Loading...
EKONOMI
Penulis: Sotyati 16:23 WIB | Kamis, 31 Juli 2014

Mode Busana Muslim, Siap Jadi Acuan Dunia

Mode Busana Muslim, Siap Jadi Acuan Dunia
Itang Yunasz dengan koleksi rancangannya, mampu menembus pasar dunia. (Foto: Dok JFFF 2014)
Mode Busana Muslim, Siap Jadi Acuan Dunia
Brand NurZahra ketika tampil di panggung Tokyo Fashion Week 2014 pada Maret lalu, dengan penutup kepala yang terinspirasi dari penutup kepala yang dikenakan aktris Hollywood Jean Seberg pada 1963. (Foto: AFP/Toshifumi Kitamura)

JAKARTA, SATUHARAPAN.COM – Keragaman gaya busana dan perputaran tren yang dinamis menjadi salah satu dasar Indonesia berpotensi sebagai acuan atau referensi bagi industri mode muslim global.

Perancang dan brand busana muslim di Indonesia terbukti tak pernah henti berkreasi menciptakan ragam gaya dan kreasi baru. Tren busana muslim dan atribut pelengkapnya berganti dengan cepat untuk memenuhi berbagai selera dan kebutuhan pasar.

Sejumlah kaidah yang ditetapkan untuk busana muslim tidak menjadi hambatan bagi desainer ataupun brand dalam mengeksplorasi kreativitas merancang. Lebih kurang lima tahun belakangan ini, contohnya, bermunculan desainer dan brand yang menawarkan gaya busana muslim dengan kreasi baru dan ciri khas masing-masing sehingga menciptakan begitu banyak pilihan.

Jika sebelumnya busana muslim cenderung dianggap monoton dengan pilihan terbatas pada gamis atau abaya dengan warna yang didominasi hitam dan putih, belakangan pilihan tak lagi terbatas. Fashion items pun sangat variatif, seperti blus, cardigan, celana, dan rok, dengan bahan, motif, dan warna makin beragam pula.  Salah satu unsur dari produk busana muslim Indonesia yang mendapat pengakuan dunia terletak pada keunggulan craftmanship.   

Pemain bisnis mode muslim juga berupaya membuat rancangan yang sesuai dengan gaya hidup kaum urban yang dinamis. Brand NurZahra, contohnya, yang mengaplikasikan teknik batik dan shibori dalam motif geometris kontemporer dengan pewarnaan bahan alam, mengikuti tren fashion secara global tanpa kehilangan identitas keislaman.

Geliat pasar busana muslim Indonesia semakin terasa ketika para desainer mulai menggali dan mengeksplorasi kekayaan seni tradisi seperti sulam atau bordir hingga motif-motif tradisional, dalam menciptakan karya. Berbekal kekayaan adati itu gaya busana muslim Indonesia tampil beda dibandingkan busana muslim lain di dunia.

Itang Yunasz, perancang busana yang selalu mengangkat kekayaan budaya Nusantara, meluncurkan koleksi terbaru Kamilaa sebelum memasuki Ramadan tahun ini dengan menampilkan keindahan sulam dan eksotisme motif tenun Nusantara. Jika sebelumnya ia sudah berhasil menembus pasar Malaysia, Brunei Darussalam, dan California-Amerika Serikat, bersamaan dengan peluncuran koleksi terbaru Kamilaa pada Mei lalu ia berhasil menembus pasar Turki.

Mengembalikan Kejayaan

Melihat perkembangan bisnis busana muslim yang menggairahkan beberapa tahun belakangan ini, Direktur Indonesia Fashion Week Dina Midiani menilai Indonesia bisa mengembalikan kejayaan produk busananya seperti pada dekade 80 – 90.

“Kita pernah mengalami masa-masa di mana kita bangga mengenakan busana dengan brand lokal seperti Osella, Triset, Hammer, dan lain-lain,” kata Dina dalam pertemuan dengan wartawan 23 Juli lalu.

Namun, kejayaan itu kemudian cepat ambruk ketika produk-produk Tiongkok masuk membanjiri Indonesia. “Itu terjadi karena kita terlena, sementara Tiongkok menyiapkan produksi busananya dengan teliti dari hulu sampai ke hilir,” Dina berpendapat.

Karena itu ia berharap ada “revolusi mental”, terutama di kalangan pelaku bisnis busana muslim yang paling siap memasuki pasar global. “Dengan catatan kita tidak boleh terlena lagi, dan mempersiapkan diri lebih komprehensif,” kata Dina.

Dengan semangat menyatukan langkah, Dina optimistis Indonesia mampu meraih cita-citanya menjadi pusat referensi mode busana muslim di tingkat Asia pada 2018 dan pusat referensi mode busana muslim dunia pada 2020.     


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home