Loading...
OLAHRAGA
Penulis: Moh. Jauhar al-Hakimi 11:43 WIB | Selasa, 28 Juni 2016

Piala Eropa 2016: Jangan Takut Menyerang Bale!

Babak 8 Besar: Belgia vs Wales.
Pemain Wales Gareth Bale dan Ashley Williams saling mengawal pemain Belgia Thomas Vermaelen (3) dalam pertandingan babak kualifikasi grup B Piala Eropa 2016, Selasa 16/11/2014. (Foto: dailymail.co.uk)

YOGYAKARTA, SATUHARAPAN.COM - Dalam babak 8 besar timnas Belgia dan Wales mengulang perjumpaan saat berada di grup B babak kualifikasi Piala Eropa 2016. Keduanya mewakili grup B lolos ke babak final. Belgia sebagai juara grup, sementara Wales menjadi runner up. Dalam dua kali perjumpaan, Wales memenangi pertandingan saat bermain kandang dengan satu-satunya gol yang dicetak Gareth Bale. Saat bermain di Belgia berakhir imbang 0-0.

Belgia tampil memukau di babak 16 besar saat mengalahkan kuda hitam Hungaria dengan skor telak 4-0, sementara Wales menang lebih banyak berbau keberuntungan akibat gol bunuh diri pemain Irlandia Utara, Gareth McAuley.

Apa pun hasil pertandingan terakhir, di tempat netral dalam tekanan sebuah turnamen yang salah satu harus pulang, catatan sebelumnya hanya akan menjadi sebuah catatan semata ketika di lapangan tidak mampu mewujudkan keunggulan-keunggulan di atas kertas.

Kedua kesebelasan sudah bertemu sebanyak 12 kali laga dengan saling mengalahkan. Wales memenangi 4 laga sementara Belgia meraih 5 kemenangan. Perjumpaan di babak 8 besar Piala Eropa 2016 menjadi perjumpaan kedua kesebelasan dalam babak final turnamen resmi.

Wales akan menghadapi Belgia pada 1 Juli 2016 pukul 21.00 waktu setempat atau 2 Juli pukul 02.00 WIB di Stadion Parc des Princes, Paris.

Dibanding Wales, Belgia mengalami peningkatan permainan yang cukup signifikan dengan materi pemain yang dimilikinya. Menghadapi tim kuda hitam Hungaria yang tampil mengesankan sepanjang fase grup F pada babak 16 besar, Belgia tampil mendominasi sepanjang pertandingan.

Dalam penguasaan bola yang kalah dibanding Hungaria, tercatat Hazard dan kawan-kawan melakukan 25 upaya untuk menjebol gawang Kiraly. Tercatat 14 tendangan mengarah gawang menghasilkan 4 gol tanpa balas. Jumlah kemenangan terbesar hingga babak 16 besar berakhir.

Gelandang bertenaga Vertonghen-Witsell-Nainggolan-De Bryune-Hazzard, menjadi motor pergerakan bola Belgia. Setelah sempat mengalami kebuntuan di pertandingan pertamanya saat menghadapi Italia, dalam pertandingan selanjutnya pemain-pemain Belgia langsung tancap gas setelah menemukan ritme permainannya.

Dengan menarik Nainggolan pada posisi favoritnya sebagai gelandang box to box, memberikan keleluasaan pada De Bryune dan Eden Hazard bermain lebih kreatif saat menyusun serangan. Dampak lanjutannya, Nainggolan justru bisa leluasa membantu serangan di saat tekanan dari lawan mengendur.

Wakil Inggris Raya di Babak 8 Besar

Bagi Wales, babak 8 besar Piala Eropa 2016 menjadi pencapaian terbaik menyamai pencapaian tahun 1958 saat tampil dalam putaran final Piala Dunia di Swedia. Ketika itu Wales mampu menahan imbang Hungaria, Mexico, dan tuan rumah Swedia. Dalam babak perempat final langkah Wales dihentikan Brasil yang diperkuat pemain bintang Vava, Marioa Zagalo, Pele. melalui gol tunggal bintang mudanya Pele. Brasil sendiri akhirnya keluar sebagai juara dunia setelah di final mengalahkan Swedia dengan skor 5-2.

