Loading...
EKONOMI
Penulis: Prasasta Widiadi 20:39 WIB | Kamis, 12 Maret 2015

OJK: Lima Bank Nasional Akan Terimbas Pelemahan Rupiah

Irwan Lubis (paling kiri), Dumoly Pardede, Deputi Komisioner Pengawas Industri Keuangan Non Bank (tengah), dan Firdaus Djaelani (paling kanan), Kepala Eksekutif Pengawas Industri Keuangan Non Bank Otoritas Jasa Keuangan pada konferensi pers di Gedung Otoritas Jasa Keuangan, Jakarta, Kamis (12/3). (Foto: Prasasta Widiadi).

JAKARTA, SATUHARAPAN.COM – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai permodalan lima bank nasional akan terimbas pelemahan rupiah, apabila mencapai level Rp 15.000 per dolar Amerika Serikat (AS).

Deputi Komisioner Pengawasan Perbankan OJK Irwan Lubis mengatakan, penyataan tersebut didasarkan pada hasil stress test yang dilakukan OJK terhadap perbankan di Indonesia, namun Irwan enggan menyebutkan nama bank-bank tersebut.

"Depresiasi rupiah terhadap dolar AS jika sampai Rp 15.000 per dolar AS akan meng-hit (menghantam) permodalan satu hingga lima bank nasional," kata Irwan Lubis Irwan di Gedung Otoritas Jasa Keuangan, Jakarta, Kamis (12/3).

Berdasarkan data kurs JISDOR Bank Indonesia pada Kamis, nilai tukar rupiah kembali melemah menjadi Rp 13.176 per dolar AS, dibandingkan hari sebelumnya Rp 13.164 per dolar AS

Irwan menuturkan, terkait hasil stress-test tersebut, OJK sudah memanggil manajemen bank yang kinerjanya berpotensi terganggu oleh pelemahan rupiah.

"Kalau rupiahnya Rp 14.000 per dolar AS, bank-bank di sini masih oke," kata dia.

Rasio kecukupan modal (capital adequacy ratio/CAR) perbankan hingga akhir Januari 2015 tercatat sebesar 21,01 persen, naik dibandingkan Desember 2014 yang mencapai 19,57 persen.

Menurut Irwan, peningkatan tersebut disebabkan oleh membesarnya jumlah laba yang ditahan oleh bank. Rasio tersebut juga dinilai masih jauh lebih tinggi dari batas normal yang sebesar 14 persen.

Irwan menambahkan, jika depresiasi rupiah menembus Rp 15.000 per dolar AS, maka kondisi tersebut akan mengganggu stabilitas makro ekonomi. Variabel pertumbuhan ekonomi dinilai akan mengalami penurunan, mengikuti pelemahan rupiah.

Selain itu, lanjut Irwan, pelemahan rupiah juga akan mendorong peningkatan rasio kredit bermasalah (NPL) dan sebagian besar indikator ekonomi makro. "Kami berharap rupiah tidak tertekan lebih jauh lagi," kata Irwan. (Ant).

Editor : Yan Chrisna Dwi Atmaja


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home