Loading...
INDONESIA
Penulis: Yan Chrisna Dwi Atmaja 19:03 WIB | Rabu, 12 Maret 2014

Rizal Ramli: 10 Tahun Terakhir Tercipta Orde Pencitraan

Rizal Ramli (kiri) bersama para capres konvensi rakyat lain dalam debat terbuka Capres Konvensi Rakyat di Jakarta Rabu (12/3). (Foto: Elvis Sendouw)

JAKARTA, SATUHARAPAN.COM - Bakal calon presiden peserta Konvensi Rakyat Rizal Ramli mengatakan selama 2009-2014 atau sepuluh tahun di Indonesia tercipta orde pencitraan yaitu citra pemerintah baik di media massa namun yang sesungguhnya tidak sesuai kenyataan.

"Sepuluh tahun terakhir adalah orde citra, bagus di televisi seperti sinetro namun 80 persen rakyat kita masih miskin," kata Rizal dalam debat calon presiden konvensi rakyat di Jakarta, Rabu (12/11).

Dia mengatakan orde pencitraan itu hanya bagus di media saja namun tidak mampu membangun apa yang diharapkan oleh masyarakat.

Rizal memberi contoh saluran irigasi yang seharusnya bisa dimanfaatkan bagi pertanian namun tidak dibangun oleh pemerintah.

"Indonesia harus membangun orde kedaulatan yang berdaulat dalam segala bidang bukan orde citra," katanya.

Rizal mengatakan masyarakat ingin membangun Indonesia yang demokratis namun ketika hal itu mulai terwujud malah dibajak oleh kekuatan uang dan negara. Hal itu menurut dia menyebabkan rakyat tidak mendapatkan apa-apa dan para politisi serta pejabat yang diuntungkan.

"Kita ingin Indonesia yang demokratis namun ketika demokrasi tiba malah dibajak oleh kekuatan uang dan negara," ujarnya.

Dia menjelaskan ada beberapa hal yang harus diubah seperti sistem pendanaan partai politik yang seharusnya dibiayai oleh negara.

Pembiayaan partai oleh negara itu, menurut dia, akan lebih baik dari pada setiap tahun parpol korupsi APBN sebesar Rp60 triliun.

"Pembiayaan partai oleh negara agar terwujud caleg yang intelek dan mampu membangun Indonesia," katanya.

Selain itu dia menegaskan apabila Indonesia mau maju maka hukum harus ditegakkan dan dilaksanakan. Hal itu menurut dia agar demokrasi yang sedang berjalan memiliki manfaat bagi rakyat bukan hanya dinikmati pejabat dan politisi seperti yang terjadi saat ini.

Peserta konvensi rakyat yang lain Tony Ardie dalam debat itu menilai pembangunan di Indonesia harus memiliki kemauan politik dari pemerintah yang berkuasa. Menurut dia, tanpa kemauan politik itu maka akan sulit pembangunan berjalan di Indonesia.

Selain itu menurut dia saat ini sulit untuk mendapatkan pemimpin yang tulus dan jujur bagi rakyat. (Ant)


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home