Loading...
BUDAYA
Penulis: Moh. Jauhar al-Hakimi 16:28 WIB | Jumat, 16 November 2018

Ngayogjazz 2018 Mlipir Kembali Ke Jogja Selatan

Ngayogjazz 2018 Mlipir Kembali Ke Jogja Selatan
Poster Ngayogjazz 2018, Sabtu (17/11) di Desa Gilangharjo, Kec. Pandak-Bantul. (Foto: Panitia Ngayogjazz 2018)
Ngayogjazz 2018 Mlipir Kembali Ke Jogja Selatan
Antropolog Kris Budiman (batik putih) saat memberikan penjelasan pada jumpa pers Ngayogjazz 2018, Kamis (15/11). (Foto: Moh. Jauhar al-Hakimi)

YOGYAKARTA, SATUHARAPAN.COM – Memasuki penyelenggaraan yang ke-12, Ngayogjazz 2018 kembali digelar dengan mengangkat tema “Negara Mawa Tata, Jazz Mawa Cara” yang disadur dari bebasan Jawa Negara mawa Tata, Jazz mawa Cara.

Ngayogjazz 2018 diselenggarakan pada hari Sabtu Legi, 17 November 2018 di Desa Gilangharjo, Pandak, Bantul pukul 10.00 WIB – 23.00 WIB. Menghadirkan lebih dari 40 kelompok musik dan ratusan seniman dari Indonesia maupun luar negeri seperti Perancis, Belanda, Spanyol dan Italia.

Desa menjadi salah satu penanda setiap penyelenggaraan Ngayogjazz dari tahun ke tahun. Setelah enam tahun penyelenggaraan selalu dihelat di wilayah Sleman (Yogyakarta bagian utara), Nyagogjazz tahun ini digelar mlipir ke wilayah selatan Yogyakarta tepatnya di di Desa Gilangharjo, Pandak, Bantul. Terakhir kali Ngayogjazz dihelat di Bantul pada tahun 2009 saat digelar di Pasar Seni Gabusan. Sejak tahun 2012 penyelenggaraan Ngayogjazz selalu dilaksanakan di desa-desa dengan berbagai alasan salah satunya adalah mendekatkan musik jazz dengan masyarakat serta memperkenalkan potensi-potensi desa di wilayah Yogyakarta.

Kepala Desa Gilangharjo Pardiyono menjelaskan bahwa masyarakat Gilangharjo siap menyambut kehadiran Ngayogjazz 2018 beserta pengunjung dengan sajian ala pedesaan. Persiapan dalam berbagai hal menjadi penting mengingat dalam setiap perhelatan Ngayogjazz selalu dihadiri tidak kurang 30.000 pengunjung.

“Sudah sebulan lebih masyarakat bersama teman-teman Ngayogjazz mempersiapkan segala kebutuhan mulai panggung, area parkir, tempat berjualan kuliner khas seperti mie lethek, serta kebutuhan untuk air bersih dan kamar kecil. Gilangharjo siap menyambut pengunjung Ngayogjazz 2018,” jelas Pardiyono saat jumpa media, Kamis (15/11) siang.

Ada lima panggung dengan nama perangkat desa yang tersebar di beberapa tempat di Desa Gilangharjo yaki panggung Kamituwa, panggung Carik, panggung Bayan, panggung Jagabaya, panggung Jagatirta, serta panggung Lurah.

Selain lima panggung pementasan musik jazz, satu panggung reriungan jazz oleh Komunitas Jazz Jogja menyambut komunitas jazz se-Indonesia, serta panggung kesenian tradisional Desa Gilangharjo, selama Ngayogjazz 2018 berlangsung  panitia menyediakan area Pasar Jazz yang menjual mulai darii produk kuliner, produk kreatif & kerajinan, merchandise artist, oleh-oleh Ngayogjazz, dll. Pesertanya adalah warga desa setempat, partner dan kolega Ngayogjazz. Seperti tahun-tahun sebelumnya panitia Ngayogjazz juga membuat program Lumbung Buku. Sebuah program donasi buku bekerja sama dengan Komunitas Jendela Jogja untuk mengumpulkan buku tulis baru dan buku cerita anak yang akan dibawa oleh pengunjung Ngayogjazz 2018.

Musisi jazz yang akan tampil pada Ngayogjazz 2018 diantaranya Kika Sprangers Quintet (Belanda), Ozma Quintet (Perancis), Rodrigo Parejo Quartet (Spanyol), Syaharani & Queenfireworks, Tohpati Bertiga, Yuri Mahatma Quartet (Feat. Astrid Sulaiman (Piano), Helmy Agustrian (Double Bass), Ib. Putu Brahmanta (Drums), Nita Aartsen Feat. Jean Sebastien Simonoviez (Perancis) & Mikele Montolli (Italia), Idang Rasjidi and His Next Generation Feat. Tompi & Margie Segers, simakDialog, MLDJazzProject Season 3, Magnitudo (MLD Jazz Wanted 2018), Brayat Endah Laras, Purwanto & Kua Etnika, Josias Adriaan & Friends, Geliga (Melayu Jazz), Huaton Dixie, Anteng Kitiran, Smara Tantra.

Sementara komunitas jazz nusantara yang akan terlibat diberbagai panggung adalah Komunitas Jazz Jogja (Conspiracy, Spirit, Jazz Mben Senen All Star, Mokshanova, Seek Stream, Heroic Karaoke), Jogja Blues Forum (Modern, Texas,Roots, Flower Generation), Gubuk Jazz Pekanbaru, Komunitas Jazz Lampung (Happy Project, Phyla), Komunitas Jazz Pekalongan (Sogan), Jes Udu Purwokerto, Jazz Ngisor Ringin Semarang (Ganteng Ganteng Saxophone), Komunitas Jazz Magelang (Tigasisi), Solo Jazz Society, Komunitas Jazz Trenggalek (We Must Not Be Named (WMNBN), Magnifico), Komunitas Jazz Ponorogo (Mrs. Holdingsky), Komunitas Jazz Surabaya (Fushion Jazz Community), serta Mahakam Jazz River Samarinda (Makna).

 


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home