Loading...
RELIGI
Penulis: Diah Anggraeni Retnaningrum 06:08 WIB | Minggu, 17 Juli 2016

Muhammadiyah Kecam Teror Prancis dan Kudeta Turki

Tank-tank militer ditinggalkan di jalanan setelah polisi berhasil mengambil alih kendali militer di Uskandar, Istanbul, 16 Juli 2016. Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan meminta warga Turki untuk tetap berada di jalanan seiring dengan upaya pasukannya untuk mengambil alih kendali setelah percobaan kudeta oleh faksi militer. (Foto: AFP/Bulent Kilic)

MAKASSAR, SATUHARAPAN.COM - Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Dr Haedar Nashir mengecam aksi teror yang terjadi di Prancis dan kudeta yang terjadi di Turki minggu ini.

"Siapapun pelakunya setiap teror mematikan yang menghilangkan nyawa merupakan perbuatan tak dibenarkan oleh Islam," ujar Haedar saat diwawancarai di Universitas Muhammadiyah Makassar, hari Sabtu (16/7).

Dia mengemukakan hal itu di sela-sela menghadiri Silaturrahim Keluarga Muhammadiyah Sulsel yang turut dihadiri anggota DPD Iqbal Parewangi, Wali Kota Makassar Muhammad Ramdhan Pomanto dan sejumlah tokoh lainnya.

"Islam tidak membenarkan adanya terorisme. Kalaupun pelakunya orang Islam, mereka tidak mewakili Islam sebagai sebuah ajaran," kata pria yang terpilih pada Muktamar Muhammadiyah di Makassar tersebut.

Terkait aksi kudeta di Turki Jumat (15/6), Haedar bersyukur bahwa aksi tersebut hanya dilakukan faksi kecil militer dan tidak didukung penuh oleh militer yang ada di negara tersebut.

"Memang akhir-akhir ini banyak kejadian di dalam negeri Turki. Turki itu ada yang ke Timur Tengah, ada yang ke Eropa. Imigran Turki itu tangguh. Banyak bangunan di Jerman milik mereka," katanya.

Sementara itu saat berceramah tentang silaturahmi dia mengatakan dalam Islam orang yang banyak menyambung silaturahmi akan diperpanjang umurnya.

"Ada sahabat atau yunior kita datang ke rumah kita pasti senang. Majalah Suara Muhammadiyah silaturahmi ke Unismuh maka lahirlah kerja sama," katanya.

Sedangkan musuh silaturahmi, ujar dia, adalah memutus persaudaraan sedangkan memutus persaudaraan lebih mudah dari membangun persaudaraan.

"Nabi memberi waktu tiga hari ketika orang tidak bertegur sapa. Kalau persaudaraan kita terputus. Datangi dia. Mempertautkan yang putus susah karena ada ego. Puncak spiritualitas pascapuasa adalah mempertautkan yang putus," katanya. (Ant)

Editor : Diah Anggraeni Retnaningrum


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home