Loading...
INSPIRASI
Penulis: Tjhia Yen Nie 01:00 WIB | Minggu, 10 Agustus 2014

Satu Detik Saja

Foto: rumahsakit.unair.ac.id

SATUHARAPAN.COM – ”Bangunlah, Nak… satu detik saja, bangun… Sayang,” tangisan lirih seorang Ibu di UGD sebuah rumah sakit yang baru saja kehilangan putranya itu memilukan hati. Putra sulung yang saat pagi masih berangkat ke sekolah, didapati sudah tiada beberapa jam berikutnya, siapa yang sanggup melukiskan duka Sang Ibu?

Saat itu saya terpaku, memejamkan mata, terlintas bayangan peristiwa setahun yang lalu, di ruang UGD rumah sakit lain, Van Van, seorang anak berusia 10 tahun, menangis menggerung di samping Mamanya yang koma: ”Bangun, Ma… ini Van Van, bangun Ma… satu detik saja, bangun, lihat Van Van.” Tetapi, Sang Mama yang sehari sebelumnya masih memasak untuk dia, tidak juga bangun. Sampai akhirnya tiada, dengan masakannya yang masih ada di kulkas.

”Satu detik saja.”  Kalimat itu menggema dalam pikiran saya. Tidak ada yang dapat menukar satu detik saja tatapan dan senyuman buah hati kita. Dapatkah saya bersyukur dengan detik-detik kebersamaan saya dengan buah hati saya?  Karena siapakah yang dapat mengetahui satu detik saja rancangan Sang Pencipta.

Dan pagi ini, saya sengaja berlama-lama menyisir rambut anak saya, sambil berbisik dalam hati: ”Akan kuhitung detik-detik di antara kita, setiap detik adalah keajaiban yang tidak dapat ditukar dengan apa pun.  Biarlah langit menjadi kanvasnya dan bintang serta bulan menjadi cat yang melukiskan detik-detik kita.”

 

Editor: ymindrasmoro

Email: inspirasi@satuharapan.com


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home