Loading...
EKONOMI
Penulis: Diah Anggraeni Retnaningrum 14:41 WIB | Selasa, 03 Maret 2015

Indonesia Pasar Terbesar Penjualan Tupperware, Lampaui Jerman

Saat ini, para perempuan tersebut sedang berada di putaran pasar terbesar produk Tupperware dan pasar terbesar dari produk buatan Massachusets adalah Indonesia. (Foto: nytimes.com)

JAKARTA, SATUHARAPAN.COM – Nyaris seperti warga Amerika pada tahun 1960an, sekelompok perempuan di Indonesia kini senang mendapatkan waktu luang dari rutinitas sehari-hari, seperti menjemur pakaian dan mengantar-jemput anak-anak mereka ke sekolah. Mereka senang berkumpul, duduk melingkar, mendengarkan salah satu teman mereka menjajakan sebuah mangkuk plastik yang bisa digunakan untuk menyimpan makanan: Tupperware.

Saat ini, para perempuan tersebut sedang berada di putaran pasar terbesar produk Tupperware. Dan pasar terbesar dari produk buatan Massachusets itu adalah Indonesia.

Dulu, alat pelengkap dapur tersebut dimiliki oleh rakyat Amerika kelas menengah, namun kini Tupperware telah menjadi primadona bukan di negara asalnya tetapi popularitasnya telah meningkat di luar negeri. Jerman adalah pasar tertinggi, sampai akhirnya Indonesia menyusul dan melewatinya dalam dua tahun terakhir.

Dalam banyak hal, Indonesia merupakan ‘lahan empuk’ bagi pasar Tupperware. Dengan kondisi perekonomian yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir ini, kelas menengah berkembang dengan memiliki pendapatan dari menjual produk penyimpan makanan dalam berbagai bentuk dan ukuran, yang lebih kuat yang ditemukan di pasar lokal.

Seperti pada tahun 1960-an di Amerika, banyak perempuan tinggal di rumah dan menjaga anak-anak mereka. Hal inilah yang menjadi sasaran empuk para sales Tupperware dalam mempromosikan barang dagangannya dan akhirnya menjadi kebiasaan sosial di masa lalu yang konservatif dan masuk dalam angkatan kerja.

“Ada puluhan juta perempuan Indonesia saat ini tidak bekerja yang akhirnya menjadi potensi dengan tidak hanya membeli produk tersebut tetapi juga memasarkannya,” kata Emma Allen, seorang ekonom di Jakarta seperti yang dilansir oleh nytimes.com pada Sabtu (28/2).

Perusahaan ini – yang bisnisnya dibangun dengan memanfaatkan jejaring sosial masyarakat – juga dikemas dengan tradisi masyarakat Indonesia yang disebut arisan atau pertemuan, di mana para perempuan secara teratur bertemu dengan teman-temannya untuk berbagi cerita tentang keluarga, resep terbaru dan bergosip.

Sales menggunakan beberapa pertemuan tidak hanya untuk mendorong penjualan produk mereka, tetapi juga merekrut agen baru yang dapat memasarkan produk tersebut di kelompok lain dengan pola yang sama yaitu arisan.

Arisan sering menjadi bank informal. Anggota arisan tersebut mengumpulkan uang dan memilih nama dengan mengundi siapa yang akan menjadi 'pemenang,' dan biasanya sudah ditulis dalam sebuah kertas yang dikumpulkan dalam satu botol atau tempat. Nama yang keluar akan mendapatkan uang kumpulan dari anggota arisan tersebut. Begitu seterusnya dalam setiap pertemuan yang biasanya dilakukan mingguan atau bulanan.

Salah satu sales Tupperware mengatakan bahwa dia sering membantu pelanggan untuk membeli set Tupperware dengan harga yang mahal hingga jutaan rupiah.

Dalam sebuah pesta di Villa Mutiara, sebuah lingkungan yang tenang di pinggiran ibu kota Jakarta, Indonesia, banyak pembeli potensial yang datang dengan menggunakan sepeda motor, bukan dengan mobil tua dan tidak seperti orang Amerika pada abad pertengahan akhir, rambut mereka terselip di bawah jilbab Muslim bukannya dengan potongan bob yang menggoda.

Kekhawatiran mereka untuk mempertimbangkan membeli Tupperware tidak akan asing bagi perempuan Amerika yang tugasnya adalah memperketat anggaran rumah tangga, saat membeli produk tersebut.

