Loading...
INSPIRASI
Penulis: Yoel M Indrasmoro 07:24 WIB | Sabtu, 06 Agustus 2016

Hanya Dialah yang Tahu

Percaya berarti memercayakan diri.
Abram percaya kepada Allah (foto: istimewa)

SATUHARAPAN.COM – ”Bila nampak olehku berjuta bintang di angkasa, ’ku tak faham yang dilukiskannya. Namun Tuhan Allahku yang menabur bintang itu, berencana di tiap karyanya.” Syair Stuart Hamblen, diterjemahkan oleh K. P. Nugroho, inilah yang terlintas dalam benak ketika membaca kembali kisah perjumpaan Allah dengan Abraham (Kej. 15:1-6).

Dalam perjumpaan itu, Abram mendengar suara Allah, ”Jangan takut, Abram, Aku akan melindungi engkau dari bahaya, dan memberikan kepadamu upah yang besar.” Sudah empat kali Allah menampakkan diri kepada Abram, dan dalam setiap pertemuan itu Allah menyatakan hal yang sama: Abram akan beroleh anak.

Tetapi, janji itu belum tergenapi. Mungkin itulah sebabnya Abram berkata, ”ALLAH Yang Mahatinggi, TUHAN tidak memberikan anak kepada saya. Orang yang akan mewarisi harta saya hanyalah Eliezer, hamba saya dari Damsyik. Jadi apa gunanya TUHAN memberi upah kepada saya?” (Kej. 15:2-3, BIMK).

Perkataan Abram itu memperlihatkan sebersit keraguan, bahkan protes, karena sepertinya Allah hanya berjanji tanpa kenyataan. Menanggapi protes tersebut, Abram menegaskan bahwa anak laki-lakinya sendirlah yang akan menjadi ahli warisnya. Kemudian Allah mengajak Abram keluar untuk melihat banyaknya bintang di angkasa. Lalu,  Allah berfirman, ”Pandanglah langit, dan cobalah menghitung bintang-bintang; engkau akan mempunyai keturunan sebanyak bintang-bintang itu.”

Penulis Kitab Kejadian tak menceritakan tanggapan Abram selanjutnya, namun mencatat: ”Abram percaya kepada TUHAN, dan karena itu TUHAN menerima dia sebagai orang yang menyenangkan hati-Nya”(Kej. 15:6, BIMK). Bisa jadi Abram hanya diam. Tak ada yang bisa dikatakan di hadapan Sang Pencipta. Pada titik ini, Abram kembali belajar untuk percaya.

Percaya bukanlah barang yang sudah jadi dari sananya. Kepercayaan dalam diri seseorang merupakan proses. Iman sangat berkait erat dengan pertumbuhan dan tidak sekali jadi. Dan setiap orang perlu belajar untuk percaya.

Meski telah empat kali Allah menampakkan diri kepada Abram, dan janji akan keturunan itu belum tergenapi, Abram belajar untuk percaya. Percaya berarti memercayakan diri kita kepada pribadi yang kita percayai. Dan Abram memercayakan dirinya kepada Allah. dan itulah yang menyenangkan hati Allah.

Mengapa Abram percaya? Sejatinya itulah jalan terlogis. Bukankah Allah mahakuasa? Bukankah Abram telah menjadikan Dia sebagai Tuannya? Dan jalan terlogis seorang hamba—yang memang tidak tahu hari depan—memang percaya penuh kepada Sang Tuan. Hanya Dialah yang tahu jalan hidup ciptaan-Nya.

”Masa yang datang tak jelas,” mengutip Stuart Hamblen, ”tapi ini t’rang bagiku: Tangan Tuhan yang atur seg’nap.” Ya, percayalah!

 

Email: inspirasi@satuharapan.com

Editor : Yoel M Indrasmoro


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home