Loading...
EKONOMI
Penulis: Dewasasri M Wardani 11:13 WIB | Selasa, 24 Desember 2019

Indonesia Menuju Swasembada Minyak Kayu Putih

Menteri Riset dan Teknologi/Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (Menristek/Ka. BRIN) Bambang Brodjonegoro, meninjau alat penyulingan minyak kayu putih di Kec. Playen, Kab. Gunungkidul pada Rabu (18/12). (Foto:ristekdikti.go.id)

GUNUNG KIDUL, SATUHARAPAN.COM – Menteri Riset dan Teknologi/Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (Menristek/Ka. BRIN) Bambang Brodjonegoro, meninjau alat penyulingan minyak kayu putih dan juga secara simbolis menanam bibit unggul tanaman kayu putih di Kec Playen, Kab Gunungkidul  pada Rabu (18/12)

Dalam kunjungannya tersebut, Menteri Bambang mengatakan pemanfaatan teknologi benih unggul kayu putih telah dilakukan Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan (BBPBPTH), Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), yang bermitra dengan PT Eagle Indo Pharma dan PT Sanggar Agro Karya Persada.

Kegiatan itu mendapatkan dukungan pendanaan untuk komersialisasi dari DM Penguatan Inovasi sejak 2017-2019.

“Komersialisasi teknologi benih unggul kayu putih ini melibatkan sinergi industri PT Eagle Indo Pharma dan PT Sanggar Agro Karya Persada, pemerintah daerah (kontribusi dalam bentuk lahan), dan masyarakat yakni 2 kelompok tani hutan (KTH), dan 25 orang yang berasal dari desa sekitar, untuk mengelola lahan seluas 10 hektare di Kecamatan Playen, Gunungkidul,” kata Menteri Bambang.

Lebih lanjut, Menteri Bambang menerangkan kelompok tani hutan (KTH) kayu putih di Kecamatan Playen Gunungkidul, saat ini telah mulai melakukan penyulingan daun yang dipanen dari kebun kayu putih, yang ditanam menggunakan produk inovasi benih unggul.

“Minyak hasil penyulingan tersebut telah siap untuk diserahkan oleh kelompok tani hutan di Gunungkidul (sebagai plasma), kepada PT Eagle Indo Pharma (sebagai inti). Percontohan pola inti plasma ini perlu didukung penuh oleh pemerintah daerah.

BBPBPTH, sebagai lembaga litbang berperan dalam menjamin mutu minyak kayu putih yang dihasilkan masyarakat (plasma), sedangkan industri (inti) sebagai off-taker produk yang dihasilkan plasma, sehingga supply chain industri kayu putih dari hulu ke hilir terbangun dengan baik,” kata Menteri Bambang.

Percontohan inti plasma ini, diharapkan dapat direplikasi di daerah lain. Dengan meluasnya percontohan inti plasma ini, diharapkan swasembada minyak kayu putih dapat terwujud. Di masa yang akan datang, diharapkan penelitian tentang kayu putih tidak hanya berhenti di sektor hulu, namun juga merambat ke diversifikasi produk kayu putih, seperti untuk produk makanan dan kecantikan, sehingga industri kayu putih benar-benar terbangun dari hulu hingga hilir.

Sementara itu, peneliti dari BBPBPTH KLHK, Anto Rimbawanto mengatakan, pertimbangan utama dalam riset pemuliaan kayu putih ini adalah karena masih sangat rendahnya produktivitas minyak kayu putih nasional. Saat ini hanya mampu memasok 15 persen dari kebutuhan bahan baku industri obat-obatan dan farmasi dalam negeri.

“Akibatnya, kekurangan pasokan sebesar 85 persen dipenuhi dari impor minyak substitusi berupa minyak ekaliptus. Dan perlu kami sampaikan, kebutuhan bahan baku minyak kayu putih untuk industri obat kemasan dalam negeri tercatat mencapai lebih dari 3500 ton per tahun,” kata Anto. (ristekdikti.go.id)

 

 

Kampus Maranatha
BPK Penabur
Zuri Hotel
Back to Home