Loading...
INSPIRASI
Penulis: Drijanto Mestoko 06:15 WIB | Jumat, 19 Juni 2015

Seribu Lilin untuk Angeline

Nyalakan lilin di dalam hati kita masing-masing untuk memberikan terang sehubungan dengan perlakuan kepada anak.
Foto: istimewa

SATU HARAPAN.COM – Belum hilang dari ingatan peristiwa penelantaran anak oleh keluarga yang berkecukupan di wilayah Jakarta, tiba-tiba kita dikejutkan oleh berita ditemukannya jasad Angeline, anak perempuan berusia 8 tahun, menyusul berita hilangnya anak tersebut di media sosial yang diunggah kakak angkatnya. Kondisinya mengenaskan.  Di samping sudah membusuk, juga terlihat tanda-tanda yang jelas bahwa Angeline dibunuh.

Sungguh tragis hidup Angeline. Karena orangtuanya tak sanggup membayar biaya rumah sakit, dan kebetulan ada keluarga ekspatriat yang bersedia membayar serta mengadopsinya, maka ibunya menyerahkan dirinya kepada keluarga ekspatriat itu dan pulang ke kampung halamannya di daerah Banyuwangi.

Ternyata, nasib Angeline tidak seperti yang dibayangkan ibunya. Alih-alih hidup bahagia dan berkecukupan, Angeline justru mengalami perlakuan buruk. Dia hidup di lingkungan kotor dan bau kotoran ayam, kucing dan anjing. Untuk bersekolah pun, dia harus menempuh jarak kurang lebih 6 km dengan berjalan kaki, dan tiba di sekolah selalu terlambat serta dalam keadaan lusuh dan berbau kurang sedap sehingga tidak jarang wali kelasnya memandikan dia. Tak jarang gurunya membelikan makanan untuk Angeline yang terlihat sangat lemas dan kelaparan. Dia sering terlambat ke sekolah bukan saja karena jarak yang jauh bagi anak seumurannya, tetapi karena harus memberi makan ayam piaraan ibu angkatnya yang kurang lebih 50 ekor ayam! Sungguh jauh dari bayangan bahwa Angeline adalah seorang anak angkat dari keluarga ekspatriat.

Untuk mengenang Angeline, diadakanlah aksi ”Seribu Lilin Untuk Angeline”. Bukan saja mengenang Angeline, tetapi juga mengingatkan kita bahwa masih banyak angeline-angeline yang lain yang juga mengalami perlakuan buruk, baik dari orangtuanya sendiri maupun dari orangtua angkatnya, angeline-angeline lain yang memerlukan perlidungan baik dari pemerintah maupun swasta, bahkan dari kita semua yang menyaksikan atau mengetahui tindalan kekerasan kepada anak di sekitar kita.

”Seribu Lilin Untuk Angeline” mengingatkan dan mengajak kita untuk proaktif dalam pelaksanaan Undang-Undang Perlindungan Anak. Dengan aksi tersebut, Kita juga diingatkan dengan sebuah pesan yang disampaikan Kitab Suci: ”Barangsiapa menyambut seorang anak seperti ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku”. Oleh sebab itu, sambut setiap anak-anak kita, baik anak sendiri maupun anak adopsi, dengan penuh suka cita dan ucapan syukur kepada Tuhan.

Marilah kita menyalakan ”Lilin” di dalam hati kita masing-masing, untuk memberikan terang dalam hati kita sehubungan dengan perlakuan kepada anak—baik anak sendiri maupun anak angkat!

 

Editor: ymindrasmoro

Email: inspirasi@satuharapan.com


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home