Loading...
DUNIA
Penulis: Sabar Subekti 08:36 WIB | Selasa, 07 Januari 2020

LNA Libya Kuasai Kota Sirte dari Pemerintah GNA

Mesir, Itali dan Prancis Tolak Kehadiran Pasukan Turki di Libya
Pasukan LNA bergerak untuk merebut ibu kota Libya, Tripoli dari pemerintahan GNA yang didukung PBB pada pertengahan Desember 2019. (Foto: dok. dari AFP)

SIRTE, SATUHARAPAN.COM-Tentara Nasional Libya (LNA) pimpinan Khalifa Haftar mengatakan pada hari Senin (6/1) bahwa mereka telah maju ke posisi di sekitar kota Sirte dalam upaya untuk mengendalikannya.

Mengontrol Sirte akan menjadi keuntungan strategis yang penting bagi Haftar, yang sejak April melancarkan serangan militer di ibu kota, Tripoli yang menjadi pusat Pemerintah Kesepakatan Nasional (GNA) Libya yang diakui secara internasional.

Sirte terletak di pusat pantai Mediterania Libya, dan telah dikendalikan oleh pasukan yang berpihak pada GNA sejak mereka mengeluarkan Negara Islam dari kota itu dengan bantuan serangan udara AS pada akhir 2016.

LNA Haftar mengatakan mereka telah mengambil daerah di sekitar Sirte termasuk pangkalan udara al-Qardabiya. "Pasukan tentara mengendalikan semua distrik di sekitar kota Sirte, dan kami menuju ke jantung kota untuk menyelesaikan pembebasannya," kata Khaled al-Mahjoub, seorang juru bicara LNA dikutip Reuters.

Seorang penduduk di pusat kota mengatakan kepada Reuters melalui telepon: "Kita dapat melihat konvoi LNA di dalam kota Sirte ... mereka mengendalikan sebagian besar kota sekarang. Kami juga mendengar suara tembakan." Namun sejauh ini tidak ada komentar segera dari pasukan GNA.

Pasukan Turki

Tentang pengiriman pasukan oleh Turki untuk membantu pemerintah GNA, Mesir, Italia, dan Prancis menekankan bahwa intervensi Turki di Libya membahayakan keamanan dan perdamaian di kawasan itu.

Pernyataan Kementerian Luar Negeri Mesir yang dikutip Al Ahram itu juga mengungkapkan bahwa konsensus ketiga negara itu disampaikan dalam pembicaraan telepon oleh Menteri Luar Negeri Mesir, Sameh Shoukry, dengan Menlu Italia dan Prancis, Luigi Di Maio dan Jean-Yves Le Drian.

Seruan itu disampaikan terkait Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan, yang mengumumkan awal pengerahan pasukannya ke Libya. Hal itu adalah bagian dari kontak intensif dengan mitra internasional tentang perkembangan yang sedang berlangsung di Libya.

Para menteri itu menegaskan kembali penolakan terhadap campur tangan militer asing di Libya, kata juru bicara Kementerian Luar Negeri Mesir, Ahmed Hafez. Mereka menggarisbawahi perlunya mendukung upaya yang bertujuan untuk menuju solusi politik bagi krisis Libya.

Dalam beberapa pekan terakhir, ketegangan terus meningkat di wilayah Mediterania setelah kesepakatan kontroversial yang ditandatangani antara Ankara dan Pemerintah GNA Libya yang dipimpin oleh Perdana Menteri Fayez Al-Sarraj.

Mesir telah menegaskan dukungan tegasnya terhadap LNA yang berbasis di timur dan komandannya Khalifa Haftar, dan menekankan penolakannya terhadap "segala bentuk intervensi dalam urusan domestik Libya."

Editor : Sabar Subekti


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home