Loading...
SAINS
Penulis: Dewasasri M Wardani 09:03 WIB | Selasa, 26 Mei 2015

Mekanisme Dana Abadi Disiapkan untuk Penelitian Indonesia

Presiden ke-3 RI B.J. Habibie (kanan) berbincang dengan dua orang anggota baru Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI) Dewi Fortuna Anwar (tengah) dan Armida Salsiah Alisjahbana (kiri) pada acara jamuan makan malam perayaan ulang tahun ke-25 AIPI di Kediaman B.J. Habibie di kawasan Kuningan, Jakarta, Minggu (24/5/15) malam. (Foto: Antara/Widodo S. Jusuf)

JAKARTA, SATUHARAPAN.COM – Rendahnya dana penelitian, yang dianggarkan pemerintah mendorong Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI),  perlu menyiapkan dana abadi, untuk kemajuan penelitian Indonesia melalui badan otonom Dana Ilmu pengetahuan Indonesia atau Indonesian Science Fund (ISF).

"Rendahnya dana penelitian selama ini, membuat kita berpikir perlu mekanisme penelitian yang lebih baik. Dana Ilmu pengetahuan Indonesia (ISF) segera diluncurkan menjadi mekanisme dana penelitian yang sistemnya berhasil kami buat," kata Ketua AIPI Sangkot Marzuki dalam acara Silver Jubilee AIPI di Jakarta, Senin (25/5).

ISF, akan dikelola oleh tim keuangan independen AIPI, dan hanya menggunakan "income" dari daya yang didapat untuk mendanai penelitian hingga peningkatan kapasitas.

"Jadi, dana yang ada akan terus bertumbuh. Mekanismenya seperti Kehati  (yayasan yang bergerak di bidang pelestarian keanekaragaman hayati di Indonesia), yang dikembangkan Prof Emil Salim," katanya.

Karena itu, ia mengatakan, "income" dari ISF akan dimaksimalkan terlebih dulu, untuk dapat mendanai penelitian secara independen di Indonesia.

Karena dana terbatas dan bukan berasal dari APBN. Maka, menurut dia, semua peneliti boleh mengajukan dana penelitan,  namun tentu harus memperlihatkan, peneliti tersebut memiliki fasilitasnya. Selain itu juga ada skala prioritas bidang penelitian yang boleh diajukan.

"Ada prosedur dan akan ada semacam juri yang akan menyeleksi, karena itu ini sangat kompetitif," kata  dia.

Semua dana penelitian ISF, lanjutnya, hanya untuk mendanai sains fundamental dan strategis, dan hanya untuk bidang-bidang yang memang menjadi problem di Indonesia.

Selama ini, menurut Sangkot, banyak hambatan dan minim fasilitas menjadi persoalan pendanaan bagi peneliti di Indonesia. Padahal ilmuwan ingin bisa berbuat banyak untuk kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Butuh dana besar untuk menyelesaikan sebuah penelitian, dan selama ini sistem dana yang diberikan melalui APBN hanya satu tahun saja maka tidak ada garansi ada pendanaan untuk melanjutkan penelitian.

"Apalagi kalau dana penelitian dari APBN baru keluar bulan Maret dan harus sudah dilaporkan bulan September. Jadi bikin peneliti tidak bisa serius, padahal penelitian besar butuh waktu bertahun-tahun, karenanya butuh pendanaan `multi-year`," kata  dia.

ISF, ia mengatakan menjadi jawaban sementara untuk pendanaan penelitian di Indonesia. Karena pada akhirnya regulasi pendanaan penelitian yang berbelit di Indonesia harus diperbaiki.

"Hampir semua negara maju sudah menggunakan mekanisme pendanaan penelitian seperti ISF, bahkan Thailand saja sudah punya Thailand Research Fund. Tidak pantas kan kalau negara besar seperti Indonesia dana risetnya sama dengan Senegal," kata  Sangkot.

ISF sengaja dibuat menjadi dana abadi, sebagian dana harus berasal dari pemerintah. "Kalau semua dana asing bisa-bisa disebut proyek asing," kata dia.

Rencananya ISF baru akan diluncurkan pada Rabu (27/5), yang dihadiri Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro dan Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Andrinof Chaniago. (Ant)

Editor : Bayu Probo


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home