Kemudian, 58 tahun setelah itu, Williams dan kawan-kawan membuat sejarah dalam debutnya lolos ke babak perempat final Piala Eropa 2016 setelah pada babak 16 mengalahkan sesama tim Inggris Raya, Irlandia Utara.

Kekuatan Wales saat ini adalah saat mereka berani mengambil risiko dengan bermain menyerang. Ketidakberanian bermain lepas saat menghadapi Inggris berakibat pada kekalahan yang seharusnya bisa dihindari manakala mereka tidak semata-mata terkonsentrasi pada pertahanannya setelah Bale mampu mencetak gol di babak pertama.

Belgia sendiri dalam keikutsertaan di berbagai turnamen selalu menyandang tim kuda hitam. Tidak berlebihan, mereka selalu memiliki pemain berbakat dalam setiap pergantian generasi. Piala Eropa 1980 orang tentu mengenal gelandang elegan Eric Gerets yang membawa Belgia menjadi runner up Piala Eropa 1980 dan peringkat keempat Piala Dunia 1986 bersama kiper legendaris Jean-Marie Pfaff.

Bersama Vam der Elst, pelatih Belgia, Marc Wilmots, menjadikan Belgia salah satu timnas yang disegani lawan-lawannya. Saat ini tim Setan Merah dipenuhi dengan kumpulan pemain berbakat terbaik sepanjang yang pernah dimiliki timnas Belgia. Tidak berlebihan banyak pihak menyebutnya sebagai generasi emas Belgia.

Di lini belakang trio Vermaelen-Alderweireld-Vertonghen adalah andalan di masing-masing klubnya, Hotspur dan Barcelona. Di barisan gelandang diisi pemain energik yang merumput di klub-klub elite Eropa, Nainggolan (AS Roma), De Bryune (Manchester City), Eden Hazard (Chelsea), Fellaini (MU).

Di barisan penyerang Belgia, ada Dries Mertens yang membela Napoli, Romelu Lukaku (Everton), Benteke, dan Divock Origi (Liverpool), dan Michy Batshuayi (Marseille). Di bawah mistar ada dua penjaga gawang tangguh Courtois (Chelsea) dan Simon Mignolet (Liverpool).

Secara head to head pemain kedua kesebelasan, Belgia unggul hampir di semua lini. Menghadapi barisan energik-kreatif Vertonghen-Witsell-Nainggolan-De Bryune-Hazard, duet Bale-Ramsey masih memerlukan dukungan penuh dari lini tengah lainnya. Tanpa itu kedua pemain Wales ini akan bermain sendirian dalam kepungan Hazard dkk. Rep. Irlandia yang sempat merepotkan Prancis di babak pertama, di hadapan gelandang Belgia dibuat bertekuk lutut 3 gol tanpa balas.

Jika mengamati grafik penampilan timnas Belgia, jangan biarkan Eden Hazard dan kawan-kawan melakukan serangan dengan hanya diantisipasi dalam permainan bertahan total. Hungaria merasakan pil pahit kebobolan 3 gol dalam 12 menit.

Satu-satunya jalan bagi Bale dan kawan-kawan untuk mengimbangi Belgia adalah dengan bermain lepas dalam serangan bola-bola atas yang menjadi ciri khasnya dan menutup pergerakan pemain Belgia dengan serangan yang sama. Dengan cara itulah Italia mengalahkan barisan gelandang energik Belgia.

 

Perkiraan susunan pemain:

Belgia (4-2-3-1) : Courtois (gk), Vermaelen, Jordan Lukaku, Alderweireld,  Vertonghen/Dembele, Witsell/Nainggolan, De Bryune, Hazzard, Fellaini, Mertens, R. Lukaku/Benteke. | pelatih: Marc Wilmots

Wales (5-4-1):  Hennessey (gk), Gunter, Chester, Williams (c), Davies, Taylor, Allen, Edwars/King, Ramsey/Ledley, Bale, Robson Kanu/Williams. | pelatih: Chris Coleman

Editor : Sotyati


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home