Loading...
SAINS
Penulis: Dewasasri M Wardani 15:31 WIB | Jumat, 13 Mei 2016

Pertukaran Pelajar SMK ASEAN Ditingkatkan

Direktur SEAMEO, Gatot Hari Priowirjanto, pada acara pembukaan pembukaan 2nd High Official Meeting on SEA-TVET atau pertukaran pelajar SMK antarnegara ASEAN di Denpasar, Bali, Kamis (12/5). (Foto: kemdikbud.go.id)

DENPASAR, SATUHARAPAN.COM - Negara-negara anggota Organisasi Menteri Pendidikan Asia Tenggara, atau Southeast Asian Minister of Education Organization (SEAMEO), sepakat akan meningkatkan kerja sama di bidang pendidikan vokasi, salah satunya melalui program pertukaran pelajar sekolah menengah kejuruan (SMK). Program pertukaran pelajar itu disebut "Student Mobility", dan telah berjalan selama beberapa tahun, melibatkan ratusan siswa SMK di berbagai negara ASEAN yang belajar di negara ASEAN lainnya.

Direktur SEAMEO, Gatot Hari Priowirjanto, mengatakan, hingga saat ini sudah ada lebih dari 100 siswa SMK di Indonesia yang telah mengikuti program Student Mobility. "Jumlahnya akan kita tingkatkan lagi menjadi dua hingga tiga kali lipat," katanya saat jumpa pers pascapembukaan 2nd High Official Meeting on SEA-TVET di Denpasar, Bali, Kamis (12/5) seperti yang dikutip dari situs kemdikbud.go.id.

Hal baru yang akan diangkat dalam pertemuan tersebut adalah peningkatan kerja sama untuk mendapatkan gelar di negara lain dalam program Student Mobility itu. "Misalnya lulusan SMK dari Indonesia nanti bisa satu tahun belajar di Thailand atau di Vietnam dan Malaysia. Setelah satu tahun, anak-anak tersebut akan mendapatkan degree atau gelar dari negara yang bersangkutan," kata Gatot.

Direktur Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah (Dirjen Dikdasmen) Hamid Muhammad mengatakan, program Student Mobility sudah ada sejak tahun 2011 yang dimulai dengan negara Thailand, pada SMK di Solo, Jawa Tengah. Hingga saat ini sudah ada 135 SMK yang mengikuti program Student Mobility.

Direktur Pembinaan SMK, Mustaghfirin Amin mengakui, negara ASEAN yang paling sering bekerja sama dengan Indonesia untuk program Student Mobility adalah Thailand. 

Biasanya siswa SMK Indonesia yang belajar di Thailand selama tiga hingga empat bulan, sudah bisa menguasai bahasa Thailand, begitu juga sebaliknya dengan siswa SMK Thailand yang belajar di Indonesia, bisa berbahasa Indonesia setelah beberapa bulan belajar di Indonesia. Mustaghfirin mengatakan, salah satu tujuan dilakukannya Student Mobility adalah membangun optimisme siswa SMK dan meningkatkan sumber daya manusia terampil yang berkualitas, khususnya di bidang pendidikan menengah.

"Salah satunya untuk memberikan suatu konfidensi atau kepercayaan diri kalau kita tidak kalah di level yang kita pelajari (untuk SMK). Sedangkan di level komunikasi, ini sebagai informasi kepada negara-negara ASEAN kalau di Indonesia juga banyak tenaga terampil," kata Mustaghfirin.

Selain itu melalui program Student Mobility, setiap negara anggota ASEAN dapat bertukar  pengalaman serta berbagi praktik baik (best practice), dalam pembelajaran di bidang pendidikan vokasi.

Organisasi kerja sama negara-negara Asia Tenggara, untuk pendidikan teknik kejuruan dan pelatihan atau Southeast Asia-Technical and Vocational Education and Training (SEA-TVET), diharapkan dapat menjadi wadah untuk melakukan pertukaran pelajar ataupun mahasiswa. Juga sebagai sarana berbagi pengetahuan dan teknologi, serta memberi kesempatan magang atau bekerja di negara anggota ASEAN sebagai usaha meningkatkan kualitas tenaga terampil antarnegara anggota.

Kemendikbud Targetkan Miliki 200 SMK Program Belajar Empat Tahun  

Sementara itu, di Indonesia saat ini terdapat sekitar 100 SMK yang memiliki program belajar empat tahun. Direktur Pembinaan SMK Kemendikbud, Mustaghfirin Amin mengatakan, jumlah tersebut akan ditingkatkan menjadi 150 hingga 200 SMK.

"Kita melihat level kualitas dan kompetensi yang harus dijalani itu, dan karena banyaknya teknologi baru, maka (waktu belajarnya) harus diperpanjang. Dengan demikian ke depan angka (jumlah sekolah) juga akan diperbanyak,” kata Mustaghfirin.

Ia mengatakan, penambahan waktu belajar selama setahun itu dapat meningkatkan kualitas kompetensi serta keterampilan yang dimiliki pelajar SMK sebagai tenaga terampil. Selain itu juga bisa menjembatani atau memfasilitasi pelajar yang berada di daerah agar tidak perlu pergi jauh ke kota besar untuk melanjutkan pendidikan ke politeknik, karena SMK yang memiliki program belajar empat tahun akan tersebar di berbagai daerah.

Saat ini, kata Mustaghfirin, beberapa daerah yg sudah memiliki SMK dengan program belajar empat tahun antara lain Makassar, Pontianak, Yogyakarta, Semarang, Bandung, dan Jakarta.

"Kemristekdikti juga sudah mengakui itu (tahun keempat di SMK) sebagai pembelajaran di pendidikan tinggi untuk semester satu dan dua," kata Mustaghfirin.

Dalam pembelajaran di tahun keempat, siswa tidak perlu mempelajari mata pelajaran lain kecuali pelajaran-pelajaran yang sesuai dengan kejuruan atau keahliannya. Program keahlian atau kejuruan yang banyak menerapkan program belajar empat tahun di SMK memang kebanyakan jurusan teknik, seperti teknologi, pertanian, kelautan, dan kesehatan. Model pembelajarannya juga bergantung pada jurusan dan program keahlian. Setelah lulus, siswa akan mendapat sertifikat serta kompetensi keahlian yang bisa dipakai sebagai nilai tambah dalam mendapatkan pekerjaan, terutama dalam menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA).

"Saat ini sudah hampir 200 SMK yang bisa mengeluarkan sertifikat di level ASEAN dan kita berharap nanti bisa ditingkatkan menjadi 1.650 SMK di tahun 2019," kata Mustaghfirin.

Program SMK empat tahun ini juga bisa dimanfaatkan dunia industri atau perusahaan sebagai peluang untuk merekrut calon pekerja. Di tahun keempat, misalnya, siswa bisa praktik atau magang di industri hingga 10 bulan. Dengan begitu, siswa akan lebih berpeluang untuk memperkuat praktik di dunia kerja atau industri sekaligus meningkatkan kompetensi saat lulus nanti.

 

 

 

Editor : Sotyati


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home