Loading...
EKONOMI
Penulis: Melki Pangaribuan 18:10 WIB | Selasa, 03 November 2015

Mata Uang Asia Menguat Terhadap Dolar AS

Ilustrasi. Kurs dolar Amerika Serikat melemah di Asia pada hari Selasa (3/11). (Foto: Antara)

SINGAPURA, SATUHARAPAN.COM - Kurs dolar Amerika Serikat melemah di Asia pada hari Selasa (3/11), dalam perdagangan yang hati-hati karena investor menunggu rilis data ekonomi utama AS yang dapat mempengaruhi keputusan The Fed tentang suku bunganya.

Dolar Australia juga menguat terhadap mata uang AS setelah bank sentral Australia, Reserve Bank of Australia (RBA), mempertahankan suku bunganya pada rekor terendah dua persen, tetapi terus membuka pintu untuk pelonggaran lebih lanjut karena ekonomi melambat akibat pelemahan pertumbuhan Tiongkok.

Pasar keuangan Jepang ditutup untuk hari libur nasional.

"Dalam apa yang akan terlihat seperti seminggu yang bergelombang, investor agak hati-hati," Bernard Aw, analis pasar di IG Markets di Singapura, mengatakan kepada AFP.

Dia mengatakan investor mengurangi posisi dolar AS mereka karena mereka menunggu data ekonomi AS terbaru minggu ini yang diharapkan dapat memberikan gambaran lebih jelas tentang kesehatan ekonomi terbesar di dunia itu, termasuk data penggajian non pertanian yang dipantau secara cermat.

"Para investor mengurangi kembali posisi dolar mereka yang panjang dan ini membantu mata uang Asia," kata Aw.

Dia menambahkan bahwa data AS akan "mengatur nada" untuk spekulasi lebih lanjut tentang langkah berikutnya oleh Federal Reserve pada suku bunganya.

The Fed sejauh ini telah menahan dari untuk menaikkan suku bunga pertama sejak 2006, mengutip kondisi ekonomi global yang lesu.

Namun, pada bulan lalu, para anggota pengatur kebijakan Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) mengisyaratkan mereka mungkin menaikkan suku bunga selama pertemuan terakhir mereka tahun ini pada Desember.

Kenaikan suku bunga AS biasanya akan mengayunkan investasi ke Amerika Serikat untuk imbal hasil yang lebih tinggi dan meningkatkan mata uang AS.

Di perdagangan Singapura sekitar pukul 06.20 GMT, dolar AS turun terhadap dolar Singapura, dolar Taiwan, won Korea Selatan, peso Filipina, rupiah Indonesia, rupee India, yuan Tiongkok, ringgit Malaysia dan baht Thailand.

Dolar diperdagangkan pada 120,68 yen Jepang, turun dari 120,77 yen di akhir perdagangan AS pada Senin.

Euro berbalik lebih tinggi pada 1,1019 dolar dari 1,1014 dolar, tapi lebih rendah pada 132,98 yen dari 133,02 yen.

Dolar Australia naik 0,67 persen di 0,7195 dolar AS setelah keputusan RBA, tapi dolar Selandia Baru melemah 0,01 persen di 0,6743 dolar AS.

"RBA mempertahankan suku bunga pada rekor rendah 2,0 persen, tetapi mengindikasikan bahwa tingkat inflasi yang lebih lemah memungkinkan bank untuk memperlonggar kebijakannya lagi jika diperlukan," United Overseas Bank Singapura mengatakan dalam sebuah catatan.

"Kami terus mengawasi tingkat suku bunga utama (cash rate) tetap sebesar 2,00 persen untuk saat ini, meskipun kita mengakui bahwa inflasi yang rendah dan pengetatan bank-bank besar mungkin akhirnya memaksa RBA bertindak."

Capital Economics mengatakan mereka memperkirakan RBA untuk memangkas suku bunga menjadi 1,5 persen "tak lama" lagi karena inflasi lebih lemah. (AFP/Ant)

Editor : Eben E. Siadari


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home