Loading...
RELIGI
Penulis: Endang Saputra 15:14 WIB | Minggu, 23 Oktober 2016

PKB: Santri Merupakan Aset Besar Bangsa Indonesia

Ribuan santri dari berbagai pondok pesantren di berbagai wilayah di Jakarta dan sekitarnya berkumpul bersama di lapangan Monumen Nasional (Monas) Jakarta, Sabtu (22/10) untuk menggelar upacara dalam rangka memperingati Hari Santri Nasional ke-2 bertajuk Merajut Kebhinnekaan dan Kedaulatan Indonesia yang dihadiri oleh Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Said Aqil Siradj dan sejumlah Menteri Kabinet Kerja, Tokoh Lintas Agama, Wakapolri Komjen Polisi Syafruddin, dan juga Ormas Islam. (Foto: Dedy Istanto)

JAKARTA, SATUHARAPAN.COM – Sekretaris Jendral DPP Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Abdul Kadir Karding mengatakan bahwa santri merupakan aset besar bangsa Indonesia.

Jumlah santri, kata Abdul yang mencapai jutaan dengan sebaran hingga ke berbagai daerah merupakan potensi yang terlalu sayang untuk tidak dioptimalkan.

“Santri dengan karakternya yang adaptif, ulet, dan tekun berjuang bisa menjadi aktor penting memajukan bangsa dan menjawab persaingan global,” kata Karding kepada wartawan, di Jakarta, hari Minggu (23/10).

Menurut Karding para santri hidup dalam tempaan keprihatinan. Mereka tidak saja dibekali ilmu agama dan pengetahuan umum, namun juga pendidikan moral serta budi pekerti.

“Sehingga tidak berlebihan jika santri dijadikan sebagai salah satu tulang punggung dalam menghadapi Masyarakat Ekonomi Asean (MEA), mewujudkan revolusi mental, dan melaksanakan program nawacita pemerintahan Jokowi-JK,” kata dia.

Untuk memulai langkah itu pemerintah bisa mengawalinya dengan cara menguatkan pesantren sebagai institusi pendidikan bangsa. Pesantren sebagai kawah candradimuka para santri perlu mendapat dukungan nyata baik secara moriil, materiil, maupun legislasi.

Masyarakat Indonesia, khususnya kaum santri, patut berterimakasih kepada Presiden Joko Widodo atau Jokowi  yang berani menetapkan 22 Oktober sebagai Hari Santri. Setelah cukup lama terpinggirkan dari narasi sejarah resmi, kini peran santri kembali meruap ke permukaan.

Pemilihan tanggal 22 Oktober sebagai hari santri tidak terlepas dari konteks historis yang melingkupinya. Ketika itu, 22 Oktober 1945, sebelum revolusi fisik meletus pada tanggal 10 November 1945 di Surabaya, Hadlratussyaikh KH Hasyim Asy’ari mengeluarkan fatwa jihad yang dikenal dengan sebutan Resolusi Jihad NU. Inti dari fatwa ini adalah perjuangan melawan Belanda merupakan jihad fisabilillah yang wajib dilakukan kaum muslimin. Berkat fatwa ini lah perlawanan rakyat mempertahankan kemerdekaan dari agresi Belanda berkorbar kencang.

Menurut Karding, keputusan presiden tersebut merupakan wujud nyata penghargaan negara atas eksistensi dan kontribusi kaum santri yang sebelumnya terabaikan. Hari Santri menjadi penegasan bahwa santri bukanlah kaum pinggiran dalam dunia pendidikan di Tanah Air. Suara santri, juga perlu didengar dalam wacana pembangunan.                       

Editor : Yan Chrisna Dwi Atmaja


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home