Loading...
MEDIA
Penulis: Prasasta Widiadi 20:51 WIB | Senin, 16 November 2015

Kolumnis Kritik Pengguna Medsos Ganti PP Bendera Prancis

Ilustrasi: Boo Su Lyn, kolumnis dan feminis Malaysia dari Malay Online. (Foto: akun twitter @boolyn).

KUALA LUMPUR, SATUHARAPAN.COM – Boo Su Lyn, kolumnis dan feminis Malaysia dari Malay Online mengkritik keras kebiasaan hebat yang terjadi dalam beberapa hari terjadi belakangan, karena banyak pengguna media sosial (medsos) Facebook, dan Twitter  mengganti secara temporer foto profil diri dengan tambahan warna bendera Prancis sebagai bentuk simpati tragedi Paris pada Jumat (13/11).

“Mereka (pengguna media sosial Facebook dan Twitter, Red)  kasar, saya melihat bahwa mereka yang  bersimpati dengan Paris sedang munafik, hanya peduli tentang orang-orang kulit putih bukan orang-orang kulit berwarna sehingga banyak yang mengganti foto di Facebook dan Twitter dengan bendera Prancis,” kata Boo Su Lyn di kolom Opini di Malay Mail Online hari Senin (16/11).

“Sementara kita harus ingat dong, ada pengeboman di Beirut dan Baghdad, tapi kenapa banyak yang tidak bersimpati ke dua tempat jauh di Asia itu,  mereka  hanya berdoa untuk Paris,” dia menambahkan.

Suu Lyn mengibaratkan Bunda Teresa yang mendoakan seluruh orang di dunia, maka sulit bagi pengguna media sosial saat ini bisa bersikap seperti Bunda Teresa.

 “Sehari setelah serangan (Paris, Red) Facebook saya dipenuhi dengan berita tentang Paris, sementara di Twitter banyak bermunculan tanda pagar #JeSuisParis,  serta #AllLivesMatter yang mengisyaratkan pembalasan  dari pengeboman Beirut dan Baghdad  , dan tragedi lainnya yang terjadi Jumat lalu,” dia menambahkan.

Kejanggalan dalam Bencana Lainnya

“Saya melihat ada beberapa kejanggalan lainnya di media sosial saat ini, waktu itu saya ingat ada  gempa bumi yang melanda Jepang dan Meksiko kemudian di media sosial muncul #PrayForWorld, meskipun tidak ada terluka, apalagi meninggal,” kata dia.

Sementara itu bersamaan di tempat lain, di Malaysia terjadi insiden tragis seorang mahasiswa 19 tahun yang sedang mengendarai  mobil menyaksikan seseorang terbunuh, yakni ketika seorang pria melompat  dari bangunan dan kebetulan mendarat tepat di atas kendaraan.

“Tidak ada tanda pagars baginya. Di tempat lain di Penang, Malaysia seorang pria 27 tahun juga jatuh ke kematiannya dari apartemen. Tidak ada tanda pagars juga untuk dia,” kata Boo.

Boo menganggap situasi tersebut tidak adil karena menurut Menteri Transportasi Malaysia  Liow Tiong Lai hampir 5.000 orang tewas dalam kecelakaan lalu lintas di Malaysia tahun ini, dan menurut Liow  Malaysia termasuk dalam peringkat ke-20 negara dengan jumlah tertinggi kecelakaan di jalan.

“Mengapa banyak warga Malaysia yang menggunakan FB atau Twitter membuat tanda pagar untuk kecelakaan lalu lintas itu?,”  dia menambahkan.

Boo beranggapan dominasi kulit putih lebih superior termasuk dalam media sosial, karena banyak hal dan kepentingan yang sulit dilakukan golongan non kulit putih.

“Kenapa berhenti  menuntut perhatian yang sama untuk Palestina dan Timur Tengah? Mengapa tidak juga berbicara tentang konflik bersenjata di Afrika?,” kata dia mempertanyakan.

Kematian, menurut Boo, dan cara seseorang meninggal dunia berbeda-beda dan memiliki efek yang tidak sama bagi sebagian orang di dunia.

“Dan mengapa tidak peduli sama banyak untuk banyak kematian yang biasa seperti  pembunuhan atau serangan jantung?,” kata dia.

“Kematian tidak sebanding. Jadi bagaimana jika orang tampaknya lebih peduli korban serangan Paris daripada  Timur Tengah yang hampir setiap saat terjadi,” kata dia.

Boo mengkritik lukisan tanda simpati menara Eiffel sesungguhnya mencerminkan sikap bangsa Prancis yang superior dan merendahkan bangsa lain.

“Lukisan menara eiffel yang identik dengan Paris karena kota itu  sangat  rasis, dan  tidak peduli untuk orang-orang non-kulit putih juga tidak adil dan jujur, seolah-olah semua orang yang tinggal di Perancis adalah Kaukasia,” kata dia.

Boo tidak menganggap peristiwa kematian sebagai sesuatu hal yang menyedihkan karena dia telah mengalami kematian orang yang dia cintai.

“Ayah saya meninggal karena kanker, akan selalu lebih tragis bagi saya dari satu juta orang asing lainnya kehilangan nyawa mereka dari penembakan, tsunami atau bom,” dia menambahkan.

“Saya saat ini tidak dapat lagi membedakan antara tragedi, teror, dan sejenisnya karena sebuah serangan teror bagi saya adalah tidak lebih tragis daripada pembunuhan. Saya menganggap tragedi MH370 atau tragedi MH17 lebih mengerikan dari kecelakaan mobil,” dia menambahkan.

(malaymailonline.com.my)

Editor : Bayu Probo


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home