Loading...
BUDAYA
Penulis: Sotyati 13:09 WIB | Sabtu, 29 April 2017

Kiat Emma Stone Perangi Rasa Cemas Berlebihan

Emma Stone. (Foto: Dok satuharapan.com/Sheknows.com)

SATUHARAPAN.COM – Siapa menyangka aktris yang sedang bersinar perjalanan kariernya, Emma Stone, memiliki pengalaman buruk? Belum lama ia mengakui ada satu titik lemah yang menghantui kehidupan masa kecilnya. Ia mengidap kecemasan yang sangat berlebihan, yang membuatnya berpikir tidak akan bisa keluar dari rumah.

Bintang La La Land berusia 28 tahun itu kini acap berbincang di depan publik tentang perjuangannya melawan kecemasan, yang pernah membuatnya berpikir akan tinggal bersama orangtuanya sepanjang sisa hidupnya.

Dalam sebuah video untuk kampanye Child Mind Institute belum lama ini, ia berkisah, “Selalu ada pengalaman yang meninggalkan kenangan yang membekas dalam tahapan kehidupan yang berbeda. Begitu terjadi, terasa kacau, seperti tidak akan pernah berakhir. Terpikir bahkan saya tidak akan bisa pindah dari rumah”

Salah satu bentuk kecemasan berlebihan, membuatnya berpikir rumahnya terbakar. Stone menggali ingatannya ketika berusia sekitar tujuh tahun, ia yakin rumahnya terbakar. “Saya bisa merasakannya. Bukan halusinasi. Dada berdebar-debar kencang, sulit bernapas, seperti dunia akan berakhir. Dan kecemasan itu konstan,” katanya, dikutip dari contactmusic.com.

Jika kecemasan sudah melanda, Stone mengingat apa yang dilakukannya adalah terus-menerus bertanya kepada ibunya bagaimana semua itu berakhir. Apa yang akan terjadi saat makan siang? Pada titik tertentu, ia merasa mual. Berbagai perasaan berkecamuk, mulai dari tidak bisa pergi ke rumah teman lagi, hingga begitu sulit keluar dari pintu sekolah.

Namun, akting membantunya mengurangi perasaan cemas.

“Saya menulis buku berjudul I Am Bigger Than My Anxiety yang masih saya simpan sampai saat ini. Saya menggambar monster hijau kecil di bahu, yang berbicara di telinga saya, mengatakan semua hal yang tidak benar. Dan setiap kali saya mendengarkannya, itu tumbuh lebih besar. Jika saya mendengarkannya cukup, itu meremukkan saya.”

“Tapi jika saya memalingkan kepala dan terus melakukan apa yang saya lakukan - membiarkan dia berbicara kepada saya, tapi saya tidak mengindahkannya, dia menyusut dan memudar,” katanya.

Stone mulai tampil berakting di pentas-pentas teater, dan terus mengembangkan diri. Ia menganggap melakukan improvisasi adalah antitesis dari kecemasan.

Editor : Sotyati


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Edu Fair
Back to Home