Loading...
INDONESIA
Penulis: Sotyati 17:01 WIB | Selasa, 28 Januari 2014

Pascabanjir Bandang, Manado Berperang Melawan Sampah

Pascabanjir Bandang, Manado Berperang Melawan Sampah
Pembersihan sampah dengan alat berat di kawasan Toapekong, Manado. (Foto-foto: Stella Warouw)
Pascabanjir Bandang, Manado Berperang Melawan Sampah
Sampah sisa-sisa banjir bandang yang melanda Manado, pada 15 Januari, menggunung di sudut-sudut kota.
Pascabanjir Bandang, Manado Berperang Melawan Sampah
Bekerja bakti membersihkan sampah sisa-sisa banjir bandang.

MANADO, SATUHARAPAN.COM – Banjir kembali menerjang sebagian wilayah Sulawesi Utara (Sulut) pada 26 Januari, seperti diberitakan Pusat Data, Informasi, dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).  

“Hujan turun terus sepanjang Sabtu, 25 Januari, dari lebat ke gerimis, berganti-ganti,” Stella Warouw, editor pada sebuah penerbitan buku di Jakarta yang sedang berada di Manado.

Walaupun tidak sampai masuk ke dalam rumahnya di Jalan Babe Palar, genangan air memenuhi jalan di depan rumah hingga setinggi 40 cm. Pada banjir yang melanda sebelumnya, 15 Januari, air masuk ke dalam rumah Stella setinggi pinggang orang dewasa.

Walhasil, warga yang sudah membersihkan rumah akibat banjir bandang yang melanda sebelumnya, hanya bisa pasrah melihat genangan air kembali memasuki rumah pada Minggu lalu.

Hujan deras, di sebagian wilayah, disertai angin kencang, bahkan berlangsung sejak Jumat, 24 Januari pukul 19.30 Wita. Terjadi tanah longsor di Manado dan Minahasa, yang menyebabkan dua orang tewas. Di Dendengan Dalam Lingkungan 5, seperti diberitakan RRI Manado, pada Sabtu lalu itu terjadi longsor, yang menelan korban seorang perempuan bernama Welmintje.

“Jalan yang menghubungkan Manado – Tomohon tertutup. Untuk ke Tomohon dialihkan lewat Jalan Tombariri atau Jalan Tenggari, tidak melewati Jalan Warembungan, karena itu jalan perkebunan kecil,” Stella menambahkan.

Pada Sabtu pagi itu, seperti dilaporkan BNPB, juga terjadi musibah di Desa Nameng, Kecamatan Siau Barat, Kabupaten Sitaro Sulut. Sebanyak 37 orang yang berada di dalam perahu di Pantai Nameng dengan tujuan mau menuju Kota Siau tiba-tiba diterjang banjir dari anak sungai yang berasal dari pegunungan. Korban jiwa tiga meninggal, delapan selamat, dan 26 belum ditemukan.

PMI bantu Rehabilitasi

Di sela-sela kesibukan menghadapi banjir susulan, muncul imbauan kepada masing-masing pribadi, untuk terjun sebagai relawan ikut membantu mengangkut sampah untuk dibuang ke tempat pembuangan sampah akhir (TPA) Sumompo atau TPA Tingkulu.

Sampah sisa banjir bandang 15 Januari hingga kini masih menggunung di beberapa tempat di ibu kota Sulut itu. Banjir bandang pada hari Rabu itu dilaporkan menewaskan 19 warga, merendam sedikitnya 10 kecamatan, dan membuat 40 ribu warga terpaksa mengungsi.

Ketua Umum Palang Merah Indonesia (PMI) Jusuf Kalla, seperti diberitakan Antara, dalam kunjungannya ke Manado pada 20 Januari mengatakan PMI membantu rehabilitasi warga di Manado dan sekitarnya yang terkena dampak banjir bandang hingga selesai. "Artinya sampai warga kembali lagi ke rumah masing-masing," kata Jusuf Kalla di Kantor PMI Sulut, Manado.

Lima hari pascabanjir bandang, menjadi prioritas PMI melakukan pembersihan lingkungan, khususnya di Kecamatan Tikala, Pal II, Wanea, dan Singkil. Hal itu penting menyangkut masalah kesehatan. Masyarakat tidak mungkin kembali ke rumah jika kondisi rumah belum bersih.

Ia menargetkan satu minggu untuk membantu membersihkan lingkungan. Untuk membersihkan lumpur di rumah-rumah warga, didatangkan puluhan pompa air, termasuk tambahan yang didatangkan dari Makassar. PMI juga menyediakan sekop, jeriken, dan alat konstruksi.

Relawan PMI membantu membersihkan wilayah yang terkena banjir bandang di Kota Manado, Tomohon, hingga Minahasa. Posko kesehatan atau tenaga kesehatan pun ditambah.

Namun, ternyata waktu satu minggu belum cukup. Pdt Royke Lengkong, yang mewakili Sinode Gereja Masehi Injili di Minahasa (GMIM) dalam penanganan banjir di Manado, mengatakan sampah masih menggunung di mana-mana.

Itu pula sebabnya, GMIM terus menggerakkan relawan untuk terjun dalam upaya bersih-bersih itu, terutama membersihkan gereja-gereja dan sekolah-sekolah.


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home