Loading...
INDONESIA
Penulis: Yan Chrisna Dwi Atmaja 02:02 WIB | Kamis, 09 April 2015

Pengamat: KAA Momentum Suarakan Penghentian Konflik Timur-Tengah

Kapolda Metro Jaya Irjen Pol Unggung Cahyono (kiri) memeriksa pasukan ketika memimpin apel gelar pasukan pengamanan peringatan 60 tahun Konferensi Asia Afrika (KAA) di Kawasan Monas, Jakarta, Rabu (8/4). Polda Metro Jaya menerjunkan 4.236 personel untuk mengamankan pelaksanaan Peringatan KAA di Jakarta yang diselenggarakan pada 18-23 April mendatang. (Foto: Antara)

YOGYAKARTA, SATUHARAPAN.COM - Presiden Joko Widodo perlu memanfaatkan momentum Peringatan Konferensi Asia-Afrika di Bandung untuk menyuarakan penghentian konflik di negara-negara Timur-Tengah, kata pengamat hukum internasional Universitas Islam Indonesia Jawahir Thontowi.

"Presiden harus punya argumentasi serta sikap tegas mendorong penghentian konflik di Timur Tengah, yang paling strategis ya melalui momentum itu," kata Jawahir di Yogyakarta, Rabu (8/4).

Menurut dia, suara Indonesia masih cukup didengar, selain sebagai negara berpenduduk muslim terbesar sekaligus tuan rumah Peringatan Konferensi Asia Afrika (KAA) pada 19-24 April, juga dikenal berulang kali mampu memediasi konflik antarnegara.

"Apalagi Indonesia memiliki panggung internasional cukup lama dalam memediasi konflik, mulai zaman Presiden Soekarno hingga SBY," kata dia.

Dia mengakui konflik yang terjadi di Timur Tengah memang tidak mudah diselesaikan, karena dipicu oleh berbagai persoalan yang kompleks meliputi politik, ekonomi, dan ideologi. Apalagi negara-negara di kawasan itu dikenal memiliki kultur politik yang keras dan tidak mudah ditaklukkan.

Sebagai negara anggota Organisasi Kerja Sama Islam (OKI), Indonesia memiliki tanggung jawab moral dan politik untuk menyuarakan perdamaian di negara-negara Islam seperti Suriah, Irak, Yaman, Tunisia.

"Paling tidak bisa menjadi inisiator dengan mengajak negara-negara anggota OKI lainnya untuk memediasi konflik itu," kata dia.

Kendati demikian, dalam menyikapi konflik itu Indonesia juga diharapkan tidak terjebak berpihak pada salah satu negara yang bertikai. Sebab negara-negara yang terlibat di dalamnya sama-sama memiliki hubungan dengan Indoensia.

"Misalnya jika Indonesia berpihak pada Yaman, maka akan berhadapan dengan Iran dan kemungkinan Amerika Serikat setelah keduanya hampir mencapai kesepakatan soal nuklir," kata Jawahir. (Ant)


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home