Loading...
DUNIA
Penulis: Melki Pangaribuan 16:45 WIB | Sabtu, 18 Juni 2016

Menteri Ekonomi Prancis: Uni Eropa Bubar bila Inggris Keluar

Emmanuel Macron, menteri ekonomi Prancis (Foto:huffingtonpost.com)

PARIS, SATUHARAPAN.COM - Sebuah peringatan pesimistis dilontarkan oleh Menteri Ekonomi Prancis lima hari menjelang referendum di Inggris terkait keanggotaannya di Uni Eropa.

Emmanuel Macron, pada hari Jumat (17/6) mengingatkan bahwa Uni Eropa bisa bubar dan anggotanya satu per satu bisa mengikuti jejak Inggris bila negara itu lewat referendum memutuskan keluar dari UE.

Ia mengingatkan bahwa jika Inggris memilih keluar, UE harus “bertindak secepat mungkin untuk mengindari negara-negara lain mengambil langkah serupa.”

Ia mengakui bahwa berbagai aturan di UE memang harus diatur ulang. Ia juga berpendapat, daripada referendum memutuskan keluar atau tetap bertahan di UE, seharusnya referendum yang perlu dilaksanakan adalah menyangkut masa depan UE.

“Ini akhir dari sebuah Eropa ultraliberal yang sudah kehilangan arah politiknya,” kata Macron. Menurut dia, proyek Eropa seharusnya bukan lagi sekadar menjadi sistem penghapusan aturan. Inti dari perdebatan di Inggris, menurut dia, adalah mengkaji efek kebijakan ultraliberal selama ini terasa seperti dipaksakan oleh Eropa kepada negara-negara anggota.

“Masalahnya bukan apakah kita bisa lebih kompetitif, jika kita membuka pasar ini dan itu, tapi apakah kita bisa sukses untuk hidup lebih baik bersama-sama,” kata mantan banker Rothschild berusia 38 tahun itu.

Tentang Referendum Brexit

Brexit adalah istilah yang dikaitkan dengan referendum yang akan diadakan pada Kamis 23 Juni untuk memutuskan apakah Inggris harus meninggalkan atau tetap di Uni Eropa.

Dalam referendum  setiap orang (atau hampir semua orang) dari usia pemilih dapat mengambil bagian, dengan memberikan jawaban “Ya” atau “Tidak” terhadap petanyaan yang diajukan.

Di Inggris referendum  dilaksanakan untuk memutuskan akan tetap bertahan di UE atau tidak, karena Perdana Menteri David Cameron berjanji untuk mengadakan referendum jika ia memenangkan pemilihan umum 2015. Ini ia lakukan dalam menanggapi seruan dari anggota parlemen partainya, Partai Konservatif dan Independence Party (UKIP). Alasannya, Inggris tidak mempunyai hak suara sejak 1975, ketika Pemilihan untuk tetap di Uni Eropa (European Union) saat referendum. Uni Eropa berubah banyak sejak saat itu, mendapatkan kontrol lebih besar atas kehidupan  Inggris sehari-hari.  

Sebagai catatan UE adalah persekutuan ekonomi dan politik yang melibatkan 28 negara-negara Eropa. Dimulai setelah Perang Dunia II untuk mendorong kerjasama ekonomi dengan gagasan bahwa negara-negara yang berdagang bersama lebih mungkin untuk menghindari  berperang satu sama lain. Ia kemudian berkembang menjadi “Single Market” yang memungkinkan barang dan juga orang-orang untuk berpindah, pada dasarnya seperti warga dari satu negara.

Uni Eropa memiliki mata uang sendiri yaitu EURO yang digunakan oleh 19 negara anggota, memiliki parlemen sendiri dan sekarang menerapkan aturan dalam berbagai bidang termasuk pada lingkungan, transportasi, hak-hak konsumen dan bahkan hal-hal seperti biaya telepon selular.

Yang berhak memberikan suara pada saat referendum nanti adalah warga Inggris, warga Irlandia,  warga negara Commonwealth yang bertempat tinggal di Inggris bersama dengan warga negara Inggris yang tinggal di luar negeri yang telah terdaftar pada pemilihan Inggris dalam 15 tahun terakhir. Anggota House of Lords dan warga Commonwealth di Gibraltar juga berhak memberikan suara, tidak seperti saat pemilihan umum. namun warga dari negara-negara Uni Eropa – terlepas dari Irlandia, Malta dan Siprus  – tidak akan mendapatkan suara.

Menurut jejak pendapat terbaru, penduduk Inggris cukup terbagi rata dalam referendum ini.   Partai Kemerdekaan Inggris yang memenangkan pemilu Eropa terakhir dan menerima hampir empat juta orang dalam pemilihan umum bulan Mei berkampanye untuk Inggris keluar dari Uni Eropa.

Sekitar setangah dari anggota Partai Konservatif, termasuk lima menteri kabinet, beberapa buruh anggota parlemen dan DUP juga mendukung meninggalkan UE

Sementara itu, Perdana Menteri David Cameron ingin Inggris untuk tetap di Uni Eropa. Enam belas anggota kabinetnya juga mendukung sikapnya, dan  berjanji untuk bersikap netral dalam kampanye. Partai Buruh, SNP, Plaid Cymru dan Lib Dems juga  mendukung. Presiden AS Barack Obama juga ingin Inggris untuk tetap di Uni Eropa, Seperti yang dilakukan negara-negara Uni Eropa lainnya seperti Prancis dan Jerman.

Penghitugan suara referendum akan berlangsung saat pemungutan suara ditutup pukul 22.00 GMT Kamis 23 Juni di 382 pusat lokal di seluruh Inggris. Kepala  petugas penghitungan akan mengumumkan hasil keseluruhan di Balai Kota Manchester. (AFP/stva.com)

 

Editor : Eben E. Siadari


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home