Loading...
INDONESIA
Penulis: Bayu Probo 12:48 WIB | Kamis, 05 Juni 2014

Operasi Amfibi dalam Puncak Latgab TNI

Operasi Amfibi dalam Puncak Latgab TNI
Sejumlah anggota pasukan Artileri Korps Marinir TNI AL, melakukan pengukuran jarak tembakan (elevasi), untuk meriam jenis Howitzer 105 pada persiapan puncak Latihan Gabungan TNI, di Pantai Banongan, Situbondo, Selasa (3/6). Pengukuran jarak tembakan tersebut sebagai pengunci sasaran yang akan dihancurkan, saat melakukan serangan Bantuan Tembakan Utama (BTU) untuk membantu pergerakan Kendaraan Tempur (Ranpur) dan Prajurit Infantri. (Foto: Antara)
Operasi Amfibi dalam Puncak Latgab TNI
Sejumlah tank PT 76 milik Korps Marinir TNI AL melakukan manuver pada puncak Latgab TNI di Pantai Banongan, Situbondo, Rabu (4/6). Sebanyak 81 kendaraan tempur milik Resimen Kavaleri Korps Marinir dikerahkan untuk penyerangan darat lewat laut pada Latgab TNI 2014.

SITUBONDO, SATUHARAPAN.COM – Prajurit Korps Marinir TNI AL melabrak negara musuh dengan menggunakan kendaraan lapis baja (tank amfibi) dalam Latihan Gabungan (Latgab) TNI 2014 di Pantai Banongan, Situbondo, Jawa Timur, Rabu (4/6). Operasi amfibi itu merupakan acara puncak Latihan Gabungan TNI 2014.

Acara puncak Latgab TNI 2014 itu disaksikan oleh Menteri Pertahanan (Menhan) Purnomo Yusgiantoro, Panglima TNI Jenderal TNI Dr Moeldoko, Kepala Staf Angkatan Darat Jenderal TNI Budiman, Kepala Staf Angkatan Laut Laksamana TNI Dr Marsetio, dan Kepala Staf Angkatan Udara Marsekal TNI Ida Bagus Putu Dunia.

Dari menara tinjau yang berada di bibir Pantai Banongan, Menhan, Panglima TNI, Kasal, beserta rombongan menyaksikan langsung proses pendaratan amfibi oleh pasukan pendarat dari prajurit-prajurit Korps Marinir TNI Angkatan Laut yang melaksanakan Operasi Amfibi.

Sebelum Operasi Amfibi pada hari "H" jam "J", puncak latihan itu ditandai dengan gelombang pertama pendaratan yang menembus pantai, lalu proses Bantuan Tembakan Kapal (BTK) untuk menghancurkan kedudukan musuh di pantai pendaratan yang dapat menggagalkan pelaksanaan Operasi Amfibi.

Gelombang-gelombang pendaratan mulai diluncurkan dari KRI-KRI pengangkut pasukan pendarat amfibi, dimulai dengan mendaratkan satu Kompi Tank Amfibi, selanjutnya bergerak taktis menggempur kekuatan musuh di pantai.

Gelombang kedua terdiri atas Kompi Kendaraan Pendarat Amfibi (Ranratfib) yang mengangkut pasukan untuk menyerang maju bersama Kompi Tank dengan Kerja Sama Infantri Tank (KSIT) guna menduduki sasaran-sasaran yang telah direncanakan sebelumnya.

Gelombang ketiga dari unsur Ranratfib yang mendarat untuk membantu pasukan yang lebih dulu mendarat dan menghancurkan kedudukan musuh yang masih berada di sekitar pantai.

Pendaratan berikutnya adalah gelombang keempat yang terdiri atas dua unit Landing Craft Unit (LCU) dan enam unit Kendaraan Amfibi Pengangkut Artileri (KAPA) dengan unsur artileri medan yang terdiri atas dua pucuk Roket Multi Laras (RM) 70-Grad dan meriam Howitzer 105 millimeter.

Setelah mendarat, semuanya akan menempati titik stelling penembakan sesuai koordinat yang telah direncanakan, selanjutnya akan memberikan tembakan artileri medan terhadap sasaran-sasaran musuh.

Gelombang atas panggilan mendarat dengan unsur KAPA yang mengangkut empat unit Howitzer 105 mm. Setelah mendarat dan selanjutnya menuju stelling penembakan sesuai dengan koordinat yang telah ditentukan.

Setelah Howitzer masuk stelling penembakan, gelombang atas panggilan berikutnya mendarat dengan menggunakan LCU yang mengangkut dua unit RM 70 Grad setelah mendarat kemudian menuju stelling penembakan yang telah direncanakan.

Selanjutnya, tiga unit helikopter pengangkut prajurit-prajurit melaksanakan lintas helikopter ke sasaran yang bertujuan untuk merebut dan menduduki sasaran yang dapat memengaruhi dan menentukan dalam pelaksanaan perebutan tumpuan pantai pada operasi amfibi.

Berikutnya, dua unit Roket Multilaras (RM) 70 Grad dan tiga pucuk meriam Howitzer kaliber 105 mm yang telah masuk stelling akan melaksanakan penembakan secara berturut-turut yaitu tembak tinjau sebanyak empat butir akan diberikan oleh RM 70 Grad dan empat butir dari meriam Howitzer 105 mm.

Penembakan kedua adalah penembakan pelaksanaan sebanyak 76 butir dari RM 70 Grad dan 30 butir dari meriam Howitzer 105 mm. Untuk menuntaskan serbuan akan diberikan penembakan salvo terhadap sasaran sebanyak 40 butir oleh dua unit RM 70 Grad.

Pada Latgab TNI kali ini, TNI Angkatan Laut mengerahkan 33 unsur KRI, terdiri atas dua kapal markas, satu kapal selam, delapan KRI yang tergabung dalam Komando Tugas Gabungan Amfibi (Kogasgabfib), dan 22 unsur KRI yang tergabung dalam Komando Tugas Gabungan Laut (Kogasgabla).

Selain unsur kapal perang, TNI Angkatan Laut juga menerjunkan unsur pesawat udara dari Puspenerbal yang terdiri atas tiga Heli Bell yaitu HU-419, HU-410, HU-417, satu unit Bo-105 yaitu NV-411, satu Casa U-617, serta satu Angkutan Udara VIP CN 235 P-860.

Selain itu, TNI Angkatan Laut juga menerjunkan ribuan prajurit Korps Marinir TNI AL beserta material tempur Korps Marinir yang diikutkan pada latihan terbesar TNI di tahun 2014 ini. Material tempur Marinir tersebut antara lain: 7 unit LVT-7A, 8 unit BMP-3F, 9 unit Tank PT-76, 13 unit BTR-50 P, 11 unit BTR-50 PK, 6 unit Kapa-61, 8 pucuk Roket Multilaras RM 70 Grad, dan 8 pucuk Howitzer 105 mm. (Ant)


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home