Loading...
INSPIRASI
Penulis: Katherina Tedja 01:00 WIB | Jumat, 09 Januari 2015

Sebuah Tepukan di Bahu

Tepukan di bahu dari siapa yang sesungguhnya kita inginkan?
Foto: istimewa

SATUHARAPAN.COM – Awal tahun adalah waktu yang tepat untuk kembali menyusun prioritas. Sekali lagi kita bertanya dalam diri: Apakah yang paling saya inginkan di dalam hidup? Apakah yang sungguh-sungguh penting bagi saya?

Apakah kekayaan, kedudukan, atau kasih sayang? Banyak orang mengejar kekayaan dan kehormatan hanya demi kasih sayang, pengakuan, dan penerimaan… sebuah tepukan di bahu! Dipikir-pikir… pada akhirnya… itulah sesungguhnya yang diinginkan banyak orang.

Lalu… tepukan di bahu dari siapa yang sesungguhnya kita inginkan?

Dahulu sekali, sebagai seorang balita, tidak ada yang lebih menyenangkan dan membanggakan daripada ketika saya menerima senyuman dan pujian dari Ayah dan Ibu. Namun itu tidak berlangsung lama…. Seiring waktu… Ayah dan Ibu bukan lagi seluruh dunia saya, dan pujian dari mereka tidak lagi menjadi yang terpenting buat saya.

Ketika saya masuk TK, ada seorang wanita muda yang cantik… saya memanggilnya Ibu Guru. Tepukan di bahu dari beliaulah yang paling saya inginkan… dan untuk itu saya harus bersaing dengan ke dua puluh rekan sekelas saya.

Kemudian Ibu Guru cantik itu meninggalkan kehidupan saya, digantikan dengan sejumlah Bapak dan Ibu Guru yang mengisi derap langkah saya… segera saja posisi mereka digantikan pula oleh para atasan di kantor. Dan saya mendapati diri saya berjuang membanting tulang untuk sekadar mendapatkan sedikit penghargaan dari mereka… dan tentu saja… dari pemilik perusahaan, kalau bisa.

Sungguh hidup yang melelahkan… namun juga hidup yang sangat menarik. Menarik karena saya selalu bertanya-tanya, kepada siapa semua upaya saya akan ditujukan sekarang ini? Melelahkan karena ternyata prioritas saya berganti-ganti, Ayah dan Ibu, tidak… Ibu Guru… bukan… The Big Boss… tidak… Ayah dan Ibu… bukan… para dosen penguji….

Itu terjadi bukan karena saya adalah orang yang tidak setia… tetapi demikianlah alur hidup membawa saya. Kebersamaan saya dengan orangtua saya telah berakhir, dan saya bisa memberikan jumlah tahun yang pasti. Begitu juga kebersamaan dengan guru-guru saya di TK… SD… SMP… SMU… Perguruan Tinggi… Atasan-atasan saya di perusahan ABC… dan di firma XYZ….

Saya bertanya-tanya, berapa lama kebersamaan saya saat ini dengan para mahasiswa dan para klien saya akan berlangsung….

Hingga akhirnya saya menemukan sebuah kebersamaan yang akan berlangsung panjang, bahkan abadi, pada sosok Sang Pencipta. Bayangkan… Dia yang merancang kehidupan saya dan meletakkan saya di rahim ibu saya. Dia yang berjalan bersama saya di dalam kembara kehidupan yang tidak saya ketahui ujungnya ini. Dia pula yang akan menyambut saya pada dunia yang lain… ketika kelak semua tugas telah saya selesaikan

Ya, dari Dia saja, Sang Penguasa Semesta, saya ingin mendapatkan sebuah tepukan di bahu.

 

Editor: ymindrasmoro

Email: inspirasi@satuharapan.com


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home