Loading...
DUNIA
Penulis: Diah Anggraeni Retnaningrum 16:39 WIB | Jumat, 20 November 2015

Gereja AS Tetap Sambut Warga Suriah Datang ke AS

Salah satu pengungsi Suriah yang telah ditempatkan di pusat, Hussam al-Roustom saat konferensi pers dengan Christian World Service di New Jersey hari Kamis (19/11). (Foto: MEE)

JERSEY, SATUHARAPAN.COM – Sebuah kelompok dukungan bagi para pengungsi Suriah yang merupakan bagian dari Church World Service (CWS) atau Pelayanan Gereja Dunia berjanji tetap akan menyambut pengungsi Suriah meski dibayang-bayangi teror Paris dan upaya politisi sayap kanan untuk menghentikan gelombang pengungsi datang ke AS.

“Kami akan terus membantu mereka (pengungsi), karena kami percaya dengan apa yang kami kerjakan saat ini,” kata juru bicara CWS Will Haney, yang telah membantu memberikan perlindungan bagi para pengungsi di 21 negara bagian AS.

“Kami percaya bahwa pengungsi adalah penduduk yang paling menderita saat mereka tiba di AS dan kami yakin mereka bukan ancaman bagi negara ini melainkan mereka membutuhkan bantuan dari warga di New Jersey dan di seluruh AS.”

Pernyataan tersebut muncul untuk melawan ketegangan yang terjadi beberapa hari ini setelah 27 gubernur negara bagian menyuarakan penolakan terhadap kedatangan pengungsi Suriah dan beberapa anggota parlemen telah mengintensifkan peningkatan keamanan dan menunda program Presiden AS yang akan menerima 10.000 pengungsi tahun depan.

Gubernur New Jersey dari partai Republik dan calon presiden Chris Christie, mengatakan pada pekan ini bahwa untuk saat ini sangat tidak mungkin mengasihani pengungsi Suriah yang datang. Dia bahkan menolak untuk menerima yatim balita asal Suriah.

Pada hari Kamis (19/11), Anggota Dewan AS menentang ancaman veto dari Obama, yang ingin sekali mengeluarkan undang-undang menolak kedatangan pengungsi Suriah menyusul insiden berdarah di Paris yang dilakukan oleh ISIS dan menewaskan 129 orang pada hari Jumat (13/11).

Beberapa orang mengatakan bahwa militan tersebut bisa saja menyamar di antara para pengungsi untuk menyerang AS, dengan catatan bahwa saat ini setidaknya satu penyerang Paris mungkin telah masuk ke Eropa di antara para migran yang terdaftar di Yunani.

Saat ini undang-undang tersebut akan bergulir di Senat AS, yang sebagian besar dikendalikan oleh Partai Republik meskipun porsi mereka di majelis tinggi sekarang sudah berkurang. Namun, baik di senat dan majelis tinggi memerlukan dua per tiga suara mayoritas untuk mengesampingkan veto Obama.

Isi rancangan undang-undang tersebut mengatakan tidak ada satu pun pengungsi asal Suriah atau Irak bisa masuk ke AS sampai beberapa pejabat keamanan tingkat atas AS secara pribadi menjamin para pengungsi tidak akan menimbulkan ancaman. Pengungsi yang datang sudah benar-benar disaring oleh para ahli dari berbagai instansi dalam suatu proses yang akan terus berlangsung selama beberapa waktu.

Gedung Putih mengatakan RUU itu akan memperkenalkan ‘persyaratan yang tidak praktis dan tidak dibutuhkan’ yang akan menghambat AS untuk membantu pengungsi tanpa melakukan apa-apa untuk membuat AS lebih aman.

Awal pekan ini, seorang pejabat Departemen Luar Negeri mengatakan pejabat sekelas gubernur negara bagian seperti Christie tidak memiliki hak untuk menolak program pemerintah federal, atau menghentikan seorang pengungsi yang tiba secara legal di suatu negara untuk pergi ke wilayah lain.

“Sementara negara dan pemerintah daerah memiliki peran konsultatif penting dalam pemukiman kembali para pengungsi, program pemukiman kembali itu sebenarnya dibiayai oleh negara,” kata pejabat itu kepada wartawan.

Di Kota Jersey, Mahmoud Mahmoud, direktur pusat pengungsi CWS mengatakan daerah itu setiap hari selalu menyambut pengungsi yang baru datang. “Sepertinya Gubernur Christie mendapatkan saran yang sangat buruk,” kata dia.

“Saya pikir gubernur harus lebih mengetahui apa saja yang sedang terjadi sekarang ini,” kata Mahmoud kepada MEE. “Lima badan intelijen telah bekerja sama dengan satu sama lain apakah benar-benar harus mengasihi pengungsi ini sebelum mereka datang ke AS.”

Salah satu pengungsi Suriah yang telah ditempatkan di pusat, Hussam al-Roustom, mendesak anggota parlemen AS dan politisi Eropa untuk tidak menutup pintu bagi rakyat Suriah karena khawatir insiden Paris terulang kembali.

“Insiden itu dengan cepat menimbulkan persepsi sendiri bagi pengungsi Suriah, mereka tidak tahu apa-apa dan tidak ada hubungannya dengan para teroris itu,” kata dia melalui penerjemahnya, saat melakukan konferensi pers hari Kamis (20/11).

“Orang-orang Suriah bukan teroris sama sekali. Mereka yang melarikan diri dari Suriah karena mereka lari dari perang, untuk mendapatkan hidup dan kesempatan yang lebih baik. Saya berharap masyarakat internasional dan negara-negara lainnya tidak membuat keputusan terlalu cepat dan lihatlah ada berapa banyak pilihan yang mereka punya.”

Roustom melarikan diri dari Suriah pada Maret 2013 setelah kota asalnya Homs telah hancur oleh rudal dan peluru yang ditembakkan oleh pasukan Presiden Suriah Bashar al-Assad. Dia telah kehilangan rumah dan bisnis supermarket serta logam.

Dia menggambarkan kondisi sangat sulit seperti saat menjadi pengungsi di kamp pengungsi di Yordania, termasuk kekurangan air, listrik dan obat-obatan untuk anak-anaknya. Kemudian, dia mengajukan status pengungsi dan diterima ke dalam program AS setelah melalui puluhan kali wawancara dalam satu tahun, kata dia.

Roustom tiba di AS pada Juni 2013. Sekarang, dia bekerja di sebuah toko roti dan tinggal di apartemen di New Jersey dengan anak autisnya yang berusia tujuh tahun dan anak perempuannya yang berusia empat tahun. Keluarganya yang lain telah tewas dalam perang sipil yang merenggut lebih dari 250.000 jiwa.

“Hidup saya berubah. Saya datang dengan aturan sangat ketat ke negara yang padat dengan tangan terbuka menyambut saya,” kata dia. “Anak-anak saya tidak bisa pergi ke sekolah atau taman di masa kecil mereka selama empat tahun. Sekarang kami telah memiliki kebebasan.” (middleeasteye.net)

Editor : Bayu Probo


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home