Loading...
DUNIA
Penulis: Diah Anggraeni Retnaningrum 21:08 WIB | Jumat, 20 November 2015

Korban Drone AS Tak Hanya Ekstrimis

Seorang anak Pakistan berada di puing-puing sebuah pesantren yang hancur milik jaringan Haqqani setelah serangan pesawat tak berawak AS di distrik Hangu provinsi Khyber Pakhtunkhwa di 21 November 2013. (Foto: AFP)

WASHINGTON, SATUHARAPAN.COM – Empat mantan personel angkatan darat yang pernah menjadi operator drone AS dalam sebuah wawancara eksklusif menyatakan penggunaan drone AS untuk membunuh ekstremis tidak akan menyelesaikan masalah. Sebaliknya, langkah itu justru memacu radikalisme semakin tinggi.

Mereka juga mengatakan bahwa mereka terlibat pembunuhan warga sipil tak berdosa dan mengalami Gangguan Stres Pascatrauma (PTSD).

“Kami menyadari bahwa pembunuhan yang kami lakukan terhadap warga sipil hanya memicu kebencian yang mendorong terorisme dan kelompok seperti (ISIS), sembari juga menjadi sarana perekrutan fundamental,”tulis keempat pria itu dalam sebuah surat terbuka yang ditujukan bagi Presiden Barack Obama, Menteri Pertahanan AS Ashton Carter dan Direktur CIA John Brennan.

“Pemerintahan ini dan pendahulunya telah membentuk program drone yang menjadi salah satu kekuatan pendorong paling dahsyat bagi terorisme dan destabilisasi di seluruh dunia.”

Keempat orang itu terdiri dari Brandon Bryant, Cian Westmoreland, Stephen Lewis dan Michael Haas. Westmoreland adalah pakar transmisi sementara tiga orang lainnya mengontrol sensor canggih lainnya pada drone Predator.

Menurut The Guardian, yang memublikasikan wawancara dengan keempat pria itu pada Kamis, keempatnya telah mengoperasikan drone selama 20 tahun.

Mereka mengatakan kepada surat kabar itu bahwa beberapa operator drone dengan cepat mengalami mati rasa terhadap pekerjaan mereka dan terkadang membunuh orang bahkan jika mereka tidak yakin apakah orang tersebut musuh atau bukan.

Dalam satu kasus, Bryant mengatakan bahwa tim drone mereka membunuh lima warga suku dan seekor unta yang melakukan perjalanan dari Pakistan ke Afghanistan, meski mereka tidak yakin siapa mereka atau tentang apa yang orang-orang suku itu lakukan.

“Kami menunggu mereka tertidur dan kemudian kami membunuh mereka saat tidur,” ujar Bryant kepada surat kabar itu. “Itu adalah tindak pembunuhan yang pengecut.”

Ketika dia selesai mengemban misinya tersebut, Bryant diberi amplop berisi rapor dengan jumlah korban yang telah dia bunuh. Mencengangkan, jumlahnya mencapai 1.626 orang.

Sejak menjabat pada 2009, Obama sangat memanfaatkan program drone, dan lebih banyak melakukan serangan dari pendahulunya dari Partai Republik, George W. Bush.

Beberapa negara di Timur Tengah dan Asia Tengah telah melihat serangan drone mematikan.

Obama telah gigih menentang pengiriman pasukan darat AS untuk Suriah, tetapi sebaliknya berfokus pada pelatihan kelompok bersenjata Suriah dan Kurdi tertentu dan mendukung mereka dengan serangan udara oleh pesawat berawak dan tak berawak.

Seorang pejabat senior AS mengatakan kepada Wall Street Journal pada bulan Agustus bahwa Pentagon berencana untuk memperluas program pesawat tak berawak oleh 50 persen pada 2019.

"Kami menyaksikan limbah kotor, manajemen yang berantakan, penyalahgunaan kekuasaan, dan para pemimpin negara kita berbohong kepada publik tentang efektivitas program pesawat tak berawak," kata salah satu dari mereka dalam surat itu.

"Kita tidak bisa duduk diam dan melihat saja seperti tragedi serangan yang terjadi di Paris, saat mengetahui efek program pesawat tak berawak yang bersifat menghancurkan.”

Dua mantan operator pesawat tanpa awak muncul dalam film dokumenter "Drone", yang akan ditayangkan di New York pada Jumat (20/11). (middleeasteye.net)

 

Editor : Bayu Probo


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home