Loading...
INSPIRASI
Penulis: Woro Wahyuningtyas 01:00 WIB | Senin, 04 Januari 2016

Ringan Melangkah ke Depan

Semuanya menjadi ringan saat hidup tak menyimpan amarah dan dendam.
Melangkah lagi (foto: istimewa)

SATUHARAPAN.COM – Tahun baru telah kita lewati. Sejumlah harapan menyertainya. Berbagai koreksi atas yang telah lalu mendasari seluruh asa. Ada luka, tangis, kecewa, sakit, marah, bahkan dendam yang mewarnai perjalanan hidup kita. Lalu, apakah semuanya itu akan kita pertahankan? Tentu tidak! Paling tidak itu bagi beberapa orang yang bercakap dengan saya.

Tahun baru beserta harapannya tentu membawa semangat perbaikan. Semangat lebih baik. Berharap luka, tangis, kecewa dan sakit tidak akan pernah terulang. Sehingga, marah dan dendam akan sirna dengan sendirinya. Benarkah sulit menyingkirkan marah dan dendam atas berbagai peristiwa dalam hidup kita? Setiap pribadi pasti akan punya pengalaman berbeda, tetapi paling tidak ada pembelajaran sama yang bisa menjadi pengetahuan. Benarkah menoleh ke belakang (masa lalu) adalah sebuah tindakan yang tidak disarankan?

Mc. Cullough dkk  (1997) mengungkapkan bahwa memaafkan dapat dijadikan seperangkat motivasi untuk mengubah seseorang untuk tidak membalas dendam dan meredakan dorongan untuk memelihara kebencian terhadap pihak lain yang menyakiti serta meningkatkan dorongan untuk konsilasi hubungan dengan pihak yang menyakitkan. Worthington dan Wade (1999) menyetujuai pendapat yang mengatakan bahwa secara kesehatan memaafkan memberikan keuntungan psikologis, dan memaafkan merupakan terapi efektif dalam intervensi yang membebaskan seseorang dari kemarahannya dan rasa bersalah.

Paling tidak, itu yang sudah dilakukan lelaki panutan dalam keluarga kami. Menerima dengan lapang dada bahwa benar 11 tahun adalah waktu panjang. Rentang waktu yang menyakitkan. Asing dari keluarga dan sanak saudara. Kesakitan fisik pun tiada terukur pada zaman itu.

Saya begitu heran, bagaimana beliau dengan mudah memaafkan orang yang menyebabkan penderitaan selama 11 tahun itu berlangsung. Sependek ingatan saya yang masih terekam dalam memori, sejak saya berumur 7 tahun beliau sudah berinteraksi dengan orang tersebut. Hal ini bertolak belakang dengan sikap istrinya, ibu saya. Dalam sebuah interaksi, saya melihat bapak saya santai dan ringan dalam bercakap dengannya. Saya membaca ada sebuah kecanggungan dari orang tersebut di beberapa kesempatan. Tutur bahasa orang tersebut sangat santun dan seperti terlihat sopan serta menghormat.

Penerimaan akan masa sakit itu diambil oleh bapak saya dengan segala bentuk kesadaran. Marah, benci, dan dendam tidak menyelesaikan persoalan. ”Toh, semua sudah dilewati.” Itulah penggalan kalimatnya. Baginya, memaafkan akan membuat memori buruk pada masa lalu akan berkurang. Ingatan akan hal buruk juga dapat dikurangi. Lebih lanjut beliau sering mengatakan bahwa dendam adalah bagian berat dari masa lalu yang akan menghambat jalan hidup ke depan. Beliau ingin ringan melangkah ke depan, sehingga keputusan memaafkan dan menghilangkan dendam diambilnya.

Keringanan langkah bapak saya dalam menjalani hidupnya adalah pembelajaran baik. Hatinya senantiasa sukacita dalam menghadapi persoalan dan tantangan yang ada di depannya. Karena semua akan menjadi ringan saat hidup tak menyimpan amarah dan dendam.

Email: inspirasi@satuharapan.com

Editor : Yoel M Indrasmoro


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home