Loading...
RELIGI
Penulis: Sabar Subekti 12:38 WIB | Kamis, 06 Maret 2014

Pemuda Kristen Mesir Berpolitik untuk Mendorong Pemerintahan Sipil

Pemuda Gereja Koptik Mesir merupakan bagian dari gerakan revolusi di Lapangan Tahrir, Kairo pada 2011. (Foto: ist)

KAIRO, SATUHARAPAN.COM –Kelompok aktivis Kristen Mesir,  Maspero Youth Union, memperingati tiga tahun perjuangan dan partisipasi mereka dalam revolusi  Mesir, pada hari Rabu (5/3) di Kairo, ibu kota Mesir.

Sejak revolusi, orang-orang Kristen Mesir mulai berpartisipasi lebih langsung dalam proses politik. "Salah satu hal utama adalah bahwa orang-orang mulai berbicara," kata Mina Elkess (28 tahun) dan salah satu pemimpin kelompok itu, seperti dikutip religionnews.com.

Kelompok aktivis pemuda Kristen  bergabung  akibat kisruh revolusi Mesir dan mereka mengupayakan masa depan dan berharap untuk membangun kebersamaan dengan  aksi di  Tahrir Square dengan memobilisasi pemuda untuk advokat yang lebih baik  bagi mereka.

Kelompok ini  dibentuk untuk memperjuangkan hak-hak sipil, menolak bersikap pasif yang dimainkan sebagian besar Kristen Koptik sebelum revolusi. Kelompok ini menyasar oang-orang muda, yang merupakan  kekuatan besar  di mana  setengah penduduk Mesir  berusia di bawah 25 tahun. Mereka juga mengajarkan advokasi untuk hak-hak mereka.

Lahir dari Revolusi

Serikat pemuda itu lahir setelah terjadinya pembakaran gereja di sebuah desa di pinggiran selatan Kairo. Kasus itu memicu demonstrasi besar di Kairo dan di Maspero, di dekat  gedung televisi negara. Serikat pemuda mengambil nama itu.


Kemudian demonstrasi digelar pada 9 Oktober 2011 dan menimbulkan kerusuhan serta memakan korban. Personel militer dengan kendaraan  lapis baja, ketika itu, menembaki demonstran yang melakukan dengan cara damai.  Puluhan orang meninggal, termasuk anggota serikat pemuda, dan lebih dari 300 orang terluka.

Setelah itu, orang-orang Kristen yang semula dipahami takut terlibat dalam politik dan sebagian besar menarik diri dari kehidupan sipil, mulai berubah. Elkess mengatakan, ketika kandidat presiden dari Ikhwanul Muslimin, Mohammed Morsi, terpilih sebagai presiden, banyak warga Gereja Koptik ingin terlibat politik.

"Sejak (pemerintahan) Morsi, banyak (warga) Koptik ingin terlibat," kata Elkess. "Banyak orang Koptik  yang khawatir tentang apa  yang akan dilakukan Ikhwanul Muslimin.”

Gereja menyambut antusiasme untuk keterlibatan politik ini. Ketika perwakilan dari serikat pemuda berbicara dengan Uskup Moussa, uskup gereja untuk pemuda, dia mendorong mereka bergerak, seperti induk burung mendorong anaknya keluar dari sarang.

"Mengapa kau bertanya padaku? " Tanya Moussa. "Anda sudah cukup dewasa untuk mengambil posisi Anda," kata dia ketika itu. Moussa mengatakan hal itu penting untuk masa depan Gereja Koptik di Mesir bahwa orang Kristen merupakan bagian integral dari struktur masyarakat.

"Kami berusaha untuk kegiatan mereka di luar gereja di wilayah sipil untuk berinteraksi dengan saudara-saudara mereka yang Muslim," kata dia. "Gereja tidak boleh mencampuri urusan politik. Kami adalah lembaga keagamaan."

Bukan Hanya untuk Gereja

Elkess menekankan bahwa kelompok ini tidak hanya berkaitan dengan Gereja Koptik. "Kami berbicara secara umum untuk hak asasi manusia, bukan untuk orang Koptik," kata dia. "Kami adalah gerakan politik menekan pemerintah. Kami memilik cara berpikir revolusioner."

Anggota Maspero Youth Union, ada beberapa ratus, menurut pemimpinmereka, berharap untuk mengambil bagian dalam proses politik, terutama dalam pemilihan presiden dan parlemen mendatang. Kelompok ini tidak akan mendukung partai tertentu atau calon lain, tetapi ingin mendorong pemerintahan sipil nonreligius.

Patriark Gereka Koptik Mesir, Paus Tawadros II, terpilih pada bulan November 2012, telah mendorong umatnya untuk berhenti mencari gereja untuk bimbingan politik. Dia ingin anggota gereja untuk membangun keputusan sendiri.

Posisinya yang menggambar garis antara gereja dan negara, telah menjadi kesepakatan sejak awal dalam Serikat Pemuda Maspero.

Youssef Sidhom, editor koran Gereja Koptik, Watani, mengatakan hal yang mencerminkan suasana hati warga gereja saat ini. Era ketika Gereja Koptik adalah wakil utama dari kepentingan Koptik sudah berakhir, kata Sidhom." Gereja tidak akan berani melakukannya, dan orang-orang Kristen tidak mau menerimanya," kata dia.

Untuk itu, serikat baru-baru ini diadakan untuk memenuhi  harapan menjadi yang pertama dalam serangkaian tiga hari retret untuk mengajar kaum muda bagaimana untuk berpartisipasi secara efektif dalam proses politik, baik sebagai orang Mesir dan sebagai warga Koptik, kata Beshoy Tamry (25 tahun), seorang anggota dan penyelenggara acara.

Ini baik untuk bahwa Gereja Koptik memegang posisi tinggi dalam partai politik dan kursi di DPR, Tamry mengatakan, tetapi lebih baik jika mereka menggunakan posisi mereka untuk mengatasi masalah yang dihadapi umat Kristen dan minoritas agama lainnya.

Ada banyak pekerjaan yang harus dilakukan di bagian depan, dan di sanalah serikat pemuda berencana untuk mengerahkan energy secara fokus ke depan. Tugas utama adalah memerangi diskriminasi dan penganiayaan, serta agitasi terhadap kebebasan beragama. Untuk melakukan itu, bagaimanapuin Geraja Koptik lebih diperlukan dalam posisi otoritas.

"Tidak cukup untuk bergerak di jalanan," kata Elkess. "Anda perlu memiliki orang-orang yang bisa bertindak,” kata dia. (religionnews.com)


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home