Loading...
EKONOMI
Penulis: Bayu Probo 08:51 WIB | Selasa, 03 Desember 2013

Harga Minyak Naik Jelang Pertemuan OPEC

Tambang minyak bumi lepas pantai. (energytoday.com)

WASHINGTON , SATUHARAPAN.COM – Harga minyak mentah dunia didorong lebih tinggi pada Senin (Selasa pagi, 3/12, WIB) menjelang pertemuan OPEC Desember tentang pasar minyak, karena Arab Saudi menyatakan tidak ada perubahan pagu produksi kartel.

Data ekonomi yang kuat dari China, Eropa dan Amerika Serikat juga membantu memperkuat harga minyak, kata para analis.

Kontrak utama minyak mentah light sweet atau West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Januari, naik 1,10 dolar AS menjadi ditutup pada 93,82 dolar AS per barel di New York Mercantile Exchange.

Minyak mentah Brent North Sea untuk penyerahan Januari bertambah 1,76 dolar AS menjadi 111,45 dolar AS di perdagangan London.

“Harga telah didukung oleh angka PMI (indeks pembelian manajer) manufaktur China yang lebih baik dari perkiraan,” kata Kash Kamal, riset analis di perusahaan pialang Sucden Financial yang berbasis di London.

Data resmi pada Minggu (1/12) menunjukkan pertumbuhan manufaktur China pada November mempertahankan kecepatan yang kuat dari bulan sebelumnya menjadi berada di tertinggi dalam 19 bulan.

Sementara itu indeks pembelian manajer untuk sektor manufaktur di Eropa dan Amerika Serikat juga naik, mendukung prospek pasar sedikit lebih “bergairah”

Menjelang pertemuan Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) pada Rabu (4/12), Arab Saudi, pengekspor minyak terkemuka di dunia, mengatakan puas dengan harga minyak mentah saat ini serta tingkat pasokan dan permintaan global.

“Pasar kemungkinan berada di posisi terbaik,” Menteri Perminyakan Saudi Ali al-Naimi mengatakan kepada wartawan di Wina.

“Permintaan besar, pertumbuhan ekonomi membaik,” katanya.

“Pasokan dan permintaan berada dalam keseimbangan, persediaan berada dalam posisi yang baik,” tambahnya. “Kami berada di harga yang tepat sekarang.”

OPEC tampaknya akan bertahan di pagu produksi 30 juta barel per hari.

Sementara itu perubahan situasi dari dua anggota OPEC terus membentuk pasar.

Produksi Libya telah terpangkas di tengah meningkatnya kerusuhan. Sementara itu, Iran bisa meningkatkan ekspornya secara tajam pada tahun depan jika mencapai kesepakatan penuh dengan kekuatan Barat tentang pembatasan program nuklirnya yang akan memungkinkan pencabutan sanksi.

Arab Saudi Indikasikan Batas Produksi OPEC Tidak Berubah

Arab Saudi puas dengan harga minyak mentah saat ini serta tingkat pasokan dan permintaan global, menteri perminyakan mengatakan pada Senin, mengindikasikan bahwa OPEC tidak akan mengubah pagu produksinya.

“Pasar mungkin sedang di posisi terbaik,” kata Menteri Perminyakan Saudi Ali al-Naimi mengatakan kepada wartawan di Wina menjelang pertemuan Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) pada Rabu (4/12) untuk memutuskan besaran produksi mereka.

“Permintaan besar, pertumbuhan ekonomi membaik,” kata Naimi, yang mewakili produsen minyak mentah terbesar di dunia.

Selusin negara anggota OPEC dari Timur Tengah, Afrika dan Amerika Latin secara bersama-sama menghasilkan sekitar sepertiga dari minyak mentah dunia dan memiliki pagu produksi 30 juta barel per hari -- sedikit di atas produksi saat ini.

“Pasokan dan permintaan berada dalam keseimbangan, persediaan berada dalam posisi yang baik,” Naimi mengatakan di ibu kota Austria, di mana OPEC bermarkas.

“Kami berada pada harga yang tepat sekarang .... Harga adalah keputusan pasar. Kami senang dengan apa pun yang ditentukan pasar,” tambahnya.

Arab Saudi menyatakan bahwa harga saat ini rata-rata 100 dolar AS per barel memberikan pendapatan yang diterima bagi produsen tanpa menekan terlalu berat pada konsumen.

Ketika ditanya apakah OPEC harus memangkas produksinya di tengah prospek peningkatan ekspor dari Iran setelah kesepakatan nuklir negara itu baru-baru ini, Naimi mengatakan: “Kenapa dipangkas? Permintaan ada.”

Organisasi pemantauan energi Badan Energi Internasional (IEA) memprediksi bahwa permintaan minyak mentah OPEC akan turun menjadi 29,10 juta barel per hari pada tahun depan dari 29,89 juta barel per hari saat ini -- di tengah kerusuhan Libya dan meningkatnya persaingan untuk kartel minyak.

Produksi Libya telah jatuh ke sekitar 250.000 barel per hari dibandingkan dengan produksi biasanya 1,5 juta di tengah pertempuran mematikan antara kelompok pejuang garis keras dengan tentara.

Selain itu, OPEC menghadapi meningkatnya persaingan dari shale energy, dan pihaknya sendiri telah mengatakan bahwa perlu waktu bagi kartel minyak untuk menurunkan secara berkala hingga 2017, sebelum berbalik naik (rebound) sedikit pada 2018.

Ledakan produksi dalam gas dan minyak yang diekstraksi dari serpih batu yang ditemukan di seluruh dunia, terutama di Amerika Utara, telah memangkas biaya energi bagi banyak konsumen.

Sementara OPEC menyatakan bahwa ia memiliki peran penting untuk bermain dalam memenuhi kebutuhan minyak mentah dunia.

Memproduksi sekitar 35 persen dari minyak mentah dunia, kartel juga akan memutuskan di Wina tentang apakah akan menggantikan Abdullah El-Badri sebagai sekretaris jenderal.

Arab Saudi bersaing melawan Irak dan Iran untuk menggantikan posisi El-Badri, yang telah mengemudikan kartel melalui krisis keuangan dalam perannya sebagai kepala OPEC sejak 2007.

OPEC pada Desember tahun lalu memutuskan untuk mengangkat kembali warga Libya itu selama satu tahun lagi setelah para anggota gagal untuk menyepakati sekretaris jenderal baru. (AFP/Ant)


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home