Bukti keawetan dalam produk Tupperware merupakan prioritas yang harus ditunjukkan oleh agen penjualan yang menyajikan demo dengan ceria. Rosa Amelia pada arisan tersebut mengambil langkah yang tidak biasa dengan membanting wadah kue berwarna merah tersebut ke lantai untuk menjawab pertanyaan, “Apakah Anda yakin mereka bisa dihancurkan?”

Perempuan yang berada di dalam arisan tersebut cukup terkejut dengan pembuktiannya yang menjawab kekhawatiran mereka tentang memasak dan menyimpan makanan panas khas tropis Indonesia. Kemudian mereka tertawa dan puas bahwa wadah plastik yang relatif mahal ini layak dibeli.

Tenaga penjualan Tupperware Indonesia kini sekitar 250.000 yang meraup penjualan lebih dari USD 200 juta (Rp 2 triliun) tahun lalu menurut perusahaan tersebut.

Perusahaan tersebut telah memberikan jalan keluar dari kemiskinan bagi beberapa perempuan yang memilih bergabung dengan kelompok marketing – di mana sekitar setengah penduduk Indonesia hidup dengan penghasilan kurang dari Rp 24.000 per hari – yang disusupi dengan peran sosial.

Meskipun saat ini perempuan telah banyak yang bekerja, pemerintah Indonesia dan kelompok agama telah selama beberapa dekade mendorong nilai-nilai tradisional di mana peran utama perempuan adalah sebagai istri dan ibu. Dalam UU Perkawinan tahun 1974 negara menyatakan bahwa suami adalah kepala keluarga dan istri adalah juru kunci.

Seperti yang dilakukan di pasar negara berkembang lainnya, Tupperware mendorong perempuan untuk bergerak melewati setiap ketidakamanan dengan mengambil peran baru. Perusahaan ini memiliki kampanye yang disebut “Chain of Confidence” di mana posting wawancara video salah seorang sales perempuan berbicara tentang perubahan ekonomi menjadi lebih baik. Perusahaan ini juga memiliki kampanye inspiratif untuk Indonesia, “Tupperware, She Can” yang juga mengunggah video aspiratif.

“Semua orang berbicara mengenai dinamika Asia, dimana kelas menengah muncul didorong oleh perempuan yang sebelumnya tidak memiliki kesempatan,” kata Rick Goings Ketua Umum dan CEO Tupperware Brands Corporation. “Saya tidak mengatakan orang tidak bekerja keras, tapi ada kesempatan baru bagi perempuan di Asia.”

Upi Hariwati adalah salah satu perempuan Indonesia yang telah merebut kesempatan itu. Empat tahun yang lalu, istri yang berusia 39 tahun dan ibu dari seorang anak muda mulai mencari solusi setelah lelah menggantungkan hidup dari gaji ke gaji yang diperoleh suaminya.

Dalam testimonial untuk “Rantai Keyakinan”, Upi mengatakan bahwa ketika dia mulai keluar sebagai pramuniaga Tupperware, dia harus menawarkan produk kepada calon pelanggannya dengan menggunakan transportasi umum. Tapi dalam waktu dua tahun, katanya, dia mendapatkan cukup uang untuk membeli rumah dan mobil baru. “Saya menjadi lebih percaya diri, berpengetahuan dan disiplin,” kata dia.

Amelia, seorang sales Tupperware di pesta Villa Mutiara tadi memiliki kisah serupa. Enam tahun lalu, dia berusaha untuk tetap bertahan dalam mengelola restoran di Jakarta Selatan dengan suaminya. Kemudian, dia diundang ke pesta Tupperware yang katanya mengubah hidupnya.

Setelah direkrut sebagai agen penjual dan berjuang untuk mendapatkan persetujuan suaminya agar dapat mengambil pekerjaan itu, kemudian dia mulai menjual Tupperware paruh waktu, membagi tugasnya di restoran. Saat ini, dia adalah manajer regional yang telah hadir dalam 20 pertemuan dalam satu bulan di Jakarta dan sekitarnya. Amelia (41) bisa mendapatkan penghasilan sekitar USD 2400 (Rp 31 juta) per bulan yang merupakan enam kali keuntungan bulanannya dari restoran.

“Awalnya, suami saya menolak untuk membiarkan saya berjualan Tupperware walaupun paruh waktu karena dia pikir mungkin akan memengaruhi restoran,” kata Amelia. “Sekarang dia bekerja untuk saya.”

Editor : Eben Ezer Siadari


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home