Loading...
INSPIRASI
Penulis: Yoel M Indrasmoro 07:16 WIB | Jumat, 05 Mei 2017

"Masak Kumakan Sendiri?"

Indahnya berbagi.
Wrekudara alias Bima (foto: istimewa)

SATUHARAPAN.COM – ”Kapan kau pulang? Oleh-olehnya, ya!” Tukasnya tanpa rasa salah sedikit pun. Aku heran, sejak pagi hingga siang ini, dari tujuh orang yang kami temui, setiap orang ia sapa dengan permintaan sama: oleh-oleh.

Namanya Bima. Aku sering tertawa dalam hati, mengapa orang tuanya memberi nama demikian. Badannya tidak begitu tinggi dan sangat krempeng. Jauh berbeda dengan Bima yang kukenal dalam dunia pewayangan: pendekar tinggi-besar dari negeri Amarta.

Satu hal yang membuatnya hampir sama dengan tokoh Bima ialah kesukaannya dalam hal makanan. Tak habis pikir memang, orang yang kesukaannya makan ini ternyata tak pernah menjadi gemuk sedikit pun. ”Kan nggak semua energiku jadi daging. Lebih banyak kugunakan untuk berpikir,” kilahnya sembari guyon suatu kali.

Aneh memang kalau melihat orangnya. Apalagi kebiasaannya mengumpulkan oleh-oleh di kala liburan usai. ”Pada dasarnya, setiap orang senang memberi. Nggak salah kan, membuat orang berbuat baik kepada kita?” katanya berargumentasi.

”Lagi pula mereka nggak keberatan kok? Bahkan ada seorang kawan pernah berkata, ’Ambil dong oleh-olehnya di rumah!’ Ini kan bukti, mereka nggak keberatan dengan permintaanku!” Mendengar alasannya. Aku hanya bisa diam.

***

Saat tahun ajaran baru tiba, sekonyong-konyong Bima datang ke tempat kosku. ”Mau ikut aku nggak?” Ajaknya penuh harap.

”Kemana?”

Ngumpulin oleh-oleh,” balasnya singkat, ”Rabu kemarin kapal dari Medan mendarat di Tanjung Priok. Nah, sekarang giliran kita mengambil oleh-olehnya.” Aku menurut saja, daripada bengong di rumah.

Terasa aneh memang. Di setiap rumah yang kami kunjungi, Bima selalu disambut baik bak kawan lama yang tidak pernah bertemu. Tak kulihat sedikit pun rasa sesal tersirat di setiap wajah yang memberikan oleh-oleh tersebut.

Dalam perkara rasa pun, aku harus memberi acungan jempol kepada Bima. Apa lagi saat dia memuji makanan yang ada, sementara aku sendiri sulit menafsir rasanya.

Kelihatannya, Bima sudah siap dengan rencananya, terbukti dengan tas ranselnya yang cukup besar.

Setelah ngobrol ngalor-ngidul dan mengunjungi beberapa teman lainnya, kami pun pulang dengan membawa ”jarahan” yang cukup banyak.

Tapi, aku sangat terkejut manakala dalam perjalanan pulang, saat bertemu kawan-kawan persekutuan yang lain, dengan relanya Bima membagi-bagikan oleh-oleh tersebut.

Ia juga  memperkenalkan identitas makanan tersebut secara lengkap. Mulai dari nama, asal daerah, dan siapa yang memberikannya. Pola yang sama, diulanginya saat bertemu dengan kawan lainnya.

Akhirnya, saat pulang ke tempat kosku, aku dan Bima hanya kebagian sedikit saja dari ”jarahan” yang berhasil kami kumpulkan.

Saat kutanyakan hal ini kepada Bima, ia hanya berkata, ”Aku cuma dikasih kok, masak  kumakan sendiri?”

Hanya itu alasannya. Singkat. Membuatku makin melongo.

 

Email: inspirasi@satuharapan.com

Editor : Yoel M Indrasmoro


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home