Loading...
DUNIA
Penulis: Sabar Subekti 13:13 WIB | Jumat, 08 Januari 2016

Iran Larang Produk Arab Saudi, Tangguhkan Pengiriman Jemaah Haji

Djibouti Gabung Arab Saudi, putuskan hubungan dengan Iran. Presiden Turki: Eksekusi Masalah Internal Hukum Arab Saudi.
Demonstrasi warga Iran di Teheran menentang eksekusi mati ulama Syiah oleh Arab Saudi yang meningkatkan ketegangan antara Arab Saudi dan Iran. (Foto: AFP)

TEHERAN, SATUHARAPAN.COM –Iran akan melarang komoditas yang diproduksi dari atau diimpor dari Arab Saudi masuk ke negara itu. Dalam rapat luar biasa kabinet Iran pada hari Kamis (7/1), para menteri menyetujui diberlakukannya larangan itu, menurut laporan kantor berita resmi Iran, IRNA.

Selain itu, Iran juga akan menangguhkan pengiriman jemaah yang akan melakukan ibadah Umrah dan Haji. Keputusan itu merupakan keanjutan dari ketegangan antara kedua negara setelah Arab Saudi mengeksekusi ulama Syiah, Nimr al-Nimr.

Pada hari Minggu (3/1) pemerintah Arab Saudi menyatakan memutuskan hubungan dengan Teheran setelah kedutaannya di Teheran dan konsulatnya di Mashhad diserbu oleh pengunjuk rasa.

Pengaruhi Pembicaraan Damai Suriah

Pertikaian diplomatik antara Teheran dengan Riyadh diperkirakan akan mempengaruhi pembicaraan damai untuk mengakhiri perang di Suriah.

"Keputusan yang salah oleh Arab Saudi akan memiliki efek pada pembicaraan (damai Suriah) di Wina dan New York, namun Teheran akan tetap berkomitmen," kata Wakil menteri Luar Negeri Iran untuk Urusan Arab dan Afrika, Hossein Amir-Abdollahian, seperti dikutip IRNA.

Ketegangan antara kedua negara, di mana keduanya aktif dalam pembicaraan internasional untuk mengakhiri perang saudara di Suriah, meningkat setelah Arab Saudi dieksekusi 47 orang pada 2 Januari, termasuk empat Muslim Syiah.

Pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, memprediksi akan adanya "pembalasan ilahi" atas eksekusi terhadap Al-Nimr, ulama yang dikenal vokal dan kritis terhadap keluarga yang berkuasa di Arab Saudi.

Djibouti Gabung Arab Saudi

Ketegangan antara Arab Saudi dan Iran juga memicu polarisasi di antara banyak negara Muslim. Djibouti, mislanya menyatakan memutuskan hubungan diplomatik dengan Iran pada hari Rabu (6/1). Menteri luar negerinya mengatakan hal itu dalam menanggapi penyerbuan terhadap kedutaan Arab Saudi di Teheran oleh para demonstran Iran.

Negara kecil di Tanduk Afrika yang memiliki pangkalan militer Amerika Serikat itu bergabung dengan Arab Saudi, Bahrain dan Sudan yang sepenuhnya memutuskan hubungan dengan Iran.

"Djibouti memutuskan hubungan diplomatik dengan Iran karena solidaritas dengan Arab Saudi," kata Menteri Luar Negeri Djibouti, Ali Mahamoud Youssouf, seperti dikutip Reuters.

Bahrain menyatakan memutuskan hubungan dengan Iran pada hari Rabu (6/1) setelah menangkap adanya sel Iran yang merencanakan serangan di wilayahnya. "Sebuah rencana serangan teroris rahasia yang dibantu oleh apa yang disebut Garda Revolusi Iran dan organisasi teroris Hizbullah telah digagalkan," kantor berita Bahrain, BNA melaporkan.

"Ini menargetkan keamanan kerajaan Bahrain berdasarkan rencana serangkaian pemboman berbahaya," tambahnya.

Namun Iran membantah tuduhan tersebut, termasuk tuduhan di masa lalu yang menyebutnya terlibat dalam serangan di Bahrain yang mengalai kekacauan politik sejak protes meletus di sana pada tahun 2011. Protes dilakukan oleh mayoritas Muslim Syiah yang menuntut diakhirinya dominasi politik oleh monarki dari Muslim Sunni dan kekuasaan penuh di parlemen.

Namun belum ada respons dari Iran terkait perselisihan diplomatik dengan saingan regionalnya, Arab Saudi, dan negara-negara Teluk lainnya yang didominasi Islam Sunni, termasuk Bahrain.

Turki Tolak Mengecam

Sementara itu, Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan, pada hari yang sama menyatakan menolak untuk mengecam Arab Saudi atas eksekusi terhadap 47 narapidana, termasuk seorang ulama Syiah terkemuka. Dia mengatakan bahwa hal itu adalah "masalah hukum internal" Arab Saudi.

"Eksekusi di Arab Saudi adalah masalah hukum internal. Apakah Anda menyetujui atau tidak keputusan itu, adalah masalah yang terpisah," kata Erdogan dalam pidato yang disiarkan televisi, sebagai respons pertamanya terhadap masalah kontroversi yang meningkatkan ketegangan antara Arab Saudi dan saingan regionalnya, Iran.

Presiden Turki bulan lalu mengunjungi Riyadh untuk pembicaraan dengan Raja Salman dan elite politik kerajaan itu. Ini merupakan pertanda baru hubungan yang hangat antara Ankara dan Riyadh.

Turki dan Arab Saudi merupakan kekuatan Muslim Sunni yang memiliki visi yang sama atas konflik di Suriah di mana mereka menghendaki tersingkirnya Presiden Suriah, Bashar al-Assad, karena hal itu  bisa mengakhiri  perang saudara yang hampir lima tahun.


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home