Loading...
EKONOMI
Penulis: Reporter Satuharapan 17:46 WIB | Minggu, 22 Desember 2019

“Lorong Bambu”, Destinasi Selfie Baru di Banyuwangi

Lorong Bambu di depan Gedung Seni dan Budaya (Gesibu), Jl Veteran Banyuwangi, yang dirancang oleh seniman instalasi bambu asal Yogyakarta Novi Kristinawati Sunoto, akan dijadikan pusat kegiatan kreatif warga Banyuwangi. (Foto: banyuwangikab.go.id)

BANYUWANGI, SATUHARAPAN.COM – Banyuwangi terus menumbuhkan destinasi baru yang ikonik. Kini, di pusat kota berdiri terowongan “Lorong Bambu”, destinasi yang sangat instagramable.

Lorong Bambu adalah instalasi seni berupa terowongan yang terbuat dari ornamen bambu dilengkapi membran yang menutupi atapnya. Terowongan Bambu ini membentang tepat di atas Jalan Veteran di tengah kota, tepatnya di depan Gedung Seni dan Budaya (Gesibu).

Instalasi tersebut diresmikan oleh Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas pada Rabu, 18 Desember 2019, malam, bertepatan dengan Peringatan Hari Jadi ke- 248 Kabupaten Banyuwangi. Anas mengatakan Lorong Bambu sebuah instalasi unik yang berbentuk kurva menyerupai terowongan terbuka berbahan bambu. Instalasi unik itu sengaja ditempatkan di pusat kota karena terintegrasi dengan kawasan bersejarah Banyuwangi.

“Kami sedang membangun kawasan pusat kota sebagai pusat wisata sejarah Banyuwangi. Untuk itu, kami ingin melengkapi kawasan tersebut dengan destinasi yang sangat ikonik khas Banyuwangi,” kata Anas, seperti dilansir situs resmi banyuwangikab.go.id.

Di kawasan tersebut ada bangunan Inggrisan yang dibangun pada tahun 1889, serta juga ada kantor pos peninggalan zaman kolonial Belanda. Juga ada Gedung Juang yang tengah direnovasi menjadi pusat aktivitas warga kota.

“Bagi Banyuwangi, setiap tempat adalah destinasi, dan setiap aktivitas adalah atraksi. Terowongan ini bisa menjadi destinasi wisata. Aktivitas di sini juga menjadi atraksi wisata,” kata Anas.

Destinasi Selfie Baru bagi Warga Banyuwangi

Terowongan bambu itu dirancang oleh seniman instalasi bambu asal Yogyakarta Novi Kristinawati Sunoto. Pengerjaannya memakan waktu sekitar tiga bulan. Semua instalasi terbuat dari bambu, mulai atap hingga selasarnya. Panjang terowongan ini berkisar 62 meter dengan lebar 13 meter.

Anas memilih bambu untuk sebuah instalasi di kota karena bambu sangat mudah ditemui di Banyuwangi. Bahkan, di Banyuwangi terdapat desa sentra kerajinan bambu, yakni Desa Gintangan, Kecamatan Blimbingsari, Banyuwangi.

Warga Desa Gintangan ini berhasil menjadikan bambu sebagai komoditas ekonomi dan menumbuhkan ekonomi kreatif. Bahkan, warga Desa Gintangan setiap tahun menggelar “Gintangan Bamboo Festival”.

Kawasan Lorong Bambu ini akan dijadikan pusat kegiatan kreatif warga Banyuwangi. Berbagai festival akan digelar di jalanan itu. “Ini akan menjadi ‘Jalan Festival’, karena festival yang bakal digelar di kota akan kami tempatkan di sini. Ini juga akan menjadi destinasi selfie baru bagi warga Banyuwangi,” kata Anas.

 


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Back to Home