Loading...
INDONESIA
Penulis: Endang Saputra 20:02 WIB | Rabu, 21 September 2016

PKS: Pemilu di Indonesia Terlalu Liberal

Ketua Fraksi PKS Jazuli Juwaini. (Foto: Dok.satuharapan.com/ Endang Saputra)

JAKARTA, SATUHARAPAN.COM – Fraksi PKS DPR mengajukan evaluasi bahwa demokrasi dan Pemilu yang berjalan di Indonesia terlalu liberal.

Hal itu berakibat pada proses Pemilu dan kepemimpinan yang dihasilkan belum mencerminkan karakter bangsa yang berketuhanan, berprikemanusiaan, dan yang mengedepankan persatuan serta keutuhan Indonesia untuk mewujudkan kesejahteraan rakyat.

“Diperlukan desain Pemilu yang semakin baik dalam aspek demokrasi, efektivitas, dan efisiensinya sehingga mampu hadirkan pemimpin di eksekutif dan legislatif yang memiliki kapabilitas, integritas, dan loyalitas kepada bangsa,” kata Ketua Fraksi PKS DPR, Jazuli Juwaini di Ruang Rapat Fraksi PKS, Gedung Nusantara I, Jakarta, hari Rabu (21/9).

Juwaini mengatakan, Fraksi PKS DPR ingin menggagas Pemilu ideal dengan perbaikan instrumen di dalamnya yaitu pemilih, calon pemimpin, penyelenggara Pemilu, dan regulasi.

Dia juga meminta penyelenggara Pemilu untuk membuat regulasi terkait kegiatan promosi calon sehingga harus diatur secara tegas.

“Hal itu agar terwujud keadilan dan proporsionalitas dalam mempromosikan kontestan sehingga harus diatur dengan tegas,” kata dia.

Jazuli juga menegaskan, Indonesia harus berani mengoreksi praktik demokrasi dan Pemilu liberal yang selama ini berjalan, untuk mewujudkan demokrasi yang semakin bermakna dan berkarakter.

Sementara itu, Wakil Ketua Komisi II DPR, Almuzzammil Yusuf, mengatakan, perlu mengkaji ulang sistem proporsional terbuka dalam sistem Pemilu Indonesia.

Hal itu menurut dia karena sistem itu dengan menggunakan prinsip suara terbanyak memiliki banyak persoalan yang substansial.

“Sistem iu melahirkan kompetisi yang sengit antar calon legislatif dalam satu partai politik sehingga saling menjatuhkan. Sistem ini mendorong tiap calon legislatif berlomba-lomba menggunakan politik uang,” kata dia.

Sistem proporsional terbuka menurut dia, mendorong sejumlah partai politik akhirnya mengambil jalan pintas dengan menerapkan strategi merekrut selebriti menjadi calon legislatif. Dia menilai hal itu berdampak pada mengedepankan popularitas daripada kredibilitas dan kapabilitas calon legislatif. (Ant)                                  

Editor : Diah Anggraeni Retnaningrum


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Edu Fair
Back to Home