanya. Proses klaim dimulai pada tahun 2022.

Sejauh ini, otoritas reparasi telah menyetujui klaim kompensasi dari 489 korban, kata laporan itu. Dari jumlah tersebut, 88 orang diberikan dana maksimum 60.000 euro (US$ 65.000). Tahun lalu, 358 klaim kompensasi korban disetujui, dan masing-masing individu menerima jumlah rata-rata 35.310 euro, kata laporan itu.

Konferensi Waligereja Perancis sepakat untuk memberikan reparasi setelah laporan tahun 2021 memperkirakan sekitar 330.000 anak mengalami pelecehan seksual selama lebih dari 70 tahun oleh para pastor atau tokoh terkait gereja lainnya di Prancis.

Perkiraan tersebut didasarkan pada penelitian yang lebih luas oleh Institut Kesehatan dan Penelitian Medis Nasional Prancis mengenai pelecehan seksual terhadap anak-anak.

Laporan tersebut menggambarkan adanya upaya menutup-nutupi secara “sistemik” yang dilakukan oleh pejabat gereja dan mendesak Gereja Katolik Prancis untuk menghormati supremasi hukum di Prancis.

Setelah otoritas reparasi menyetujui kompensasi finansial, setiap kasus dikirim ke dana khusus yang dibiayai oleh gereja untuk pembayaran.

Mayoritas dari mereka yang menghubungi pihak berwenang pada tahun 2023 melaporkan kejahatan yang “sangat serius”, kata laporan itu, termasuk pemerkosaan berulang kali.

Dalam 39% kasus, penganiayaan berlanjut selama lebih dari satu tahun dan dalam 12% kasus, pelaku memanipulasi korban secara psikologis hingga lima tahun setelah serangan fisik terakhir, menurut laporan tersebut.

Para korban berusia antara enam dan 15 tahun ketika mereka dianiaya, kata laporan itu.

Reparasi juga mencakup dukungan non-finansial – seperti bantuan bagi korban untuk menuliskan cerita mereka, pertemuan dengan perwakilan gereja lokal atau pemasangan plakat untuk mengenang para korban. Sekitar 780 korban kini dibantu oleh pihak berwenang.

Bantuan tersebut termasuk membantu menulis surat kepada pelaku kekerasan yang sudah lama meninggal atau memperbaiki hubungan yang rusak dengan anak-anak korban, pasangannya, dan anggota keluarga lainnya yang sudah dewasa.

Seringkali hanya mendengarkan para korban – sekarang berusia 60-an, 70-an, atau bahkan 80-an – akhirnya angkat bicara setelah sekian lama dibungkam. (AP)

Editor : Sabar Subekti


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home