Loading...
DUNIA
Penulis: Sabar Subekti 12:05 WIB | Kamis, 17 Oktober 2019

Sudan Umumkan Gencatan Senjata Permanen

Perdana Menteri Sudan, Abdalla Hamdok (kiri), dan Presiden Sudan Selatan, Salva Kiir Mayardit, berjabat tangan sebelum bertemu pada 12 September 2019. (Foto: dari AFP)

JUBA, SATUHARAPAN.COM -  Sudan mengumumkan "gencatan senjata permanen" di tiga zona perang di negara itu, meskipun ada satu kelompok pemberontak yang mengancam akan menarik diri dari perundingan damai dengan menuduh pasukan pemerintah membom wilayahnya.

Kota Juba telah menjadi tuan rumah pembicaraan damai antara pemerintah Perdana Menteri yang baru, Abdalla Hamdok, dan delegasi dari dua kelompok pemberontak  di Darfur, Nil Biru dan Kordofan Selatan, yang bertempur melawan pasukan Presiden Omar al-Bashir yang telah digulingkan.

Pembicaraan damai dilakukan pada hari Senin (14/10), tetapi pemberontak Gerakan Pembebasan Rakyat Sudan Utara (SPLM-N) mengatakan bahwa mereka akan mundur kecuali jika pemerintah menarik diri dari suatu daerah di pegunungan Nuba.

Kelompok itu mengatakan bahwa selama 10 hari terakhir pasukan pemerintah terus melakukan serangan terhadap wilayahnya meskipun ada gencatan senjata tidak resmi.

Pada hari Rabu (16/10) malam, kepala dewan penguasa Sudan, Jenderal Abdel Fattah al-Burhan, mengumumkan gencatan senjata permanen di tiga zona konflik itu.

"Jenderal Abdel Fattah al-Burhan telah mengumumkan gencatan senjata permanen untuk menunjukkan bahwa pemerintah berkomitmen untuk perdamaian," kata dewan berdaulat dalam sebuah pernyataan, seperti dikutip AFP.

"Gencatan senjata itu valid dari penandatanganan deklarasi ini." Sementara gencatan senjata tidak resmi telah terjadi sejak Bashir digulingkan oleh tentara pada bulan April dalam kudeta istana menyusul protes nasional terhadap pemerintahannya yang telah berlangsung puluhan tahun.

Dewan kedaulatan bersama sipil-militer sekarang berkuasa di Sudan dan ditugaskan untuk mengawasi transisi negara itu ke pemerintahan sipil seperti yang diminta oleh para pemrotes.

Pemerintah transisi yang baru siap melaksanakan urusan sehari-hari di negara itu dan telah memimpin pembicaraan damai di Juba, ibukota Sudan Selatan, dengan kelompok-kelompok pemberontak.

Pertumpahan darah di tiga negara bagian itu telah menewaskan ratusan ribu orang dan jutaan orang terlantar, yang pada gilirannya berdampak buruk pada perekonomian negara di Afrika timur laut itu. 

Editor : Sabar Subekti


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home