Loading...
FOTO
Penulis: Dedy Zulkifli 20:14 WIB | Rabu, 20 November 2013

Mardinding Diselimuti Abu Gunung Sinabung

Mardinding Diselimuti Abu Gunung Sinabung
Seekor anjing kurus ditinggal tuannya di desa Mardinding Selasa (19/11). (Foto-foto: Dedy Zulkifli)
Mardinding Diselimuti Abu Gunung Sinabung
Desa Mardinding tampak dari atas bukit.
Mardinding Diselimuti Abu Gunung Sinabung
Tanaman hias milik warga Desa Mardinding tertutup debu dari Gunung Sinabung.
Mardinding Diselimuti Abu Gunung Sinabung
Seorang warga desa melintas di jalan kampung.
Mardinding Diselimuti Abu Gunung Sinabung
Semburan Gunung Sinabung terlihat dari Desa Mardinding.
Mardinding Diselimuti Abu Gunung Sinabung
Semburan Gunung Sinabung terlihat dari Desa Mardinding.
Mardinding Diselimuti Abu Gunung Sinabung
Warga mesti mengenakan masker.
Mardinding Diselimuti Abu Gunung Sinabung
Seorang warga menonton aktivitas Gunung Sinabung
MARDINDING, SATUHARAPAN.COM - Desa Mardinding diselimuti abu vulkanik pascaerupsi Gunung Sinabung pada 3 Oktober 2013. Penduduknya terpaksa diungsikan ke Kecamatan Tiganderket, Kabupaten Karo, Sumatera Utara. Desa itu sekarang nyaris kosong. Hanya terlihat beberapa warga berjaga di jalan masuk desa agar tidak sembarang orang bisa masuk.
Secara geografis Desa Mardinding berada dalam radius tiga kilometer dari Gunung Sinabung di sisi barat daya. Radius itu masuk dalam zona merah bahaya erupsi, sebab itu desa itu harus dikosongkan saat meletus pertama kali pada pertengahan September lalu.
Kini Desa Mardinding bagaikan tempat yang disulap jadi batu dalam kisah-kisah dongeng. Pemandangan didominasi tanah kelabu dan dedaunan tertutup abu. Suasananya pun sungguh sunyi. Hanya tampak beberapa anjing kurus yang lapar berkeliaran di depan rumah dan jalan-jalan kelabu.
Nasib warga Mardinding, yang umumnya petani, juga jadi tak menentu. Kebun cabe, kol, tomat, tak tertolong. Bahkan sebagian pohon kopi tak luput dari kerusakan.
Beberapa warga yang bosan di posko pengungsian mencoba mengisi waktu dengan bekerja serabutan. Salah satunya adalah Septa Ginting, yang kebun cabenya gagal panen. “Daripada duduk-duduk saja di posko, lebih bagus kami kerja di tempat lain,” kata Septa pada Selasa (19/11).  
Bersama dua rekannya, Septa memutuskan bekerja di Tiga Panah, Karo, sebagai tukang semprot hama dan pemupukan di kebun. “Pagi kami berangkat, sore balik lagi ke posko,” ia menambahkan.
Tidak semua warga bisa seperti Septa, sebagian ada yang mencoba kembali memperbaiki budi daya pertaniannya atau menunggu di posko. 
Ditinggal lebih dari dua minggu warganya mengungsi, Desa Mardinding memang sudah tidak lagi seperti dulu. Gunung Sinabung yang selama ini diam termangu mendampingi, kini menggeliat aktif tidak tahu sampai kapan berhenti. Yang bisa dilakukan warga hanya berharap dan berdoa semoga amukan magma di perut Sinabung mereda, lalu menata kembali dengan paradigma baru untuk bisa bersahabat dengan gunung yang telah lama mati suri itu.
Warga Mardinding yang menggantungkan hidup pada pertanian, khususnya cabe, tomat, dan kol, hanya bisa pasrah, menelan kegetiran, karena panen yang bakal gagal. Mereka hanya bisa menunggu di pengungsian. 

Editor : Sotyati


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home