Loading...
RELIGI
Penulis: Endang Saputra 17:16 WIB | Sabtu, 14 Februari 2015

Menag: IMWU Sangat Kontributif Bagi Perempuan Muslim

Menteri Agama Republik Indonesia Lukman Hakim Saifuddin dalam pembukaan 'Seminar Internasional dari International Moslem Woman Union', di Plaza Universitas Islam Assyafiiyah, Jalan Raya Jatiwaringin No.12 Pondok Gede, Bekasi, Sabtu (14/2). (Foto: Endang Saputra)

BEKASI, SATUHARAPAN.COM – Menteri Agama Republik Indonesia Lukman Hakim Saifuddin menilai Organisasi International Muslim Women Union (IMWU) ini merupakan sesuatu yang sangat kontributif bagi perempuan muslim dalam membangun peradaban masa depan.

“Keberadaan IMWU bagi saya merupakan sesuatu yang sangat kontributif bagi perempuan muslim. Sebab, kedudukan perempuan mengungkapkan perempuan adalah tiang negara. Apabila perempuan baik, baiklah sebuah negara, apabila perempuannya rusak maka rusaklah negara tersebut,” kata Lukman Hakim dalam pembukaan 'Seminar Internasional dari International Muslim Woman Union', di Plaza Universitas Islam Assyafiiyah, Jalan Raya Jatiwaringin No. 12 Pondok Gede, Bekasi, Sabtu (14/2).

Untuk itu, kata Menag Indonesia dengan jumlah penduduk pemeluk agama Islam terbesar di dunia dapat dipastikan jumlah perempuan muslimnya pun terbesar di dunia.

“Banyak tokoh Indonesia yang telah membuktikan kepeloporannya sejak zaman kemerdekaan hingga saat ini tidak terhitung perempuan Indonesia yang telah mengukir prestasi reputasi di bidang kehidupan baik keagamaan baik kemasyarakatan dan kebangsaan,” kata dia.

Menurut Menag sejak puluhan tahun yang lalu telah berdiri perkumpulan dan organisasi yang mewadahi kiprah para perempuan.

“Saya mendapatkan hampir semua organisasi perempuan terbesar Islam di Indonesia memiliki organisasi otonom untuk kaum perempuan seperti muslimat NU, HMIwati atau, Kohati, Aisyiah, perempuan Islam dan banyak lagi yang lain,” kata dia.

Namun kata Menag barang kali sulit menemukan negara lain yang jumlah variasi dan perkumpulan atau organisasi perempuannya melebihi di Indonesia baik organisasi perempuan keagamaan profesi politik, sosial maupun kekaryaan.

“Kita mengetahui warna dunia tidak dapat dipisahkan eksistensi dan kaum perempuan sejarah mencatat setiap terjadi revolusi peradaban dunia ini selalu ada peran perempuan, dalamnya setiap kesuksesan, pokoknya selalu ada perempuan yang menopangnya,” kata dia.

Lebih lanjut Menag mengatakan bahkan tidak sedikit peristiwa monumental yang dicatat dalam sejarah kemanusiaan yang mengabadikan peran perempuan Islam telah menggariskan sederajat dengan laki-laki, Islam mengatur hak dan kewajiban perempuan secara adil dalam keluarga dan masyarakat.

“Islam yang ajarannya mencerahkan dan menerangkan jagat kehidupan, dunia tidak mengikat kaum perempuan hanya berada di rumah tanpa beraktivitas di masyarakat, namun sebaliknya Islam tidak juga biarkan kaum perempuan menghabiskan waktunya di luar rumah dan menjadikan keluarga sekadar sebagai status belaka, perempuan muslim haruslah menjaga keseimbangan peran yang terberat dalam keluarga yaitu sebagai Istri dan ibu dan peran sosial dalam masyarakat membina generasi berkualitas dan mewujudkan masyarakat beradab,” katanya.

Oleh karena itu, kata Menag seharusnya organisasi dan gerakan perempuan muslim yang memperjuangkan secara gender negara-negara yang berpenduduk muslim tidak boleh terbalut dari nilai-nilai keislamannya gerakan emansipasi perempuan.

“Saya akan terus mendukung dan siap bersinergi dengan IMWU sesuai dengan kapasitas saya sebagai Menag, agar dapat bekerja sama dengan organisasi-organisasi lain yang sejenis yang bisa diharapkan,” katanya.

Editor : Bayu Probo


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home