Loading...
DUNIA
Penulis: Sabar Subekti 19:49 WIB | Senin, 18 November 2019

Hariri Kritik Presiden Lebanon, Ekonomi Memburuk

Warga Lebanon antre di Bank, karena pembatasan penarikan uang tunai. Prots selama sebulan, dan ekonomi negara itu memburuk. (Foto: dari AP)

BEIRUT, SATUHARAPAN.COM-Perdana Menteri Lebanon yang mengundurkan diri, Saad Hariri mengritik keras Presiden Michel Aoun yang menunda pembentukan kabinet baru, dalam sebuah pernyataan dari kantor Hariri, hari Minggu (17/11). Dia menyebut kebijakan partai Michel Aoun "tidak bertanggung jawab."

Hampir tiga pekan setelah Hariri mengundurkan diri di tengah protes besar anti-pemerintah, Aoun belum membuat konsultasi dengan para pemimpin blok parlemen untuk menunjuk perdana menteri baru. Demonstrasi nasional dimulai pada 17 Oktober menentang pajak baru di tengah ekonomi yang Lebanon yang morat-marit. Tuntutan berkembang kepada pemerintah untuk mengundurkan diri, terutama elite politik yang memerintah negara sejak perang saudara 1975-90.

Beberapa faksi utama dalam sistem politik sektarian Lebanon ingin bertahan, dan minta Hariri di pemerintahan baru untuk membentuk kabinet gabungan politisi dan teknokrat. Tetapi Hariri berpendapat kabinet hanya terdiri dari teknokrat.

Penutupan Bank

Protes di Lebanon telah menyebabkan banyak bank tutup, rakyat memblokir rute transportasi dan mengurangi ketersediaan uang tunai. Ini membuat situasi yang berbahaya bagi dunia usaha.

Protes yang berlangsung sebulan ini menimbulkan gangguan berkepanjangan, banyak karyawan yang belum digaji, barang impor sulit masuk, dan banyak keluarga kesulitan mengambil kiriman uang dari saudaranya di luar negeri.

“Apa yang kami takutkan saat ini adalah tidak ada yang tersedia. Tidak seperti Uni Soviet pada (tahun) 50-an, dan tidak seperti Turki, dan tidak seperti Mesir, kami tidak memiliki sumber daya untuk diproduksi secara lokal, jadi inilah yang kami takutkan,” Hani Bohsali, ketua sindikat importir bahan makanan dan minuman, GM Bohsali Foods, mengatakan kepada Al Arabiya.

Lebanon sangat bergantung pada impor untuk memenuhi permintaan konsumen dan krisis telah memicu kekhawatiran bahwa negara yang berhutang banyak itu akan kehabisan uang untuk membayar impor.

Banyak orang Lebanon telah mencoba menarik uang dari sistem perbankan, memaksa bank untuk secara drastis mengurangi fasilitas uang tunai yang tersedia bagi pemilik bisnis dan pelanggan ritel untuk menjaga solvabilitas, menurut sumber perbankan. "Kami berada di tengah krisis besar, dan kami tidak tahu apa yang akan terjadi," tambah Bohsali.

Sejumlah perusahaan juga mengalami kesulitan bahan baku. "Banyak bahan baku tidak tersedia, misalnya kain. Kami bekerja dengan perempuan pedesaan dan yang kurang beruntung di komunitas yang kurang beruntung. Mereka terutama bekerja dengan kain dan benang,” kata manajer sebuah perusahaan.

Gubernur Bank Sentral Lebanon, Riad Salameh, bulan lalu memperingatkan tentang "keruntuhan di masa depan" jika solusi tidak ditemukan dalam "hitungan hari". Kemiskinan menimpa sepertiga dari penduduk Lebanon yang enam tahun lalu berada pada angka 27 persen enam.

Bank Dunia juga memperingatkan bahwa ekonomi Lebanon akan berkontraksi tahun ini dan kemiskinan dapat meningkat hingga 50 persen. Pengangguran juga diperkirakan akan meningkat, khususnya di kalangan kaum muda. Lembaga pemeringkat Standard & Poor's menurunkan peringkat utang negara Lebanon menjadi status “sampah” menjadi CCC / C, dengan alasan meningkatnya risiko keuangan dan moneter.

Meskipun tidak ada kendali secara resmi untuk modal dan transaksi asing, pemilik bisnis dan individu melaporkan bahwa bank melembagakan kebijakan mereka sendiri untuk mempertahankan modal, dan membatasi akses pelanggan menarik uang tunai.

“Jika ada kemudahan pada transfer asing, banyak masalah akan diselesaikan. Larangan transfer asing karena alasan komersial membuat situasinya semakin buruk,” kata Bohsali.

Pada hari Selasa pekan lalu, serikat pekerja bank Lebanon melakukan pemogokan, karena kekhawatiran akan keselamatan. Mereka meminta polisi menjaga kantor cabang-cabang tertentu dan hotline bagi bank untuk menelepon jika diperlukan bantuan keamanan segera. Laporan lokal menunjukkan bahwa dolar dijual 1.850 pound Lebanon di pasar gelap, karena kurangnya dolar yang dijual nilai resmi sebesar 1.507,50 per dolar AS.

Editor : Sabar Subekti


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home